Pernah saya ditanya, bagaimana cara menyikapi pertengkaran bagi pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh. Sebenarnya, jauh atau dekat sama saja untuk konsep pertengkaran ini. Siapa saja bisa mengalaminya.

Pernikahan pasti tidak selalu berjalan mulus. Riak-riak pertengkaran bisa selalu hadir kapan saja. Apakah itu karena perbedaan pendapat, ego, curiga, atau hal lainnya. Hal kecil dan sepele bisa menjadi sumber masalah yang dapat memicu pertengkaran.

Pertengkaran sebenarnya tidak perlu terjadi dan sebisa mungkin harus dihindari dalam pernikahan. Tidak pernah ada kejadiannya, pertengkaran bisa menghadirkan kebahagiaan dalam pernikahan, bukan? 

Pertengkaran juga bukan solusi menyelesaikan masalah. Alih-alih menyelesaikan masalah, pertengkaran justru menambah masalah baru. Hubungan dengan pasangan menjadi terganggu, bila pertengkaran terlihat anak akan tidak baik untukpsikologisnya, dan keberkahan dalam pernikahan bisa tercabut saat seseorang terbiasa melampiaskan nafsu amarahnya. 

Jadi, pertengkaran harus dihindari. 

Lalu, bila seseorang merasa tidak nyaman dengan sikap atau perilaku pasangannya, apa yang harus dilakukan?

Pertama, Berbaik Sangka
Kenyataan seringkali tidak seburuk apa yang dipikirkan manusia. Pikiran yang penuh prasangka ditambah dengan hati yang gelisah rentan sekali membuka pintu syetan masuk dan membumbui suatu persoalan yang kecil menjadi besar.

Berbaik sangka adalah langkah awal yang harus dilakukan dalam menyikapi setiap persoalan dalam rumah tangga. Jangan menduga yang bukan-bukan pada pasangan sendiri. Jauhi prasangka, budayakan berbaik sangka. Itu akan menentramkan hati dan membuat pikiran menjadi jernih dalam memandang suatu persoalan.

Kedua, Tenangkan Hati
Permasalahan dengan pasangan tentu akan membuat hati menjadi tidak tenang, gelisah, marah, dan berpenyakit. Masalah tidak akan terselesaikan dengan baik bila dihadapi saat marah.

Tenangkan hati dengan mengingat Allah. Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Alihkan pikiran dari masalah yang ada dengan berdzikir, baca Al-quran dan terjemahannya, sholat sunnah, atau amalan ibadah lainnya. Saat hati sudah tenang, solusi pun akan datang.

Ketiga, Saling Memahami
Pria dan wanita memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. Pria cenderung akan menyendiri dan berdiam diri bila sedang ada masalah. Ia akan merenung dan berpikir apa sebab masalahnya dan bagaimana solusi yang harus dilakukan. Berbeda dengan pria, kaum wanita justru butuh teman saat sedang ada masalah. Ia butuh mencurahkan perasaannya dengan bercerita. Sehingga kaum wanita butuh telinga untuk mendengarnya dan sentuhan, misal pelukan hangat dari pasangannya, untuk bisa segera meredakan kegundahannya.

Perbedaan pria dan wanita itu juga akan mempengaruhi karakter suami dan istri dalam sebuah pernikahan. Saling memahami perbedaan yang ada akan membuat persoalan bisa diselesaikan lebih cepat. Bila istri sedang merajuk, maka suami melakukan pendekatan dengan memeluk dan memberinya ruang untuk berbicara. Bila suami yang sedang merajuk, maka istri memberinya ruang untuk sendiri dan menenangkan dirinya atau melakukan hal yang ia sukai.

Belajar saling memahami karakter satu sama lain akan memudahkan pasangan untuk bisa menghadapi berbagai persoalan dalam pernikahan dengan lebih tepat dan cepat.

