Pernah saya ditanya, bagaimana cara menyikapi pertengkaran bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Sebenarnya, jauh atau dekat sama saja untuk konsep pertengkaran ini. Siapa saja bisa mengalaminya.

Pernikahan pasti tidak selalu berjalan mulus. Riak-riak pertengkaran bisa selalu hadir kapan saja. Apakah itu karena perbedaan pendapat, ego, curiga, atau hal lainnya. Hal kecil dan sepele bisa menjadi sumber masalah yang dapat memicu pertengkaran.

Pertengkaran sebenarnya tidak perlu terjadi dan sebisa mungkin harus dihindari dalam pernikahan. Tidak pernah ada kejadiannya, pertengkaran bisa menghadirkan kebahagiaan dalam pernikahan, bukan? 

Pertengkaran juga bukan solusi menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan masalah, pertengkaran justru menambah masalah baru. Hubungan dengan pasangan menjadi terganggu, bila pertengkaran terlihat anak akan tidak baik untukpsikologisnya, dan keberkahan dalam pernikahan bisa tercabut saat seseorang terbiasa melampiaskan nafsu amarahnya. 

Jadi, pertengkaran harus dihindari. 

Lalu, bila seseorang merasa tidak nyaman dengan sikap atau perilaku pasangannya, apa yang harus dilakukan?

Pertama, Berbaik Sangka
Kenyataan seringkali tidak seburuk apa yang dipikirkan manusia. Pikiran yang penuh prasangka ditambah dengan hati yang gelisah rentan sekali membuka pintu syetan masuk dan membumbui suatu persoalan yang kecil menjadi besar.

Berbaik sangka adalah langkah awal yang harus dilakukan dalam menyikapi setiap persoalan dalam rumah tangga. Jangan menduga yang bukan-bukan pada pasangan sendiri. Jauhi prasangka, budayakan berbaik sangka. Itu akan menentramkan hati dan membuat pikiran menjadi jernih dalam memandang suatu persoalan.

Kedua, Tenangkan Hati
Permasalahan dengan pasangan tentu akan membuat hati menjadi tidak tenang, gelisah, marah, dan berpenyakit. Masalah tidak akan terselesaikan dengan baik bila dihadapi saat marah.

Tenangkan hati dengan mengingat Allah. Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Alihkan pikiran dari masalah yang ada dengan berdzikir, baca Al-quran dan terjemahannya, sholat sunnah, atau amalan ibadah lainnya. Saat hati sudah tenang, solusi pun akan datang.

Ketiga, Saling Memahami
Pria dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. Pria cenderung akan menyendiri dan berdiam diri bila sedang ada masalah. Ia akan merenung dan berpikir apa sebab masalahnya dan bagaimana solusi yang harus dilakukan. Berbeda dengan pria, kaum wanita justru butuh teman saat sedang ada masalah. Ia butuh mencurahkan perasaannya dengan bercerita. Sehingga kaum wanita butuh telinga untuk mendengarnya dan sentuhan, misal pelukan hangat dari pasangannya, untuk bisa segera meredakan kegundahannya.

Perbedaan pria dan wanita itu juga akan mempengaruhi karakter suami dan istri dalam sebuah pernikahan. Saling memahami perbedaan yang ada akan membuat persoalan bisa diselesaikan lebih cepat. Bila istri sedang merajuk, maka suami melakukan pendekatan dengan memeluk dan memberinya ruang untuk berbicara. Bila suami yang sedang merajuk, maka istri memberinya ruang untuk sendiri dan menenangkan dirinya atau melakukan hal yang ia sukai.

Belajar saling memahami karakter satu sama lain akan memudahkan pasangan untuk bisa menghadapi berbagai persoalan dalam pernikahan dengan lebih tepat dan cepat.

Keempat, Komunikasi
Masalah yang hanya dipendam tentu akan sulit untuk selesai. Selain membuat hati tidak nyaman, memendam masalah juga tidak baik bagi kesehatan serta hubungan dengan pasangan. Dapat menjadi gunung es yang bisa meledak sewatu-waktu dengan dampak yang lebih besar. Semakin besar dampaknya tentu akan semakin sulit penyelesaiannya.

Membangun komunikasi yang baik, lancar dan terbuka dengan pasangan adalah salah satu kunci keharmonisan dalam pernikahan. Jangan ada yang dirahasikan. Keterbukaan menjadi resep bahagiadaam rumah tangga. Bicarakan dari hati ke hati saat ada masalah yang mengganjal. Sampaikan dengan lembut dan penuh cinta. Bukan dengan cacian, makian, atau sumpah serapah.

                Kata-kata yang baik ibarat pohon, akarnya kuat tertanam, cabangnya menjulang tinggi, daunnya meneduhkan, dan buahnya bermanfaat. Pastikan agar dalam berkomunikasi dengan pasangan selalu menggunakan kata dan  bahasa yang baik dan santun.

Tidak ada pembenaran bahwa saat marah atau tidak nyaman, seseorang berhak berkata kasar.  Dalam agama pun kita sudah diajarkan "Berkata baik atau lebih baik diam."

***

Pertengkaran dengan pasangan TIDAK PERLU TERJADI bila setiap diri mampu menjaga diri, hati, pikiran, dan perasaannya selalu dalam kebaikan.

Tetaplah dalam kebaikan walau berada di sekitar keburukan. Tetaplah menjadi cahaya walau dalam kegelapan. Tetaplah jadi diri yang Terbaik.

