BAHAGIAKAN ORANG LAIN MAKA KITA AKAN LEBIH BAHAGIA LAGI

Bahagia akan hadir saat bisa membahagiakan orang lain.

Saat dimana kita tidak lagi hanya berfokus pada kebahagiaan diri, tapi sudah beralih ke bagaimana cara membahagiakan orang lain.

Saat dimana kita tidak lagi hanya berfokus pada masalah kita sendiri, namun sudah bisa beralih pada mendoakan jalan keluar atas masalah orang lain, khususnya yang mengalami masalah sama dengan kita.

Saat dimana kita memberi, sementara kita juga sedang membutuhkannya.

Saat dimana kita memberi apa yang kita suka, pada orang lain yang juga menyukainya.

Sesungguhnya, itulah bahagia sejati.
Bahagia yang hanya bisa dipahami dengan hati.
Bahagia yang hanya bisa dirasakan saat kita sudah mengamalkannya.
Bahagia yang bisa semakin besar saat kita telah merasakan dahsyatnya ketenangan dan balasan atas bahagia yang kita beri pada orang lain.

Raihlah bahagia itu.

Seorang guru saya berbagi kisahnya, bahwa selama ini ia hanya fokus menyelesaikan masalahnya. Kebetulan ia punya anak autis.

Ia berdoa untuk kesembuhan dan kebaikan anaknya. Fokus terus pada masalah dan anaknya.

Sampai suatu ketika ia mendapat ilmu, bahwa masalah itu datangnya dari Allah. Ada pesan yang ingin Allah sampaikan pada diri kita. Pahami dan cari itu.

Masalah bukan untuk dilawan tapi untuk diterima. Maka terima dulu masalahnya dengan ikhlas. Raih ketenangan dan cobalah bersyukur atas masalah yang dihadapi.

Beliau pun kemudian menerima masalah tersebut dengan ikhlas. Karena Allah yang beri masalah pasti pula Allah yang mempunyai jalan keluarnya.

Maka ia terus ikhtiar mendekat pada Allah agar Allah ridho padaNya.

Lalu beliau mendapat ilmu baru lagi, bahwa kita punya masalah. Orang lain pun punya masalah. Jangan hanya fokus pada masalah kita. Tapi cobalah mendoakan orang lain yang juga punya masalah, yang juga sama dengan kita. Doakan mereka

Maka sejak itu ia fokus mendoakan teman-temannya yang juga punya anak autis. Ia doakan kesehatan kesembuhan kebaikan bagi anak-anak autis yang ia kenal, dan ia pun juga mendoakan orangtua anak-anak tersebut agar diberikan ketenangan dan jalan keluar dalam menerima kondisi anaknya.

Masya Allah
Pagi ia berdoa seperti itu
Dan sorenya Allah langsung menjawab doanya. Sore itu, anaknya yang selama ini belum bisa bicara, sudah bisa bicara. Sepatah dua kata. Dan kini, anak tersebut bahkan sudah hafal 4 juz alquran. Semua atas ijin Allah.

Masya Allah
Semua atas kuasanya Allah
Tiada yang mustahil bagi Allah

Maka jangan sandarkan hati kita pada metode, pada manusia, pada harta, ataua pada apapun. Sandarkan saja semua harapan, doa, dan masalah kita pada Allah yang maha kuasa. Maka keajaiban akan datang.

Insya Allah

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog

#bahagia #happiness #psikologi #autisme #seft
View Post
KESUKSESAN ADALAH BUAH DARI KEBAIKAN YANG DIBIASAKAN

Salah satu amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan dengan rutin. Bukan semata terkait besar kecil atau banyak sedikitnya amalan yang dilakukan, tapi lebih kepada seberapa rutin kita melakukannnya. Dalam ilmu psikologi ini disebut dengan conditioning ( pengkondisian).

Kita sebenarnya bisa mengkondisikan diri kita untuk mencapai impian yang diinginkan. Dengan cara mulai membangun sebuah kebiasaan positif yang terkait dengan  impian tersebut.

Bila impian kita adalah menjadi pembicara publik, maka kita bisa membiasakan diri kita dengan membaca satu dua bab buku setiap hari. Hal ini ketika dilakukan rutin maka akan menambah kapasitas dan kompetensi kita sebagai pembicara.