Keempat, Komunikasi
Masalah yang hanya dipendam tentu akan sulit untuk selesai. Selain membuat hati tidak nyaman, memendam masalah juga tidak baik bagi kesehatan serta hubungan dengan pasangan. Dapat menjadi gunung es yang bisa meledak sewatu-waktu dengan dampak yang lebih besar. Semakin besar dampaknya tentu akan semakin sulit penyelesaiannya.

Membangun komunikasi yang baik, lancar dan terbuka dengan pasangan adalah salah satu kunci keharmonisan dalam pernikahan. Jangan ada yang dirahasikan. Keterbukaan menjadi resep bahagiadaam rumah tangga. Bicarakan dari hati ke hati saat ada masalah yang mengganjal. Sampaikan dengan lembut dan penuh cinta. Bukan dengan cacian, makian, atau sumpah serapah.

                Kata-kata yang baik ibarat pohon, akarnya kuat tertanam, cabangnya menjulang tinggi, daunnya meneduhkan, dan buahnya bermanfaat. Pastikan agar dalam berkomunikasi dengan pasangan selalu menggunakan kata dan  bahasa yang baik dan santun.

Tidak ada pembenaran bahwa saat marah atau tidak nyaman, seseorang berhak berkata kasar.  Dalam agama pun kita sudah diajarkan "Berkata baik atau lebih baik diam."

***

Pertengkaran dengan pasangan TIDAK PERLU TERJADI bila setiap diri mampu menjaga diri, hati, pikiran, dan perasaannya selalu dalam kebaikan.

Tetaplah dalam kebaikan walau berada di sekitar keburukan. Tetaplah menjadi cahaya walau dalam kegelapan. Tetaplah jadi diri yang Terbaik.

Pernikahan sungguh ikatan yang sangat berharga. Jangan biarkan ternodai oleh pertengkaran. Hiasi pernikahan kita dengan kebahagiaan.

***

Allah pertegas dalam Qs. Al-Mu'minun 96: "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik."

Jadi saat mendapati ada kesalahan pada pasangan, jangan dibalas dengan amarah atau perbuatan yang bisa-bisa lebih buruk dari kesalahan yang dilakukan pasangan. Tentu itu tidak mendidik dan sikap yang salah. Perbuatan salah disikapi dengan salah jadi keduanya sama saja salah.

Empat tips yang sudah disampaikan lewat web tadi insya Allah akan sangat membantu untuk menenangkan hati dan menjadi jalan keluar saat bermasalah dengan pasangan.

Hindari pertengkaran, Selesaikan setiap persoalan dengan Tenang.

Terima kasih
Sukmadiarti Perangin-angin 🤗😇


View Post


Seringkali orangtua protes, merasa kesal karena anaknya sulit diatur, ngeyel, dan suka membantah. Bolak-balik orangtua harus mengelus dada atau mengusap air matanya karena menahan rasa kesal akan sikap anak-anak yang tidak sesuai harapannya.

Tanpa sadar, orangtua seringkali menempatkan dirinya yang benar, dan anak yang salah. Akibatnya, sikap yang terbentuk adalah mengeluh dan menghakimi anak.

Bagaimana kalau posisinya dibalik?
Orangtua mengubah cara pandangnya. Bila ada perilaku anak yang salah, maka orangtua akan memposisikan dirinya yang ada salah.

Cara pandang yang menempatkan letak kesalahan pada diri sendiri ini akan memudahkan orangtua untuk mengevaluasi diri dan pengasuhannya. Juga memudahkan orangtua untuk bisa mengelola emosinya agar tidak salah bersikap pada anak.

Tidak jarang, kesalahan anak berawal dari kurangnya perhatian yang diberikan orangtua pada anaknya. Sedikit sekali bahkan tidak ada waktu bersama anak. Kalaupun bersama, sedikit sekali interaksi yang terjalin. Akibatnya, anak dan orangtua kurang memiliki kelekatan (attachment) yang baik.