Pernikahan sungguh ikatan yang sangat berharga. Jangan biarkan ternodai oleh pertengkaran. Hiasi pernikahan kita dengan kebahagiaan.

***

Allah pertegas dalam Qs. Al-Mu'minun 96: "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik."

Jadi saat mendapati ada kesalahan pada pasangan, jangan dibalas dengan amarah atau perbuatan yang bisa-bisa lebih buruk dari kesalahan yang dilakukan pasangan. Tentu itu tidak mendidik dan sikap yang salah. Perbuatan salah disikapi dengan salah jadi keduanya sama saja salah.

Empat tips yang sudah disampaikan lewat web tadi insya Allah akan sangat membantu untuk menenangkan hati dan menjadi jalan keluar saat bermasalah dengan pasangan.

Hindari pertengkaran, Selesaikan setiap persoalan dengan Tenang.

Terima kasih
Sukmadiarti Perangin-angin 🤗😇


View Post


Seringkali orangtua protes, merasa kesal karena anaknya sulit diatur, ngeyel, dan suka membantah. Bolak-balik orangtua harus mengelus dada atau mengusap air matanya karena menahan rasa kesal akan sikap anak-anak yang tidak sesuai harapannya.

Tanpa sadar, orangtua seringkali menempatkan dirinya yang benar, dan anak yang salah. Akibatnya, sikap yang terbentuk adalah mengeluh dan menghakimi anak.

Bagaimana kalau posisinya dibalik?
Orangtua mengubah cara pandangnya. Bila ada perilaku anak yang salah, maka orangtua akan memposisikan dirinya yang ada salah.

Cara pandang yang menempatkan letak kesalahan pada diri sendiri ini akan memudahkan orangtua untuk mengevaluasi diri dan pengasuhannya. Juga memudahkan orangtua untuk bisa mengelola emosinya agar tidak salah bersikap pada anak.

Tidak jarang, kesalahan anak berawal dari kurangnya perhatian yang diberikan orangtua pada anaknya. Sedikit sekali bahkan tidak ada waktu bersama anak. Kalaupun bersama, sedikit sekali interaksi yang terjalin. Akibatnya, anak dan orangtua kurang memiliki kelekatan (attachment) yang baik.

Anak yang kurang lekat dengan orangtuanya akan rentan sekali dengan pengaruh buruk dari lingkungan. Ia akan mudah dipengaruhi orang lain dan terbawa arus pergaulan. Efeknya tentu tidak baik bagi perkembangan anak, khususnya bila lingkungannya leboh didominasi oleh hal yang negatif. Pengaruh buruk akan mudah menguasainya.

Tidak lekat dengan orangtua juga membuat anak memiliki harga diri yang rendah. Ia merasa tak berharga, merasa tak dicintai. Efeknya, ia akan mencari cinta di luar, atau ia akan menjadi anak yang "nakal" demi melampiaskan kekecewaannya pada orangtua.

Mulailah mengubah kesalahan anak dengan mengubah diri orangtua terlebih dulu. Mulai memperbaiki kembali ikatan emosional dengan anak. Meluangkan lebih banyak waktu dan momen bersama dengan anak. Saling berbagi, bercerita, bermain, dan bercanda tawa bersama. Lakukan kebersamaan itu tanpa beban, dengan tulus, dan penuh cinta.

Mulailah perubahan itu dengan cinta. Walau ada salah dan khilaf yang telah dilakukan anak dan orangtua, lepaskanlah itu dengan saling memaafkan. Perbaiki kembali ikatan yang selama ini mulai longgar atau terputus.

Tanpa sadar, orangtua seringkali banyak menuntut, tapi lupa memberi pada anaknya. Lupa memberi cinta, kasing sayang, perhatian, bimbingan, dan doa yang tulus. Sungguh tidak adil rasanya, bila orangtua banyak menuntut anak tapi masih sedikit sekali yang diberi.

Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk banyak memberi kebaikan dan kasih sayang pada orang-orang terdekat. Memberi akan menumbuhkan ikatan hati yang kuat baik bagi yang memberi maupun yang diberi. Pemberian cinta kasih sayang yang tulus dan ikhlas akan jauh lebih berharga dan bermakna bagi hubungan orangtua dan anak, dibandingkan pemberian materi. 

Setiap insan membutuhkan cinta. Berikan cinta yang berlimpah pada anak, Insya Allah anak pun akan membalas cinta itu bahkan sebelum orangtua memintanya. 

by: Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi.,Psikolog
View Post

Parenting adalah ilmu tentang pendidikan dan pengasuhan anak. Ilmu yang sangat berharga dan dibutuhkan oleh orang tua atau calon orang tua sebagai bekal dalam mengasuh buah hati. Faktanya, di negeri kita, ilmu parenting ini masih minim sekali bahkan mungkin tidak kita dapatkan sebagai bekal menjadi orang tua atau calon orang tua. Akhirnya, orang tua mengasuh anaknya secara otodidak. Kebanyakan belajar dari pengamatan terhadap pola asuh orang tua kita sebelumnya. Bila orang tua dahulu mengasuh dengan pola yang keras, maka sedikit banyak pola asuh itu pun akan ikut mempengaruhi cara mengasuh orang tua di masa kini.

Alhamdulillah saat ini mulai banyak tokoh yang membahas dan memfasilitasi pembelajaran parenting ini. Baik melalui buku, seminar, media sosial, dan kulwapp secara online. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan.

