PERNIKAHAN BAHAGIA DENGAN KEMAMPUAN EMPATI

By: @sukmadiarti_psikolog


"Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri."

(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)


Tidak mudah untuk bisa mencintai orang lain sebagaimana kita mencintai diri sendiri. Sebab, pada dasarnya manusia bersifat ego (ingin mementingkan dirinya sendiri). Itulah sebabnya, ketika seseorang sudah bisa menunjukan cintanya pada orang lain lebih dari cinta pada dirinya sendiri, ia menjadi sosok yang mulia.


Daniel Goleman, penulis buku Emotional Intelligence mengungkapkan salah satu komponen kecerdasan emosi adalah kemampuan empati. Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut. 


Dalam menghadapi persoalan dengan orang lain,   tidak dipungkiri kita cenderung melihat masalah dari sudut pandang diri sendiri. Kita bisa jadi merasa dirugikan, dipermalukan, disakiti, atau dizalimi oleh orang lain saat ada situasi yang tidak sesuai harapan. Akibatnya, perasaan kita pun menjadi tertekan, marah, malu, sakit hati, atau kecewa kepada mereka. Dalam pikiran kita, mereka yang salah, kita yang benar. Kondisi ini membuat kita jadi cenderung pasif dalam menyikapi masalah tersebut.  Mereka yang salah, jadi kalau ingin berdamai mereka yang harus lebih dulu minta maaf dan memperbaiki diri. 


Situasi pasif seperti itu tentu tidak nyaman bagi diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain, apakah Γ¬tu ke pasangan, anak  orangtua, mertua, ataupun teman. Emosi negatif kita jadi terpendam dan terus membayangi diri karena belum dilepaskan selama orang lain yang menyakiti belum melakukan upaya pendekatan. Inilah yang kemudian mudah membuat kita jadi overthinking dan mengalami gangguan fisik ataupun psikis.


Ada situasi yang di dalam kendali dan ada yang di luar kendali kita. Menunggu orang lain berubah, meminta maaf atau berdamai dengan kita, bukanlah dalam kendali kita. Bisa jadi mereka yang berkonflik dengan kita juga merasakan dan berharap hal yang sama seperti kita. Sama-sama terluka dan memendam emosi negatif yang tidak nyaman. Akhirnya, hubungan pun jadi tidak harmonis lagi karena satu sama lain merasa tidak dipahami.


Butuh kemampuan untuk berempati. Melihat masaah tidak hanya dari sudut pandang pribadi tapi melihatnya dari sudut pandang orang lain. Mencoba mengerti dan memahami penyebab mereka berperilaku tertentu kepada kita saat masalah tersebut terjadi.


Contoh, seorang istri merasa  kesal karena pasangannya asik main hape saat pulang kantor. Kalau kita melihat dari sudut pandang diri sendiri sebagai istri, kita akan memandang bahwa masa pulang kantor, istri anak kangen, bukannya kangen-kangenan atau ngobrol dulu malah main hape sendiri sih. Jadinya kita kesal karena harapan kita suami pulang quality time dulu bareng keluarga malah asik sendiri. 


Empati melatih kita untuk memandang dari sudut berbeda. Suami atau pasangan saya butuh waktu jeda sepulang kantor. Ia masih letih habis dari perjalanan, habis penat dari urusan kantor, sampai rumah butuh jeda dan relaks dulu. Butuh "me time" dulu. Maka pemahaman dan empati ini akan membuat seorang istri lebih bisa menerima ketika pulang kantor suami asik dengan hapenya sejenak. Sambil tentu istri membantu relaksasi suami dengan memberi pijatan ringan atau suguhan makanan atau minuman hangat.


Empati membuat kita jauh lebih mampu mengatasi masalah dengan lebih cepat. Tidak lagi pasif tapi bisa aktif. Berdamai dengan perasaan kita sendiri. Misal sempat ada kesal, kita bisa fokus ke menerima dan melepas rasa yang hadir. Bahkan dengan empati, mengubah sudut pandang pikiran kita, emosi kit pun bersamaan dengan itu ikut membaik. Membaiknya emosi kita, maka membuat hubungan kita pun jadi lebih cepat membaik. 



Tentu untuk bisa empati, kita butuh latihan dan proses menuju ke sana. Salah satunya, proses menenangkan hati terlebih dulu. Mengambil jeda untuk relaksasi agar bisa mencerna pelan-pelan masalah yang datang dan melihatnya dari sudut yang berbeda.


Hati Tenang, Solusi Datang

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


#pernikahanbahagia

View Post


 EMOTIONAL HEALING DI TENGAH PANDEMI


By: @sukmadiarti_psikolog


"Your reaction is your pain. Your response is your self love." -Amy


Tidak ada yang bisa mencegah bila virus itu "diizinkan" Allah datang ke tubuh kita. Kita yakin, pasti bersama kehadirannya, Allah  telah menyiapkan beragam hikmah dan kebaikan di baliknya.


Sebagai manusia biasa,  wajar bila kita merasa cemas, takut, dan juga sedih ketika virus itu menghinggapi diri ataupun keluarga yang kita sayangi. Dibutuhkan jeda untuk "menyepi ke dalam diri" untuk kemudian kita bisa menerima ketetapan Allah ini. 