Anak yang kurang lekat dengan orangtuanya akan rentan sekali dengan pengaruh buruk dari lingkungan. Ia akan mudah dipengaruhi orang lain dan terbawa arus pergaulan. Efeknya tentu tidak baik bagi perkembangan anak, khususnya bila lingkungannya leboh didominasi oleh hal yang negatif. Pengaruh buruk akan mudah menguasainya.

Tidak lekat dengan orangtua juga membuat anak memiliki harga diri yang rendah. Ia merasa tak berharga, merasa tak dicintai. Efeknya, ia akan mencari cinta di luar, atau ia akan menjadi anak yang "nakal" demi melampiaskan kekecewaannya pada orangtua.

Mulailah mengubah kesalahan anak dengan mengubah diri orangtua terlebih dulu. Mulai memperbaiki kembali ikatan emosional dengan anak. Meluangkan lebih banyak waktu dan momen bersama dengan anak. Saling berbagi, bercerita, bermain, dan bercanda tawa bersama. Lakukan kebersamaan itu tanpa beban, dengan tulus, dan penuh cinta.

Mulailah perubahan itu dengan cinta. Walau ada salah dan khilaf yang telah dilakukan anak dan orangtua, lepaskanlah itu dengan saling memaafkan. Perbaiki kembali ikatan yang selama ini mulai longgar atau terputus.

Tanpa sadar, orangtua seringkali banyak menuntut, tapi lupa memberi pada anaknya. Lupa memberi cinta, kasing sayang, perhatian, bimbingan, dan doa yang tulus. Sungguh tidak adil rasanya, bila orangtua banyak menuntut anak tapi masih sedikit sekali yang diberi.

Bukankah Rasulullah mengajarkan kita untuk banyak memberi kebaikan dan kasih sayang pada orang-orang terdekat. Memberi akan menumbuhkan ikatan hati yang kuat baik bagi yang memberi maupun yang diberi. Pemberian cinta kasih sayang yang tulus dan ikhlas akan jauh lebih berharga dan bermakna bagi hubungan orangtua dan anak, dibandingkan pemberian materi. 

Setiap insan membutuhkan cinta. Berikan cinta yang berlimpah pada anak, Insya Allah anak pun akan membalas cinta itu bahkan sebelum orangtua memintanya. 

by: Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi.,Psikolog
View Post

Parenting adalah ilmu tentang pendidikan dan pengasuhan anak. Ilmu yang sangat berharga dan dibutuhkan oleh orang tua atau calon orang tua sebagai bekal dalam mengasuh buah hati. Faktanya, di negeri kita, ilmu parenting ini masih minim sekali bahkan mungkin tidak kita dapatkan sebagai bekal menjadi orang tua atau calon orang tua. Akhirnya, orang tua mengasuh anaknya secara otodidak. Kebanyakan belajar dari pengamatan terhadap pola asuh orang tua kita sebelumnya. Bila orang tua dahulu mengasuh dengan pola yang keras, maka sedikit banyak pola asuh itu pun akan ikut mempengaruhi cara mengasuh orang tua di masa kini.

Alhamdulillah saat ini mulai banyak tokoh yang membahas dan memfasilitasi pembelajaran parenting ini. Baik melalui buku, seminar, media sosial, dan kulwapp secara online. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan.

Investasi ilmu adalah investasi berharga yang juga orang tua butuhkan dalam keluarga. Karena anak adalah harta paling berharga bagi orang tua maka menginvestasikan waktu dan ilmu untuk optimalisasi tumbuh kembang anak menjadi hal yang penting diperhatikan.

Positive parenting adalah salah satu cara yang bisa orang tua terapkan dalam mendidik dan mengasuh buah hati. Positive parenting artinya mendidik dan mengasuh anak dengan cara-cara yang positif. Positif adalah lawan dari negatif.

Saat orang tua mendapati kondisi anak yang di luar harapan orang tua, umumnya respon yang diberikan pada anak adalah negatif. Orang tua umumnya menanggapi perilaku anak yang "negatif" dengan amarah, cubitan, hukuman, label negatif, omelan, dan sejenisnya.