Investasi ilmu adalah investasi berharga yang juga orang tua butuhkan dalam keluarga. Karena anak adalah harta paling berharga bagi orang tua maka menginvestasikan waktu dan ilmu untuk optimalisasi tumbuh kembang anak menjadi hal yang penting diperhatikan.

Positive parenting adalah salah satu cara yang bisa orang tua terapkan dalam mendidik dan mengasuh buah hati. Positive parenting artinya mendidik dan mengasuh anak dengan cara-cara yang positif. Positif adalah lawan dari negatif.

Saat orang tua mendapati kondisi anak yang di luar harapan orang tua, umumnya respon yang diberikan pada anak adalah negatif. Orang tua umumnya menanggapi perilaku anak yang "negatif" dengan amarah, cubitan, hukuman, label negatif, omelan, dan sejenisnya.

Positive parenting mendorong orang tua untuk bisa merespon berbagai perilaku anak, termasuk yang "negatif" dengan cara yang positif.*
Mengapa?
*Pertama*, karena negatif dalam pikiran orang tua belum tentu negatif bagi anak.

Anak-anak belum sepenuhnya bisa memahami makna dari perilakunya. Terkadang mereka melalukannya karena melihat teman, tayangan televisi atau youtube, media sosial, dan sejenisnya.

Awalnya anak melakukannya karena *meniru* sekelilingnya. Karena fase pembelajarannya berada pada tahap meniru.

"Jadi pada awalnya ia berbuat karena meniru."

Tugas orang tua, guru, dan masyarakatlah kemudian untuk *meluruskan* mana kala melihat ada perilaku anak yang "salah atau negatif" dari sisi moral atau agama.

Meluruskan bukan memarahi. Beda ya

Contoh kasus:

Saat melihat ada anak mengejek-ejek temannya atau berkata tidak sopan misal "bodoh kamu" pada temannya.

Bagaimana respon kita seharusnya sebagai orang dewasa?

Jika perilaku negatif direspon dengan negatif maka akan sulit menemui titik temu.

Seperti magnet, bila kutub negatif bertemu negatif maka akan membal. Tidak bisa menyatu. Tetapi saat kutub negatif bertemu positif maka akan saling menyatu.

Begitu pula kiranya dalam pengasuhan anak. Ketika mendapati perilaku anak yang "negatif" maka berikan respon yang positif untuk meluruskannya

Jika orang tua memberikan respon yang negatif, anak akan bingung, karena ia merasa dimarahi / dihukum tanpa sebab. Karena anak belum paham bahwa ia melakukan hal yang salah di mata orang dewasa.

Yang terjadi justru anak bisa ikut marah, berontak bahkan melawan.

Solusinya:

Ketika menegur anak beri pemahaman pula tentang makna perilakunya itu baik atau buruk secara moral dan agama. Atau bisa dengan mengajaknya berdiskusi.

Misal: Adik, kalau teman adik bilang adik bodoh, adik senang nggak?

Adik suka nggak kalau adik di ejek-ejek teman di sekolah?

Kira-kira bagaimana perasaan teman yang diejek itu, senang atau sedih saat diejek?

Adik mengejek teman itu tidak baik. Karena akan membuat teman menjadi sedih dan tidak senang pada Adik. Selain itu, agama juga melarang kita untuk memanggil saudara kita dengan panggilan yang buruk. Kita dianjurkan untuk saling menyayangi sesama teman. Karena kita semua adalah saudara.

*Kedua*, Kemampuan berpikir anak sedang berkembang. Golden Age.

Bila yang diterima anak lebih banyak perkataan atau respon negatif dari sekelilingnya maka kreativitas dan kemampuan berpikir anak akan terganggu.

Sedikit-dikit disalahkan, dimarahi, dihukum, disakiti.

Akhirnya anak jadi takut atau malas untuk mencoba dan berbuat lebih.

Solusinya

Berikan anak kepercayaan dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal.

Tetapi tetap dalam pengawasan dan batasan dari orang tua.

*Ketiga*, Orang Tua Akan Semakin Happy

Kebayang nggak sih kalau tiap hari Ibu merasa tertekan dengan tingkah polah anak yang beraneka rupa. Marah-marah, kesal, dan selalu mengeluh tentang anak. Bisa-bisa ibu cepat tua dong.

Untuk itu pikiran orang tua harus selalu bahagia saat mendampingi ananda. Agar tidak mudah terpancing emosi dalam merespon berbagai perilaku ananda.

Saat orang tua bahagia maka akan lebih tenang dan bijak dalam merespon perilaku anak.

Anak bukanlah sumber masalah, melainkan anugerah dari Sang Pencipta. Tidak semua pasangan mendapatkan anugerah ini.

Orang tua harus bersyukur dan bersungguh-sungguh menjaga amanah anak dari Allah, karena anak adalah titipan Ilahi.

Untuk itu orang tua harus bahagia dengan kehadiran ananda dan berusaha untuk selalu membahagiakan mereka dalam proses tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak.

Dan berusaha untuk selalu melihat sisi positif pada diri anak.

*Keempat, Anak adalah Fitrah*

Setiap anak terlahir suci dan membawa potensi unggul dari Sang Pencipta.

Walaupun misal fisiknya "tidak sempurna" dalam pandangan manusia karena cacat dan sejenisnya, di sisi Allah semua tercipta dengan potensi unggulnya masing-masing.

Orang tua lah yang kemudian bertugas untuk membentuk, memoles, dan mengarahkan agar potensi unggul tersebut bisa muncul dan berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri anak, keluarga, masyarakat dan agama.