Bila kita ingin menjadi penghafal alquran, maka kita bisa mulai dengan membiasakan diri kita menambah hafalan one day one ayat, misalnya. Dengan rutinitas ini maka hafalan kita akan bertambah hari ke hari.

Bila kita ingin menjadi ahlul quran, kita bisa membiasakan diri kita membaca one day one juz, sehingga hari-hari kita banyak diisi dengan interaksi bersama alquran.

Bila kita ingin menjadi guru dan orang tua yang disayang, maka kita bisa membiasakan tersenyum dan berwajah ceria setiap bertegur sapa dengan anak kita, sehingga membuat mereka nyaman bersama kita dan merasa dirinya diterima dan berharga.

Tentu untuk membentuk kebiasaan tersebut harus ada usaha dan pengorbanan yang kita berikan. Tak heran para ulama mengatakan bahwa untuk berbuat baik itu HARUS DIPAKSAKAN pada awalnya. Kalau tidak, sampai kiamat pun hanya akan ada di angan-angan saja, hehe. Paksakan, kata para ustad.

Awalnya mungkin kita akan merasa berat, tertatih-tatih, namun seiring waktu tubuh, pikiran, dan perasaan kita akan terkondisi. Bahkan menjadi merasa ada yang kurang bila tidak melakukan rutinitas tersebut. Inilah buah dari kebiasaan positif.

Sehingga Allah pun mengganjarnya bahwa bila seseorang terbiasa berbuat suatu amalan, dan suatu ketika karena suatu hal ia terhalang melakukannya, maka ia sudah mendapat pahala atasnya. Masya Allah

Mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat kita semua untuk terus memaksa diri dalam kebaikan.

Semangat ..

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
www.positiveconsulting.id
View Post



Tahukah sahabat, siapa wanita yang paling cantik?

Dia adalah wanita yang sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Tidak lagi melekat pada sesuatu di luar dirinya, semisal perhiasan, pakaian, kendaraan, jabatan, atau lainnya.

Ia menjadi cantik bukan karena fisik semata, tapi lebih dari itu, yakni karena kebaikan hatinya. Hatinya yang bersih memancarkan energi positif bagi setiap jiwa yang melihat, mendengar, dekat, dan berinteraksi dengannya.

Saat bertemu dengannya, kita merasa nyaman dan betah berlama-lama. Ada pancaran ketulusan dari hatinya yang membuat hati senang berlama-lama di dekatnya.

Saat bertemu dengannya, hati yang sedih, gundah, gelisah, menjadi tenang dan damai. Ia mampu menyalurkan energi positif pada jiwa yang sedang dikelabui energi negatif. Seakan kita mendapat energi baru yang menguatkan saat bersamanya.

Dia yang cantik adalah dia yang mampu membuat orang lain merasa nyaman dengannya. Bukan karena apa yang ia miliki. Tapi karena apa yang ia beri.

Itulah CANTIK yang sesungguhnya.
Kecantikan yang terpancar dari dalam hati. Keluar pancarannya dalam bentuk lisan yang terjaga,  wajah yang ramah penuh senyum, akhlak dan perilakunya yang santun.

Ia tidak berkata-kata, tapi perilakunya, ekspresi wajahnya, gesture tubuhnya membuatnya menjadi begitu mempesona. Ia menjadi cantik karena kebaikan yang ia berikan pada sekelilingnya.

Jadi, sahabat cantik semua. Kita semua adalah wanita yang paling cantik, saat kita bisa menjadikan diri kita bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.

Orang lain tidak melihat kita dari apa yang kita miliki. Tapi mereka melihat kita dari apa yang kita beri. Selama hal yang kita miliki belum memberi arti dan manfaat bagi mereka, maka kita belum berarti baginya. Tapi, saat kita telah memberi maka di situlah kita menjadi seseorang yang ISTIMEWA di hatinya.

Jadilah pribadi yang cantik. Cantik dari hatinya.
Barakallah ❤️

Setuju ?☺️

By: Sukmadiarti, Psikolog
#pengembangandiri
#motivasi
View Post
MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA

Orangtua, perlu berlatih mengendalikan emosinya. Mengapa berlatih?

Ya, karena menjadi orangtua adalah peran yang baru bagi setiap orangtua.

Bisa di bilang masih gamang menjalaninya pada awalnya.

Emosi senang, bingung ,takut, campur aduk seiring peran itu hadir dalam kehidupan orangtua.