Positive parenting mendorong orang tua untuk bisa merespon berbagai perilaku anak, termasuk yang "negatif" dengan cara yang positif.*
Mengapa?
*Pertama*, karena negatif dalam pikiran orang tua belum tentu negatif bagi anak.

Anak-anak belum sepenuhnya bisa memahami makna dari perilakunya. Terkadang mereka melalukannya karena melihat teman, tayangan televisi atau youtube, media sosial, dan sejenisnya.

Awalnya anak melakukannya karena *meniru* sekelilingnya. Karena fase pembelajarannya berada pada tahap meniru.

"Jadi pada awalnya ia berbuat karena meniru."

Tugas orang tua, guru, dan masyarakatlah kemudian untuk *meluruskan* mana kala melihat ada perilaku anak yang "salah atau negatif" dari sisi moral atau agama.

Meluruskan bukan memarahi. Beda ya

Contoh kasus:

Saat melihat ada anak mengejek-ejek temannya atau berkata tidak sopan misal "bodoh kamu" pada temannya.

Bagaimana respon kita seharusnya sebagai orang dewasa?

Jika perilaku negatif direspon dengan negatif maka akan sulit menemui titik temu.

Seperti magnet, bila kutub negatif bertemu negatif maka akan membal. Tidak bisa menyatu. Tetapi saat kutub negatif bertemu positif maka akan saling menyatu.

Begitu pula kiranya dalam pengasuhan anak. Ketika mendapati perilaku anak yang "negatif" maka berikan respon yang positif untuk meluruskannya

Jika orang tua memberikan respon yang negatif, anak akan bingung, karena ia merasa dimarahi / dihukum tanpa sebab. Karena anak belum paham bahwa ia melakukan hal yang salah di mata orang dewasa.

Yang terjadi justru anak bisa ikut marah, berontak bahkan melawan.

Solusinya:

Ketika menegur anak beri pemahaman pula tentang makna perilakunya itu baik atau buruk secara moral dan agama. Atau bisa dengan mengajaknya berdiskusi.

Misal: Adik, kalau teman adik bilang adik bodoh, adik senang nggak?

Adik suka nggak kalau adik di ejek-ejek teman di sekolah?

Kira-kira bagaimana perasaan teman yang diejek itu, senang atau sedih saat diejek?

Adik mengejek teman itu tidak baik. Karena akan membuat teman menjadi sedih dan tidak senang pada Adik. Selain itu, agama juga melarang kita untuk memanggil saudara kita dengan panggilan yang buruk. Kita dianjurkan untuk saling menyayangi sesama teman. Karena kita semua adalah saudara.

*Kedua*, Kemampuan berpikir anak sedang berkembang. Golden Age.

Bila yang diterima anak lebih banyak perkataan atau respon negatif dari sekelilingnya maka kreativitas dan kemampuan berpikir anak akan terganggu.

Sedikit-dikit disalahkan, dimarahi, dihukum, disakiti.

Akhirnya anak jadi takut atau malas untuk mencoba dan berbuat lebih.

Solusinya

Berikan anak kepercayaan dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal.

Tetapi tetap dalam pengawasan dan batasan dari orang tua.

*Ketiga*, Orang Tua Akan Semakin Happy

Kebayang nggak sih kalau tiap hari Ibu merasa tertekan dengan tingkah polah anak yang beraneka rupa. Marah-marah, kesal, dan selalu mengeluh tentang anak. Bisa-bisa ibu cepat tua dong.

Untuk itu pikiran orang tua harus selalu bahagia saat mendampingi ananda. Agar tidak mudah terpancing emosi dalam merespon berbagai perilaku ananda.

Saat orang tua bahagia maka akan lebih tenang dan bijak dalam merespon perilaku anak.

Anak bukanlah sumber masalah, melainkan anugerah dari Sang Pencipta. Tidak semua pasangan mendapatkan anugerah ini.