Ada anak yang memiliki keterbatasan fisik, tapi bisa tumbuh dengan prestasi. Ada yang menjadi atlet, seniman, penulis buku, motivator, dll.

Tapi, ada pula anak yang secara fisik sempurna, tapi kemudian menoreh luka bagi orang tua, keluarga dan agama. Karena narkoba, seks bebas, bullying, dan lainnya.

Apa yang membedakannya?

Salah satunya adalah pola pendidikan dan pengasuhan dari orang tua. Orang tua yang menyadari fitrah unggul setiap anak akan mampu menggali, menemukan, dan memfasilitasi tumbuh kembang anak agar semakin optimal sehingga dapat menjadi anak yang membanggakan di dunia dan akhirat.

Tentu untuk bisa melihat potensi unggul sang anak, orang tua harus *sering membersamai* ananda dalam proses tumbuh kembangnya.

Dengan sering berinteraksi dengan anak, orang tua akan dapat melihat dan mengetahui apa kelebihan dan kekurangan ananda. Sehingga orang tua bisa melakukan langkah-langkah untuk meminimalisir kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan ananda.

Bila orang tua jarang berinteraksi dan bermain bersama anak tentu akan kesulitan mengetahui potensi unggul yang ada pada diri ananda.

Menjadi orang tua bukanlah persoalan yang mudah. Butuh kesungguhan pula dari dalam diri orang tua.

Karena pendidikan anak tidak bisa instan. Ia butuh proses dari waktu ke waktu yang harus orang tua dampingi sejak dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal hingga kelak menjadi bintang yang cemerlang di masanya kelak.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan positive parenting seperti pemaparan di atas.


View Post


Selama menjalani profesi sebagai pengusaha batik, saya memfokuskan usaha Sukmabatikjogja ke arah SERAGAM BATIK. Bukan berarti saya tidak menjual secara eceran/satuan lho, ya. Saya pun tetap menerima orderan eceran. Tapi biasanya, orderan yang sering datang ke saya adalah para pelanggan yang mencari seragam batik.

Awalnya, saya pun tidak tahu mengapa itu bisa terjadi? Tapi ternyata, setelah membaca beberapa referensi buku, ada yang mengatakan bahwa "seseorang akan mendapatkan apa yang menjadi fokusnya."

Benar saja. Teori itu terbukti benar. Memang betul bahwa saya memfokuskan usaha saya pada seragam batik. Alhamdulillah, orderan yang masuk tiap harinya pun adalah pelanggan yang sedang membutuhkan seragam batik.

Teori fokus di atas tidak hanya berlaku dalam bidang usaha saja, tapi bisa pula diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan. Baik di pekerjaan, rumah tangga, juga dalam mengasuh anak.

Sering saya sampaikan pasa peserta grup parenting school, jangan gunakan kata negatif untuk melabel anak. Karena secara tidak sadar itu dapat menjadi fokus Anda sebagai orangtua dalam menilai anak. Coba pilih kata atau label positif untuk melabel perilaku anak.

Misal, anak nakal ganti dengan anak yang aktif, anak ngeyel ganti dengan anak yang keras kemauannya. Dan sebagai orangtua, biasakan untuk fokus melihat kebaikan anak. Kalau selama ini fokusnya masih lebih besar ke arah perilaku anak yang negatif maka sekarang yuk coba ubah fokusnya ke perilaku anak yang positif.

Mengapa? Karena seseorang akan mendapatkan apa yang menjadi fokusnya. Nggak nyaman kan kalau ternyata selama ini fokus hidupnya lebih banyak ke arah negatif. Akhirnya yang hadir dalam kehidupan seringnya yang tidak baik. Maka yuk latih kesadaran diri untuk mengubah dan mengatur fokus hidup ke arah yang lebih positif, bahagia, dan menguntungkan.

Kembali ke fokus bisnis tadi, berarti benar sekali bahwa dalam berbisnis kita dituntuk untuk selalu memperbaharui target usaha secara berkala. Misal, bila bulan ini target omset sudah tercapai. Maka untuk bulan berikutnya perbaharui lagi targetnya dari bulan lalu, ditingkatkan target omsetnya. Hal ini secara tidak langsung melatih pikiran kita untuk memenuhi target tersebut dan berbuat lebih baik lagi dari sebelumnya.

Ya, kebaikan itu harus direncanakan. Jadi masuk dalam alam bawah sadar dan menjelma jadi kenyataan dan berbuah kebaikan.

Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang, sebelum ia mengubah keadaannya sendiri. Artinya harus ada kemauan dan kesadaran dalam diri untuk berubah lebih baik. Maka kebaikan-kebaikan akan menghampiri kehidupan kita. Salah satu caranya dengan MENJAGA FOKUS DIRI pada hal-hal yang baik dan positif.
View Post


Bila saat ini, hidup terasa susah, usaha berkali-kali gagal, pernikahan bermasalah, hati gelisah, pikiran kacau, rezeki tak lancar, coba di cek, bagaimana hubungan kita dengan orang tua?

Boleh jadi, kita merasa hubungan yang ada baik-baik saja, menurut pandangan kita. Tapi bisa jadi, yang dirasakan dan diterima orang tua berbeda!

Bila saja ada sedikit rasa kecewa dan tidak ridho di hati orangtua pada kita, maka siap-siaplah hidup kita akan menjadi lebih sulit.