Seiring waktu pula, orangtua belajar dan berlatih mengenali dan mengelola emosinya agar bisa seirama dan nyaman bersama dengan anaknya.

Untuk itulah, penting bagi orangtua memiliki kecerdasan emosional yang baik agar ia mampu menjadi orangtua yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya dan juga emosi orang lain.

*Orangtua yang memiliki kecerdasan emosional yang baik artinya ia mampu mengenali emosinya sendiri juga mengenali emosi anaknya.*

Manfaat dari mengenali emosi diri dan orang lain sangat banyak.

Bila orangtua mengenali emosinya sendiri, ia akan tahu dan sadar kapan ia harus diam, dan kapan harus bertindak.

Begitu pula saat orangtua bisa mengenali emosi anaknya, maka orangtua akan mudah menentukan sikap apa yang akan diambilnya untuk merespon anaknya. Orangtua tahu apa kebutuhan anaknya dan bisa cepat merespon dengan tepat kebutuhan anaknya karena ia bisa mengenali emosi anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Sejak anak lahir, kita telah belajar mengenali emosi anak lewat tangisannya.

Ibu, khususnya, akan belajar mengenali tangisan bayinya. Apakah ini tangisan lapar, haus, sakit, ngantuk, kepanasan, kedinginan, takut, atau lainnya.

Ibu yang menyusui bayinya, tentu akan lebih mengenali & memahami kebutuhan anaknya lebih cepat.

Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk menyapih anak diusia 2th. Tujuannya agar ibu dapat lebih mengenali dan memahami buah hatinya, serta bisa membangun kedekatan emosional yang baik (kelekatan) dengan anaknya.

Tujuannya tentu agar semakin baik hubungan dan komunikasi antara orangtua dan anak sejak dini dan seterusnya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 *Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan berpikir dahulu sebelum bertindak.*

Contoh, ketika melihat anak sedang "bertengkar"  dan ada yant menangis.

Coba kenali dulu emosi orangtua. Apakah orangtua "terpancing emosi" saat melihat kejadian yang tidak nyaman pada anaknya.

Dengarkan detak jantung orangtua. Bila jantung itu berdetak kencang tak beraturan, artinya kita sedang terpancing emosi, karena perilaku anak.

Maka saat menyadari emosi kita tidak stabil, sedang dikuasai amarah, atau sedang tidak terkendali, kita tahu harusnya kita DIAM dulu sebelum bertindak apapun.

Karena, setiap perkataan atau perbuatan yang dilakukan saat diri sedang dikuasai emosi negatif, hasilnya selalu salah.

Untuk itu orangtua perlu menenangkan dirinya lebih dahulu.

Lakukan langkah untuk membuat emosi kembali stabil TERLEBIH DULU sebelum bertindak apapun.

Diantaranya:
❤️ Tarik nafas panjang, lalu buang perlahan, lakukan berulang.
❤️ Diam dan mencari lokasi aman dulu untuk meredakan emosi
❤️ Ubah posisi tubuh senyaman mungkin
❤️ Berwudhu, ademin hati dengan air.

Setelah orangtua tenang, silahkan damaikan situasi yang sedang menegang diantara anak-anak.

Biasanya sih, saat orangtua menyikapi mereka dengan tenang, mereka pun akan segera tenang πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
*Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan bertindak bijak dan tidak gegabah. Hasilnya, sikap, lisan, perbuatannya akan terjaga dan bisa memberi solusi dan kenyamanan bagi anaknya.*

*Orangtua yang bisa  mengenali emosi anaknya akan mampu bersikap dan memberi respon yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan anaknya, hasilnya anak pun bahagia.*

Ketika melihat anak bertengkar dan menangis, orangtua yang mampu mengenali emosi anaknya akan cepat paham kebutuhan anaknya.

*Orangtua tahu bahwa apapun perilaku anak tidak lain tidak bukan mereka lakukan untuk meraih perhatian orangtua dan ingin mendapat kenyamanan dan perlindungan dari orangtuanya.*

Contoh saat anak menangis, orangtua akan paham dan coba mengenali tangisan anaknya. Apakah perilaku anak yang menangis ini adalah gejala:
πŸ‘ Mengantuk
πŸ‘ Lapar
πŸ‘  Ingin cari perlindungan
πŸ‘Butuh rasa aman
πŸ‘Butuh kenyamanan
πŸ‘Butuh perhatian

Biasanya, anak-anak yang lapar dan ngantuk, akan menjadi lebih mudah terpancing emosinya, maka penting sekali bagi orangtua untuk kebali emosi anaknya.