Orang tua harus bersyukur dan bersungguh-sungguh menjaga amanah anak dari Allah, karena anak adalah titipan Ilahi.

Untuk itu orang tua harus bahagia dengan kehadiran ananda dan berusaha untuk selalu membahagiakan mereka dalam proses tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak.

Dan berusaha untuk selalu melihat sisi positif pada diri anak.

*Keempat, Anak adalah Fitrah*

Setiap anak terlahir suci dan membawa potensi unggul dari Sang Pencipta.

Walaupun misal fisiknya "tidak sempurna" dalam pandangan manusia karena cacat dan sejenisnya, di sisi Allah semua tercipta dengan potensi unggulnya masing-masing.

Orang tua lah yang kemudian bertugas untuk membentuk, memoles, dan mengarahkan agar potensi unggul tersebut bisa muncul dan berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri anak, keluarga, masyarakat dan agama.

Ada anak yang memiliki keterbatasan fisik, tapi bisa tumbuh dengan prestasi. Ada yang menjadi atlet, seniman, penulis buku, motivator, dll.

Tapi, ada pula anak yang secara fisik sempurna, tapi kemudian menoreh luka bagi orang tua, keluarga dan agama. Karena narkoba, seks bebas, bullying, dan lainnya.

Apa yang membedakannya?

Salah satunya adalah pola pendidikan dan pengasuhan dari orang tua. Orang tua yang menyadari fitrah unggul setiap anak akan mampu menggali, menemukan, dan memfasilitasi tumbuh kembang anak agar semakin optimal sehingga dapat menjadi anak yang membanggakan di dunia dan akhirat.

Tentu untuk bisa melihat potensi unggul sang anak, orang tua harus *sering membersamai* ananda dalam proses tumbuh kembangnya.

Dengan sering berinteraksi dengan anak, orang tua akan dapat melihat dan mengetahui apa kelebihan dan kekurangan ananda. Sehingga orang tua bisa melakukan langkah-langkah untuk meminimalisir kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan ananda.

Bila orang tua jarang berinteraksi dan bermain bersama anak tentu akan kesulitan mengetahui potensi unggul yang ada pada diri ananda.

Menjadi orang tua bukanlah persoalan yang mudah. Butuh kesungguhan pula dari dalam diri orang tua.

Karena pendidikan anak tidak bisa instan. Ia butuh proses dari waktu ke waktu yang harus orang tua dampingi sejak dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal hingga kelak menjadi bintang yang cemerlang di masanya kelak.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan positive parenting seperti pemaparan di atas.


View Post



MENDIDIK ANAK ALA POSITIVE PARENTING

Oleh : Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi.,Psikolog

Parenting adalah ilmu tentang pendidikan dan pengasuhan anak. Ilmu yang sangat berharga dan dibutuhkan oleh orang tua atau calon orang tua sebagai bekal dalam mengasuh buah hati.

Faktanya, di negeri kita, ilmu parenting ini masih minim sekali bahkan mungkin tidak kita dapatkan sebagai bekal menjadi orang tua atau calon orang tua.

Akhirnya, orang tua mengasuh anaknya secara otodidak.

Kebanyakan belajar dari pengamatan terhadap pola asuh orang tua kita sebelumnya.

Bila orang tua dahulu mengasuh dengan pola yang keras, maka sedikit banyak pola asuh itu pun akan ikut mempengaruhi cara mengasuh orang tua di masa kini.

Alhamdulillah saat ini mulai banyak tokoh yang membahas dan memfasilitasi pembelajaran parenting ini. Baik melalui buku, seminar, media sosial, dan kulwapp seperti yang diadakan saat ini.

Alhamdulillah beruntungnya bunda-bunda yang belajar saat ini karena niat dan kemauan belajar insya Allah akan mendatangkan kebaikan.

Investasi ilmu adalah investasi berharga yang juga orang tua butuhkan dalam keluarga. Karena anak adalah harta paling berharga bagi orang tua maka menginvestasikan waktu dan ilmu untuk optimalisasi tumbuh kembang anak menjadi hal yang penting diperhatikan.