"Ridho Allah terletak pada ridho orangtua." Kala orangtua tidak ridho dengan sikap, keputusan, perilaku, dan perkataan kita, maka cukuplah itu menjadi penghalang kesuksesan kita di dunia dan akhirat.

*

Bayangkan, sejak kecil hingga dewasa, semua kebutuhan kita dipenuhi oleh orangtua. Bahkan setelah lulus kuliah, dan menikah pun terkadang masih dibiayai oleh orangtua. Selanjutnya mau bekerja dan buka usaha, masih juga orangtua ikut memberikan apa yang bisa ia berikan.

Padahal, ketika anak sudah baligh, harusnya sudah bisa membiayai dan mengurus kebutuhannya sendiri. Seharusnya malah sudah harus berbakti dan membantu orang tua. Tapi, namanya orangtua, kasihnya sepanjang masa. Tak bertepi.

*

Kita sebagai anaklah yang harus peka, sadar, dan tau diri. Cukuplah sebelum menikah, kita membebani mereka walau mereka tidak merasa terbebani dengan segala apa yang sudah mereka berikan. Kitalah yang harus tau diri.

Ketika menikah, kita diharapkan sudah dewasa, sudah bisa dilepas dan sudah punya tanggung jawab atas diri dan keluarga kita sendiri. Tidak lagi bergantung pada orang tua, walau mereka punya berbagai kelebihan. CUkup.

Targetkan diri kitalah kini yang seharusnya membalas dan berbakti pada mereka. Tidak lagi membebani mereka. Saatnya kita memberi dan membantu apa yang kita bisa, dan membahagiakan mereka di masa tuanya.

*

DI masa tuanya, orang tua ingin memiliki kebebasan waktu. Bisa bebas beribadah, bebas berkeliling ke mana ia mau. Bisa  bebas bersilaturahim ke rumah teman, melihat cucu, dan lainnya.

Bila ada kesempatan untuk membahagiakannya, ambillah kesempatan itu.

Ridho Allah terletak pada ridho orangtua. Jangan menghindar dari orangtua. Jangan menjauh darinya saat ia membutuhkan. Jadilah anak yang berbakti.

Bila bingung bagaimana cara membahagiakannya, tanyakan pada mereka bagaimana cara agar mereka ridho pada kita? Tanyakan pada mereka apa yang bisa kita lakukan agar mereka bahagia.

Apakah mereka bahagia bila kita tingal bersama mereka, atau mereka tinggal bersama kita?

Ataukah mereka bahagia bila kita membantunya meneruskan usaha  yang telah dirintisnya?

Apakah mereka bahagia bila kita memperbaiki komunikasi kita dengannya, mendengar nasehat dan masukannya sepenuh hati?

Lakukanlah apa pun juga, selama itu baik dan bisa membuat orangtua ridho.

*

Setiap orangtua pasti menginginkan kesuksesan dan kebahagiaan pada anak-anaknya. Itu sudah pasti.

Walau mungkin, ada cara, sikap, perilaku, perkataan, dan keputusannya yang mungkin berbeda dan bertentangan dengan yang kita pahami, bersabarlah dengan itu.

Karena bisa jadi yang baik menurut pandangan kita, belum tentu baik. Dan yang buruk dalam pandangan kita, bisa jadi baik. Orangtua dengan pengalaman dan hati nuraninya terkadang bisa membaca lebih jauh dari apa yang kita ketahui.

*

Ingin hidup lebih sukses dan bahagia?

View Post
Person Holding White Photo Frame Near Body of Water

Tiada manusia yang tidak diuji oleh Allah. Sesungguhnya setiap ujian adalah untuk meningkatkan taqwa hamba pada Tuhan-Nya dan sebagai jalan pengingat agar hamba tersebut "mengevaluasi dirinya."

Ingat, mengevaluasi dirinya sendiri, bukan orang lain yang dia anggap membuat "masalah" dalam hidupnya.

Jadi sebenarnya ketika ada masalah yang datang pada seseorang, diharapkan ia untuk berbenah, mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan.

Masalah yang ada sejatinya Allah datangkan untuk menegur atau mengingatkan hamba-nya untuk kembali pada Allah. Tentu hanya diri sendiri yang tau kesalahan atau kelalaian apa yang telah diperbuat sehingga Allah memberikan teguran lewat masalah yang datang.

Entah itu, mungkin selama ini banyak melalaikan perintah Allah, meremehkan dosa-dosa, atau ada melalaikan hak-hak orang lain atau bahkan berbuat zalim pada diri sendiri.

Maka yang pertama dilakukan adalah BERSYUKUR. Makasi ya Allah sudah mengingatkan diri ini lewat hadirnya masalah ini.

Setelah itu evaluasi diri, apa maksud Allah menegur hamba-Nya dengan masalah tersebut. Baik itu masalah yang bisa jadi datangnya lewat anak, suami, rezeki, atau apa pun itu.

Kembalikan semua persoalan pada diri sendiri, bukan malah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Allah. Dengan mengembalikan semua persoalan pada diri, akan terdorong untuk berpikir, merenung, taubat, dan memperbaiki diri akan kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat.

Ketika manusia itu telah merenung, taubat, dan memperbaiki diri seutuhnya, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar atas segala masalahnya. Allah yang izinkan masalah itu datang pada kehidupan hamba-Nya,maka Allah  pula yang akan beri jalan keluarnya. Saat hamba-Nya tersadar, berubah, sudah taubat, makin taat sama Allah, makin bergantung sama Allah, maka akan ada keajaiban yang akan Allah hadirkan sebagai solusi atas berbagai persoalan yang datang.