Kenali makna dibalik perilaku anak.

Bila orangtua cepat mengenali tentu tau apa sikap yang harus di ambil saat ketemu momen yang menggemaskan di rumah.

Tentunya, orangtua akan memberi perlindungan dulu bila ada kondisi yang belum nyaman.

Ingat! Memberi perlindungan. Bukan mengancam apalagi menghakimi salah satu anak atau keduanya.

Jadi orangtua yang bisa mengenali orang lain, dalam hal ini anak, maka ia tahu bahwa anak yang sedang berantem sedang butuh perlindungan dan rasa aman dari orang dewasa yang dianggap bisa mendamaikan mereka yang tengah bertikai.

Bukan justru malah membuat tambah nggak aman πŸ˜‡πŸŒΉ

Jadi kenali emosi orangtua sendiri dan kenali emosi anak.

Anak yang menangis atau berteriak adalah anak yang butuh perlindungan dan rasa aman. Segera berikan kedua hal itu. Hadir di dekat mereka, tenangkan yang menangis, redakan tangisnya tanpa perlu menghakimi anak lain yang dikira membuatnya menangis.

Tidak perlu ada keributan akibat omelan orangtua atau adegan tambahan berupa kekerasan akibat memihak salah satu pihak.

Insya Allah suasana akan segera aman terkendali dan nyaman bagi semuanya.

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Bila orangtua mampu mengenali dan mengelola emosinya  dengan baik serta juga mampu mengenali emosi anaknya, maka itu artinya orangtua telah memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Semakin baik kecerdasan emosi orangtua maka hubungannya dengan anak-anak pun otomatis semakin baik dan dekat.

Orangtua nyaman dan happy bersama anaknya dan anak pun juga ikut merasa aman dan nyaman bersama orangtuanya.

Ini tentu sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional anak.

Karena emosi bersifat menular. Ibu yang memiliki emosi yang positif akan mampu menularkan emosi positif itu pula pada anaknya.

Jadi, bila orangtua ingin anaknya cerdas emosinya, mampu mengelola amarahnya, baik dan santun sikapnya, maka orangtua harus bisa mencontohkannya lebih dulu pada dirinya dan pada sikapnya ke anak-anak.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Berbahagialah Bunda, karena diri kita sendirilah yang paling bisa membahagiakan anak-anak kita.

Anak-anak kita tidak menginginkan orangtua yang lain. Mereka menginginkan kita, orangtuanya sendiri.

Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang begitu luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali.

Begitu pula hendaknya sebaliknya. Seberapa pun banyak kekurangan dan kesalahan anak-anak kita,  kita harus menerima dan memaafkan mereka sepenuh dan setulus hati kita.

Lapanglah hati kita
Mudahlah memaafkan
Terima anak kita seperti apa adanya mereka
Hadirkan selalu bahagia saat membersamai mereka
Insya Allah mereka akan menjadi anak yang Bahagia dan mampu membahagiakan orangtuanya pula.

🌸 Semakin baik emosi orangtua, semakin baik hubungannya dengan anak, semakin bahagia pula orangtua dalam mengasuh buah hatinya. 🌸

Happy mom, happy life, happy family πŸ˜πŸ˜‡πŸ™πŸ»

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog

#kecerdasanemosional #parentingschool
View Post


Menurut penelitian, emosi dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang.

Seorang yang sedang marah, akan dihantui oleh perasaan yang tidak nyaman, berpikir negatif terhadap orang membuatnya marah, serta cenderung mudah menyakiti fisik dan perasaan orang lain dengan perkataan maupun perilakunya.

Bila seseorang mudah terbawa emosi (baper) maka ini dapat membuat ia menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri serta sulit untuk menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang lain.

Emosi mempengaruhi pikiran. Bila lebih sering memelihara emosi negatif maka ia mudah menilai orang lain dengan pikiran yang negatif pula sehingga kecenderungannya ia lebih memilih menghindar atau mengurangi interaksi sosial dengan orang lain.

Tentu saja memelihara emosi negatif membuat diri kita menjadi tidak produktif dan terkesan anti sosial. Orang bisa mengira diri kita sombong. Padahal sebenarnya kita "sedang bermasalah" dengan emosi diri kita sendiri.