POSITIVE PARENTING adalah salah satu cara yang bisa orang tua terapkan dalam mendidik dan mengasuh buah hati.

Positive parenting artinya mendidik dan mengasuh anak dengan cara-cara yang positif. Positif adalah lawan dari negatif.

Saat orang tua mendapati kondisi anak yang di luar harapan orang tua, umumnya respon yang diberikan pada anak adalah negatif.

Orang tua umumnya menanggapi perilaku anak yang "negatif" dengan amarah, cubitan, hukuman, label negatif, omelan, dan sejenisnya.

"Positive parenting mendorong orang tua untuk bisa merespon berbagai perilaku anak, termasuk yang negatif, dengan cara yang positif."

Mengapa?

  • Pertama, NEGATIF BAGI ANAK, BELUM TENTU NEGATIF DALAM PIKIRAN ANAK

Anak-anak belum sepenuhnya bisa memahami makna dari perilakunya. Terkadang mereka melalukannya karena melihat teman, tayangan televisi atau youtube, media sosial, dan sejenisnya.

Awalnya anak melakukannya karena *meniru* sekelilingnya. Karena fase pembelajarannya berada pada tahap meniru.

"Jadi pada awalnya ia berbuat karena meniru."

Tugas orang tua, guru, dan masyarakatlah kemudian untuk *meluruskan* mana kala melihat ada perilaku anak yang "salah atau negatif" dari sisi moral atau agama.

Meluruskan bukan memarahi. Beda ya

Contoh kasus:

Saat melihat ada anak mengejek-ejek temannya atau berkata tidak sopan misal "bodoh kamu" pada temannya.

Bagaimana respon kita seharusnya sebagai orang dewasa?

Jika perilaku negatif direspon dengan negatif maka akan sulit menemui titik temu.

Seperti magnet, bila kutub negatif bertemu negatif maka akan membal. Tidak bisa menyatu. Tetapi saat kutub negatif bertemu positif maka akan saling menyatu.

Begitu pula kiranya dalam pengasuhan anak. Ketika mendapati perilaku anak yang "negatif" maka berikan respon yang positif untuk meluruskannya

Jika orang tua memberikan respon yang negatif, anak akan bingung, karena ia merasa dimarahi / dihukum tanpa sebab. Karena anak belum paham bahwa ia melakukan hal yang salah di mata orang dewasa.

Yang terjadi justru anak bisa ikut marah, berontak bahkan melawan.

Solusinya:

Ketika menegur anak beri pemahaman pula tentang makna perilakunya itu baik atau buruk secara moral dan agama. Atau bisa dengan mengajaknya berdiskusi.

Misal: Adik, kalau teman adik bilang adik bodoh, adik senang nggak?

Adik suka nggak kalau adik di ejek-ejek teman di sekolah?

Kira-kira bagaimana perasaan teman yang diejek itu, senang atau sedih saat diejek?

Adik mengejek teman itu tidak baik. Karena akan membuat teman menjadi sedih dan tidak senang pada Adik. Selain itu, agama juga melarang kita untuk memanggil saudara kita dengan panggilan yang buruk. Kita dianjurkan untuk saling menyayangi sesama teman. Karena kita semua adalah saudara.

  • Kedua, MASA GOLDEN AGE

Bila yang diterima anak lebih banyak perkataan atau respon negatif dari sekelilingnya maka kreativitas dan kemampuan berpikir anak akan terganggu.

Sedikit-dikit disalahkan, dimarahi, dihukum, disakiti.

Akhirnya anak jadi takut atau malas untuk mencoba dan berbuat lebih.

Solusinya

Berikan anak kepercayaan dan kesempatan untuk mencoba berbagai hal.

Tetapi tetap dalam pengawasan dan batasan dari orang tua.