Jadi saat ada masalah, jangan fokus pada masalahnya, tapi fokus pada Allah. Jadi semakin dekat, taat, minta ampun dan bergantung pada Allah.

Jadi kalau secara singkatnya, bisa dikatakan bahwa saat ada masalah yang datang dalam hidup kita, itu tandanya "kitanya yang sedang bermasalah atau sedang sakit menurut Allah."

Mungkin hatinya sedang kotor, ibadahnya sedang menurun, ada salah pada orang lain, dsb.

Jadi semestinya bersyukur, karena lewat masalah itu, Allah ingin menyembuhkan kita, memperbaiki diri kita dari sakit yang ada pada diri. Asal kita membuka hati dan peka dengan pesan Allah tersebut, akan ada perubahan yang dapat dilakukan, dan terbukalah jalan keluarnya. Saat seseorang mengembalikan semua persoalan pada Allah Swt  dengan jalan meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, Allah akan bukakan jalan keluar bagi-Nya dan memberi solusi dari arah yang tidak disangka-sangka.
View Post
Hasil gambar untuk pray

Tiada manusia yang tidak diuji oleh Allah. Sesungguhnya setiap ujian adalah untuk meningkatkan taqwa hamba pada Tuhan-Nya dan sebagai jalan pengingat agar hamba tersebut "mengevaluasi dirinya."

Ingat, mengevaluasi dirinya sendiri, bukan orang lain yang dia anggap membuat "masalah" dalam hidupnya.

Jadi sebenarnya ketika ada masalah yang datang pada seseorang, diharapkan ia untuk berbenah, mengevaluasi diri, dan melakukan perbaikan.

Masalah yang ada sejatinya Allah datangkan untuk menegur atau mengingatkan hamba-nya untuk kembali pada Allah. Tentu hanya diri sendiri yang tau kesalahan atau kelalaian apa yang telah diperbuat sehingga Allah memberikan teguran lewat masalah yang datang.

Entah itu, mungkin selama ini banyak melalaikan perintah Allah, meremehkan dosa-dosa, atau ada melalaikan hak-hak orang lain atau bahkan berbuat zalim pada diri sendiri.

Maka yang pertama dilakukan adalah BERSYUKUR. Makasi ya Allah sudah mengingatkan diri ini lewat hadirnya masalah ini.

Setelah itu evaluasi diri, apa maksud Allah menegur hamba-Nya dengan masalah tersebut. Baik itu masalah yang bisa jadi datangnya lewat anak, suami, rezeki, atau apa pun itu.

Kembalikan semua persoalan pada diri sendiri, bukan malah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Allah. Dengan mengembalikan semua persoalan pada diri, akan terdorong untuk berpikir, merenung, taubat, dan memperbaiki diri akan kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat.

Ketika manusia itu telah merenung, taubat, dan memperbaiki diri seutuhnya, maka Allah akan tunjukkan jalan keluar atas segala masalahnya. Allah yang izinkan masalah itu datang pada kehidupan hamba-Nya,maka Allah  pula yang akan beri jalan keluarnya. Saat hamba-Nya tersadar, berubah, sudah taubat, makin taat sama Allah, makin bergantung sama Allah, maka akan ada keajaiban yang akan Allah hadirkan sebagai solusi atas berbagai persoalan yang datang.

Jadi saat ada masalah, jangan fokus pada masalahnya, tapi fokus pada Allah. Jadi semakin dekat, taat, minta ampun dan bergantung pada Allah.

Jadi kalau secara singkatnya, bisa dikatakan bahwa saat ada masalah yang datang dalam hidup kita, itu tandanya "kitanya yang sedang bermasalah atau sedang sakit menurut Allah."

Mungkin hatinya sedang kotor, ibadahnya sedang menurun, ada salah pada orang lain, dsb.

Jadi semestinya bersyukur, karena lewat masalah itu, Allah ingin menyembuhkan kita, memperbaiki diri kita dari sakit yang ada pada diri. Asal kita membuka hati dan peka dengan pesan Allah tersebut, akan ada perubahan yang dapat dilakukan, dan terbukalah jalan keluarnya. Saat seseorang mengembalikan semua persoalan pada Allah Swt  dengan jalan meningkatkan ketaqwaan kepada-Nya, Allah akan bukakan jalan keluar bagi-Nya dan memberi solusi dari arah yang tidak disangka-sangka.

By: Sukmadiarti Perangin-angin
View Post
Stack of Love Wooden Blocks

Pahami bahwa anak, suami, orangtua, mertua dan siapapun juga yang hadir dalam kehidupan kita hanyalah TITIPAN ALLAH.

Cintailah semuanya TANPA SYARAT

Bukan seperti ini:

Aku sayang anakku jika dia nurut. Jika dia rajin belajar. Jika dia bangun bagi.

Kalau tidak maka aku akan marah, kesal, kecewa, dan menghukumnya.

🏵🏵🏵

Aku sayang suami jika ia baik. Jika ia perhatian. Jika romantis. Jika mau bantu urusan rumah tangga, jika setia.

Kalau tidak, maka aku akan benci, marah, cuek, dan murung padanya.

Dan seterusnya...
Ke mertua kah, orangtua kah, rekan kerja, tetangga, dan siapa saja yang berhubungan dengan kita.