Untuk itu, ada langkah yang bisa dilakukan untuk memelihara emosi kita agar tetap positif, yakni dengan MEMODIFIKASI EMOSI itu sendiri.

Modifikasi emosi bisa dilakukan dengan MENGUBAH TUBUH KITA.

Jadi posisinya dibalik. Bila di awal emosi mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku sehingga dapat mewujud dalam verbal dan nonverbal kita.

Maka dengan modofikasi, kondisinya kita balik.
Saat emosi kita sedang tidak baik, kita posisikan tubuh kita melakukan yang sebaliknya.

Saat kita sedang marah atau dimarahi, biasanya ekspresi wajah dan tubuh kita akan TEGANG. Siap-siap untuk posisi menyerang.

Lakukan SEBALIKNYA.
Longgarkan syaraf marah itu dengan membentuk SENYUMAN di wajah. Tujuannya, agar otot-otot kemarahan yang menegang bisa segera mengendur. Jadi lebih rileks.

Jadi dengan memodifikasi tubuh kita, kita bisa memodifikasi emosi kita. Untuk kebaikan dan tujuan yang positif.

Hasilnya, emosi itu menular. Maka saat ada anak, pasangan atau orang yang sedang marah, sekarang sudah tau ya cara menyikapinya? DISENYUMIN AJA 😊

Syaraf kita yang dimarahi menjadi rileks dan mengendur dan yang marah pun bisa ikut menjadi rileks karena melihat ekspresi wajah kita yang senyum.

Itu akan mempercepat situasi tegang berubah menjadi lebih nyaman.

Dalam lingkup PENDIDIKAN, hal ini pun dapat dipraktekkan. Anak yang belajar dalam.kondisi hati yang bahagai, akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan yang disampaikannoleh pendidiknya.

Maka, kita sebagai pendidik dapat memodifikasi proses pembelajaran di sekolah, dengan menciptakan terlebih dulu suasana yang menyenangkan sebelum proses pembelajaran di mulai.

Misal dengan olahraga atau gerakan ringan agar otot dan syaraf anak bersemangat dan ceria. Juga dengan membuat hal-hal positif seperti sentuhan nyaman bagi setiap anak bahwa mereka disambut bahagia oleh guru-gurunya. Sehingga kedekatan anak dan pendidik terbangun positif. Ini akan sangat membantu menyiapkan psikologis anak untuk menerima dan mengikuti proses pembelajaran di rumah atau pun sekolah.

Tokoh psikologi positif, Martin Seligman mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Setiap orang yang bahagia akan mampu menikmati dan menjalankan perannya dengan lebih baik dan totalitas.

Maka, saat ini dan seterusnya, kita harus memilih untuk selalu bahagia. Bila sedang tak bahagia, modifikasilah tubuh Anda agar segera kembali berbahagia.

SENYUM 😊😊😊

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
#positiveconsulting #psikolog #semarang
View Post
AKU MEMILIHMU KARENA-NYA & AKU MENCINTAIMU KARENA-NYA

Alhamdulillah, 10th sudah perjalanan biduk rumah tangga ini kita lalui.  Ummi bahagia bersama Ayah.

Rasulullah SAW sangat tepat membimbing kita untuk memilih pasangan karena agamanya dan mencintai pasangan juga karena-Nya. Maka sepanjang perjalanan pernikahan ini,  Ummi terus belajar mencintai Ayah karena-Nya.

Akhirnya, kini Ummi paham mengapa Rasulullah berpesan demikian. Bahwa ternyata pada diri pasangan, pasti akan kita temui kelemahan, ada saja kekhilafan, juga ia tak luput dari kesalahan. Pasangan kita juga adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Bila kita mencintai pasangan karena Allah, maka mudah bagi kita untuk menerima kekurangannya dan memaafkan kesalahannya. Karena kita sadar, bahwa pasangan kita adalah juga makhluk Allah yang punya salah dan khilaf serta lemah, sama halnya seperti diri kita.

Maka, bukan tempatnya kita bergantung pada pasangan kita. Karena kita dan pasangan sama-sama lemah. Maka kita harus selalu bergantung pada Allah, yang Maha Kuat, dalam segala persoalan yang kita hadapi, khususnya di rumah tangga.

Bila kita menikah atau mencintai pasangan kita karena hartanya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita kekurangan harta.