  • Ketiga, ORANGTUA AKAN SEMAKIN BAHAGIA
Kebayang nggak sih kalau tiap hari Ibu merasa tertekan dengan tingkah polah anak yang beraneka rupa. Marah-marah, kesal, dan selalu mengeluh tentang anak. Bisa-bisa ibu cepat tua dong.

Untuk itu pikiran orang tua harus selalu bahagia saat mendampingi ananda. Agar tidak mudah terpancing emosi dalam merespon berbagai perilaku ananda.

Saat orang tua bahagia maka akan lebih tenang dan bijak dalam merespon perilaku anak.

Anak bukanlah sumber masalah, melainkan anugerah dari Sang Pencipta. Tidak semua pasangan mendapatkan anugerah ini.

Orang tua harus bersyukur dan bersungguh-sungguh menjaga amanah anak dari Allah, karena anak adalah titipan Ilahi.

Untuk itu orang tua harus bahagia dengan kehadiran ananda dan berusaha untuk selalu membahagiakan mereka dalam proses tumbuh kembangnya hingga dewasa kelak.

Dan berusaha untuk selalu melihat sisi positif pada diri anak.

  • Keempat, ANAK TERLAHIR FITRAH

Setiap anak terlahir suci dan membawa potensi unggul dari Sang Pencipta.

Walaupun misal fisiknya "tidak sempurna" dalam pandangan manusia karena cacat dan sejenisnya, di sisi Allah semua tercipta dengan potensi unggulnya masing-masing.

Orang tua lah yang kemudian bertugas untuk membentuk, memoles, dan mengarahkan agar potensi unggul tersebut bisa muncul dan berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi diri anak, keluarga, masyarakat dan agama.

Ada anak yang memiliki keterbatasan fisik, tapi bisa tumbuh dengan prestasi. Ada yang menjadi atlet, seniman, penulis buku, motivator, dll.

Tapi, ada pula anak yang secara fisik sempurna, tapi kemudian menoreh luka bagi orang tua, keluarga dan agama. Karena narkoba, seks bebas, bullying, dan lainnya.

Apa yang membedakannya?

Salah satunya adalah pola pendidikan dan pengasuhan dari orang tua. Orang tua yang menyadari fitrah unggul setiap anak akan mampu menggali, menemukan, dan memfasilitasi tumbuh kembang anak agar semakin optimal sehingga dapat menjadi anak yang membanggakan di dunia dan akhirat.

Tentu untuk bisa melihat potensi unggul sang anak, orang tua harus *sering membersamai* ananda dalam proses tumbuh kembangnya.

Dengan sering berinteraksi dengan anak, orang tua akan dapat melihat dan mengetahui apa kelebihan dan kekurangan ananda. Sehingga orang tua bisa melakukan langkah-langkah untuk meminimalisir kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan ananda.

Bila orang tua jarang berinteraksi dan bermain bersama anak tentu akan kesulitan mengetahui potensi unggul yang ada pada diri ananda.

Menjadi orang tua bukanlah persoalan yang mudah. Butuh kesungguhan pula dari dalam diri orang tua.

Karena pendidikan anak tidak bisa instan. Ia butuh proses dari waktu ke waktu yang harus orang tua dampingi sejak dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal hingga kelak menjadi bintang yang cemerlang di masanya kelak.

Salah satu caranya adalah dengan menerapkan positive parenting dalam mengasuh buah hati tercinta.

🤗🤗🤗

Tulisan di atas adalah salah satu materi yang ada dalam buku Parenting School : Orangtua Bahagia Anak Tumbuh Ceria.

Tulisan lainnya yang membahas permasalahan dan penanganan seputar pengasuhan anak selengkapnya dibahas dalam buku PARENTING SHOOL; Orangtua Bahagia, Anak Tumbuh Ceria.

Buku ini dapat dipesan untuk bacaan pribadi, kado lahiran, perpustakaan, dan bagi orangtua murid untuk menyambut masa
sekolah.

Pemesanan buku parenting ke Wa 081362359651
Konsultasi parenting


View Post