💝💝💝

Tanpa sadar, sering kali kita mengatakan Aku sayang pada anakku, sayang pada suami ku, sayang pada orangtua dan mertua ku...

Tapi ketika mereka berbuat hal yang mengecewakan hatiku, AKU MARAH, AKU KECEWA.

Dan setelah itu aku tanpa sadar ikut berbuat dan bersikap yang SAMA seperti yang mereka lakukan padaku. AKU MENYAKITI MEREKA dengan perkataan, sikap,dan perbuatanku.

💝💝💝

Ternyata cintaku MASIH BERSYARAT

karena masih bersyarat, aku jadi sering kecewa, sedih, marah dan benci bila mereka membuatku tidak nyaman.

Aku pun menjadi SAKIT perasaan yang ku tanam sendiri.

Emosi Benci, marah, dendam di hatiku membuat fisikku sermakin SAKIT. Dan lahirlah penyakit2 dalam tubuhku karena aku memelihara penyakit dalam hatiku.

❤❤❤

"Sesungguhnya bila hati seseorang itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya."

Bila hati ini masih memendam marah, kecewa, benci, dendam, terluka pada orang lain, artinya kita sedang memelihara dan membiarkan tubuh kita menjadi SAKIT.

💐💐💐

MAAFKAN...
MAAFKAN...
MAAFKAN...

Maafkan mereka yang pernah menyakiti...

Maafkan mereka yang pernah menghakimi...

Maafkan mereka yang pernah melukai hati kita...

Ingat lagi peristiwa peristiwa luka itu... Lalu katakan dengan ikhlas,
AKU MEMAAFKANNYA

ItulaH CINTA TANPA SYARAT

Menerima Setiap orang lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

💐💐💐

CINTA TANPA SYARAT

Seperti Allah yang mencintai hambanya tanpa syarat. Walau hamba-Nya banyak dosa, hambanya masih lalai, hamba-Nya sering meninggalkan-Nya, ALLAH selalu hadir dan dekat dengan kita. Tak pernah meninggalkan kita sendiri. Tetap menjaga dan memberi rahmat-Nya. Tetap membuka pintu maaf bagi hamba-Nya.

Allah saja MAHA PENGAMPUN, masa kita begitu SOMBONG.

Enggan Memaafkan?

💐💐💐

Cintailah mereka yang ada disekeliling kita TANPA SYARAT.

Walau kemarin, hari ini, dan besok mereka berbuat salah dengan sengaja atau tidak sengaja, katakan

Aku Tetap Mencintaimu apa adanya

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada kamu.

Aku ikhlas menerimanya...

💝💝💝

Rasakan bedanya
Rasanya ketenangannya
Rasakan bahwa kini hati Anda telah jauh lebih bahagia.

💐💐💐

Hanya orang-orang bahagia yang BISA MENGUBAH DUNIA menjadi lebih baik.

Jadilah PRIBADI BAHAGIA

😇😇😇
View Post
Selective Focus Photography of Child's Hand on Person's Palm

Assalamualaikum....
Bunda sukma. Saya mau minta resep, bagaimana caranya bersahabat dgn diri dan hati ini. Anak saya susah dibilangin. Kalau dibilangin suka membantah dan menjawab.

Jawab

Terima kasih pertanyaannya, Bunda yang cantik dan salihah.

Alhamdulillah, pertama sekali rasanya kita sebagai orangtua perlu bersyukur bila mendapati ada perilaku anak yang menguras emosi. Itu tandanya, Allah mau melatih orangtuanya untuk belajar bersabar. Bunda tau kan, pahala sabar itu, bueesar 😊

💝💝💝

Anak menjawab atau membantah saat dinasehatin, juga lagi-lagi harus bersyukur. Alhamdulillah, itu tandanya daya kritis dan kemampuan berpikir anak sudah berkembang.

Artinya, orangtua harus mulai evaluasi caranya memberi nasehat. Karena sepertinya, cara lama sudah tidak efektif. Maka gunakan cara lainnya, misal dengan dialog atau komunikasi dua arah.

Penting juga bagi orangtua untuk mengetahui kapan waktu terbaik untuk memberi nasehat pada anak. Ada empat waktu terbaik dalam memberi nasehat agar mudah diterima oleh anak, yakni saat sakit, perjalanan, makan, dan jelang tidur.

Memilih waktu dan cara yang tepat dalam memberi nasehat akan memberi efek yang lebih bermakna dan tepat sasaran.

💝💝💝

Berdamai dengan hati?
Insya Allah bila sudah paham ilmunya seperti di atas tadi, orangtua sudah nggak baperan lagi, nih, dengan perilaku anak. Karena ternyata bukan anaknya yang bermasalah, tapi orangtua yang belum paham ilmu menghadapi anak. Bersyukur lagi nih sekarang, sudah tambah ilmunya, ya.

💝💝💝
Sebagai tambahan, hindari label negatif pada anak. Di pertanyaan, Bunda melabel Ananda dengan kata "susah dibilangin."

Nah sekarang, sudah tau ya bahwa ternyata bukan anak susah dibilangin, tapi cara bilanginnya yang mungkin masih kurang tepat.

Jadi sebaiknya hindari kalimat negatif pada anak maupun saat mengungkapkan perilaku anak. Mengganti kalimat negatif dengan kalimat positif akan jauh lebih baik bagi psikologis ibu dan buah hati. Nah, ini juga bisa menjadi solusi untuk bersahabat dengan hati.