Bila kita mencintainya karena agamanya, maka kita pun akan mudah mengeluh saat ia lalai dan khilaf berbuat dosa.

Bila kita mencintainya karena fisiknya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita sakit-sakitan.

Bila kita mencintainya karena keluarganya yang terpandang, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat kita dapati sika dan perilaku dari keluarga pasangan yang kurang berkenan.

Maka benar kata Nabi SAW, *cintailah pasanganmu karena Allah saja.*

Dengan cinta itu, kita akan mudah menerima kekurangannya dengan ikhlas. Kita akan mudah memaafkannya karena Allah.

Mengapa? Karena cinta kita padanya karena Allah. Kita akan berusaha bersikap pada pasangan kita seperti apa yang Allah cintai.

Allah cinta pada istri yang taat pada suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga kehormatan suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga harta suaminya.

Allah cinta pada istri yang memaafkan suaminya, sebagaimana ia pun berharap Allah memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Maka bila kita temui kekurangan dan kesalahan pada pasangan, kita akan kembalikan lagi cinta kita kepada Allah dengan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Bersemilah selalu ikatan cinta yang dibina karena Allah.

Masya Allah
Alhamdulillahirabbilalamin

By: Bunda Sukma
#parentingschool
#sekolahpernikahan
#positiveconsulting
#Anniversary11th
View Post
KALAU ALLAH SUDAH RIDHA, APA SIH YANG NGGAK DIKASIH?

Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, adapun hasilnya adalah ketentuan Allah. Maka, beruntunglah kita bahwa dalam penilaian prestasi seorang hamba, Allah menilai prosesnya, bukan hasilnya.

Tugas kita adalah untuk terus menyempurnakan prosesnya (ikhtiar) dan ridha (ikhlas) akan hasilnya. Urusan hasil adalah wewenangnya Allah, sebagai pengatur alam semesta.

Perlu jadi motivasi bagi kita bahwa proses atau ikhtiar dan usaha yang kita berikan tidak akan mengkhianati hasil. Artinya, semakin sempurna usaha yang kita lakukan maka semakin baik pula hasil yang akan kita dapatkan.

Faktanya, namanya manusia, selalu merasa kurang. Adakalanya kita merasa kurang puas dengan hasil yang diperoleh. Ketidakpuasan ini menghasilkan kekecewaan, sehingga tidak lagi bersyukur atas ketetapan Allah.

Dalam riwayat kitab Musnad yang disarikan di buku Thibul Qulub, Klinik Penyakit Hati, karangan Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah, Nabi SAW bersabda

"Diantara sebab kebahagiaan manusia adalah istikharah kepada Allah dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan kepadanya. Dan diantara sebab kesengsaraan manusia adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka terhadap apa yang telah Allah tetapkan padanya."

Maka Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan bahwa ridha yang bermanfaat adalah ridha setelah ketetapan Allah diturunkan, bukan sebelumnya. Karena menginginkan sesuatu namun belum terlaksana dinamakan al-azm (rencana/keinginan) dan tatkala ketetapan Allah sudah berjalan maka rusaklah keinginan tersebut.

Untuk itulah, Nabi SAW pun berdoa pada Allah agar diberi ridha setelah turunnya ketetapan Allah.

Nabi saja berdoa agar bisa diberi keikhlasan hati. Apalagi kita, manusia biasa ini. Tentu kita lebih butuh, Allah hadirkan keridhaan pada hati kita dalam menerima segala ketetapannya.

Penelitian terbaru saat ini membuktikan bahwa dengan menghadirkan hati dan ikhlas menerima setiap ketetapan yang Allah berikan dalam hidup kita akan melahirkan kebahagiaan di hati.

Beberapa klien yang telah mengikuti terapi emosi dengan metode ikhlas ini, memberikan testomoni bahwa mereka merasakan banyak perubahan dalam dirinya, emosinya semakin stabil, dan kehidupannya jauh lebih tentram.  Pada akhirnya, mereka semakin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Masya Allah.

Semoga dengan semakin ridhanya kita ada ketetapan Allah, maka Allah pun semakin ridha pada kita. Tau kan, bila Allah sudah ridha, apa sih yang nggak Allah kasih? Jadi tugas kita adalah berusaha untuk selalu membuat Allah ridha pada diri kita.

Alhamdulillah 😍

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
Wa 081362359651

#positiveconsulting
#konseling
#terapiemosi
View Post