Demikian ya. Semoga bermanfaat.
View Post
Child With Woman Holding Map

"Sementara kita mengajari anak-anak semua hal tentang hidup, mereka justru mengajari kita tentang arti kehidupan."
(Angela Schwindt, dalam Chicken Shop for The Soul)

Orangtua sering merasa telah mengajarkan banyak hal kepada anak. Padahal sejatinya, anak justru mengajarkan lebih banyak hal pada orangtuanya.

Syaratnya, orangtua harus memiliki kepekaan hati yang baik. Sehingga pesan-pesan yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat dari anak, bisa terbaca.

*

Pernahkah Bapak/Ibu melihat anak-anak yang sedang “bertengkar” ?
Pastinya pernah dong, ya. Entah itu di rumah dengan saudaranya atau di luar dengan teman-temannya.


Berapa lama biasanya efek dari pertengkaran mereka?
Satu jam, dua jam, satu hari, dua hari, atau hanya dalam hitungan menit?


Umumnya, pertengkaran diantara anak-anak hanya berlangsung dalam hitungan menit. Setelah sakit atau emosi mereka mereda, biasanya akan segera berbaikan dan main bersama kembali.


Anak-anak yang fitrah suci itu tidak memendam rasa dendam, benci, dan buruk sangka. Ketika mereka tersakiti, rasa kesal dan marahnya hanya berlangsung saat itu saja, tidak berlarut-larut, dan tidak berkepanjangan.

*

Dari anak kita belajar, mudahnya memaafkan. Kalau pun ada rasa sakit, perasaan sedih dan kecewa, tidak berlangsung lama, dan tidak dipelihara dalam hati.

Mereka ungkapkan segera rasa yang ada lewat tangisan. Setelah emosinya tersalurkan, hatinya sudah tenang, mereka segera berbaikan, berteman, dan bermain kembali. Masalah selesai lebih cepat.


Kadang, masalah anak yang sederhana bisa menjadi rumit karena respon orangtua dan orang dewasa di sekelilingnya.

Orangtua menanggapi pertengkaran anak dengan amarah, sehingga muncul masalah baru. Orangtua membela salah satu pihak, sehingga muncul persaingan antar saudara (sibling rivalry). Orangtua menyalahkan anak, sehingga anak belajar menyalahkan. Orangtua menghina anak, sehingga anak belajar memusuhi. Orangtua memukul salah satu atau kedua pihak, sehingga anak jadi belajar memukul. Orangtua berteriak, anak jadi belajar berteriak saat kesal. Orangtua memaki, sehingga anak belajar memaki. Dan seterusnya.


Tanpa sadar, orangtua merusak fitrah anaknya. Sehingga benar sekali hadist Rasulullah yang mengatakan bahwa “Pada dasarnya setiap anak adalah fitrah. Orangtuanyalah yang mengubahnya menjadi Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” Orangtua telah mencederai fitrah anak lewat sikap dan perilakunya yang salah dalam merespon perilaku anak.


Sebenarnya, tanpa keikutsertaan orangtua dalam masalah dan pertengkaran anak, urusan mereka akan selesai kok. Tapi anak kan butuh dan ingin mencari perlindungan, pembelaan, dan kasih sayang dari orangtuanya. Itu yang mereka harapkan.

Dipeluk, didengar keluhannya, dipisahkan dan diredakan pertengkarannya, memberi ketenangan bagi kedua pihak. Bukan sebaliknya, dihakimi, disalahkan, dimarahi, dan disakiti dengan lisan dan perbuatan orangtua.

*


Baru dari satu sisi anak, kita sudah bisa belajar dan introspeksi banyak hal dalam diri kita. Contoh tadi mengajarkan kita untuk belajar MUDAH MEMAAFKAN.


Suatu prinsip kehidupan yang sederhana tapi semakin menjadi dewasa, kadang justru semakin sulit dipraktekkan. Akibatnya, orang dewasa memiliki masalah yang begitu rumit dalam hidupnya.


Mengapa orang dewasa lebih sulit memaafkan dibanding anak-anak?


Anak-anak masih fitrah, masih suci, masih bersih hatinya. Masih sedikit dosanya. Sehingga ia mudah menerima kebaikan dan melakukan kebaikan.


Orang dewasa? Barangkali hatinya sudah tidak lagi sesuci masa kecilnya. Sehingga emosi negatif lebih musak masyuk pada diri.


Maka mensucikan hati adalah langkah awal yang harus dilakukan orang dewasa untuk bisa kembali fitrah dan suci. Sehingga lisan dan perbuatan selalu mampu menampilkan kebaikan.


Rasulullah bersabda : “Di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya.”


Apa yang Rasulullah sampaikan tentu tidak lagi ada keraguan bagi kita di dalamnya. Kunci kebaikan diri adalah memiliki hati yang baik. Hati yang bersih. Hati yang suci. Saat hati kita baik, maka tidak hanya tubuh yang sehat, tapi lisan dan perbuatan juga mengikuti.


Mari belajar dari anak. Belajar arti kehidupan dari kepolosan anak. Dari lisan dan perbuatan yang mereka tampilkan.


Bila anak kita kini banyak menampilkan keburukan, kitalah orangtua yang harus segera berbenah diri. Tapi bila banyak kebaikan yang semakin terlihat dan kita rasakan dari anak, alhamdulillah, itu tanda hati kita semakin bersih.


Hati yang bersih akan mudah meilihat segala kebaikan. Tapi hati yang keruh hanya akan melihat keburukan walau ia dalam kebaikan.
View Post