Emotional Healing ditengah pandemi bisa menjadi cara yang bisa kita gunakan untuk menenangkan diri. Emotional healing adalah cara untuk melepaskan emosi bawah sadar kita guna meraih kesehatan fisik dan jiwa. 


Langkah-langkah yang dapat kita praktikkan dalam melakukan emotional healing, antara lain:


1. Duduk sejenak di tempat yang nyaman dalam posisi yang relaks


2. Boleh ditambah dengan menghidupkan musik terapi yang lembut untuk menambah suasana tenang di sekitar. Misal suara gemericik hujan, gitar atau piano yang lembut dari aplikasi youtube atau musik lainnya.


3. Pejamkan mata Anda. Lalu mulai fokuskan perhatian pada nafas yang masuk dan keluar dari tubuh. Anda bisa tarik nafas panjang lewat hidung, tahan sejenak, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Lakukan berulang kali. 


Teknik sadar nafas ini juga sangat membantu bagi Anda yang sedang sakit covid, untuk membantu suplai oksigen ke dalam tubuh. Saya sendiri, mempraktikkan teknik ini saat mengalami gejala sesak nafas ringan, waktu sakit covid awal  tahun lalu.


4. Setelah praktik sadar nafas, rasakan perasaan Anda menjadi semakin relaks dan tenang. Anda bisa mulai perlahan mengucap syukur dan hamdalah atas kondisi yang dirasakan saat ini. Mulai cari satu persatu hal yang bisa disyukuri dari kondisi yang sedang dialami saat ini. 


Menghidupkan perasaan bersyukur di hati akan mampu mengurangi rasa cemas dan ketakutan. Hidupkan rasa syukur itu.


Misalnya, Ya Allah, alhamdulillah, meski sedang terkena covid, kami sekeluarga masih bisa berkumpul bersama di rumah. 


Ya Allah, alhamdulillah, meski saya terkena covid, anak saya dalam kondisi sehat. 


Cari-cari hal yang bisa disyukuri sehingga mengurangi fokus kita ke masalah yang sedang di hadapi. Beralih ke hal-hal baik yang ternyata begitu banyak masih menyertai diri.


5. Setelah anda merasa lebih nyaman, anda bisa berdoa dan memasukkan kalimat sugesti untuk menerapi emosi dalam diri.


"Ya Allah, meskipun saat ini, saya merasa cemas, takut, sedih karena saya dan atau keluarga saya sedang positif covid, saya ikhlas menerima kondisi ini. Saya rida, Ya Allah menerima rasa cemas ini. Ya Allah, hamba lemah tak berdaya. Tiada daya hamba tanpa pertolongan dariMu. Maka kini, hanya kepadaMu lah hamba berserah diri. KepadaMu Ya Allah, hamba bertawakal. Berikanlah kesabaran, kesembuhan dan kesehatan untuk saya, keluarga, dan juga saudara2 kami yang juga sedang sakit. Lahaula walaquwwata illa billah. 


Ulangi doa di atas beberapa kali sampai di dada anda terasa hangat dan tenang.


6. Perlahan buka mata. Tarik nafas panjang lagi, lalu hembuskan perlahan. Jaga terus rasa syukur dan koneksi di hati kepada Allah sepanjang hari. Optimis bahwa Allah akan beri pertolongan bagi kita dan keluarga.


Ada banyak cara lainnya yang bisa digunakan untuk menenangkan perasaan kita di tengah wabah pandemi. Lewat ibadah yang khusyu, dzikir, sholat, almatsurat, sedekah, mendoakan sesama yang juga sedang sakit, insya Allah akan memberikan energi positif ke dalam diri.


Tetap optimis. Allah bersama kita semua. Semoga teman-teman dan keluarga yang sedang sakit, Allah berikan kesabaran, kesembuhan dan kesehatan kembali. Semangat πŸ˜‡πŸ’–

View Post


 

SELALU ADA SOLUSI, SETELAH INTROSPEKSI

By: @sukmadiarti_psikolog


Allah berfirman dalam QS. Ar-rad:11 yang artinya:

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. *Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.* Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."


✨✨✨


Allah mengingatkan kita bahwa keburukan apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini, semuanya sudah atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa menghalanginya.


Saat kita sudah mempersiapkan diri, membuat perencanaan yang matang, namun di tengah jalan ada kesulitan, maka sesungguhnya kesulitan itu adalah kehendak Allah. Sesuatu yang kita yakini datang atas ijin Allah, pastilah ada kebaikan dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut yang nantinya akan bermanfaat bagi kita.


Lantas, saat kita sudah menerima apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah keadaan/masalah yang sulit tadi?


Allah sampaikan di QS. Ar-rad: 11 tadi bahwa jika kita ingin mengubah keadaan kita yang sedang buruk/bermasalah, maka harus dimulai dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. Jadi masalah yang datang dari luar, bukan diselesaikan dengan mengubah masalah atau pelakunya dulu, tapi jutsru yang lebih dulu di ubah adalah yang ada di dalam diri kita.


Nah, bagaimana cara untuk mengubah apa yang ada dalam diri?

Lakukan introspeksi diri. 


Ustad Luqmanulhakim menyampaikan dalam pemaparannya bahwa "selalu ada solusi, setelah introspeksi diri." Maka, saat ada masalah, yang pertama kita perlu lakukan adalah introspeksi diri. 


Allah tegaskan dalam QS. An-nisaa: 79 bahwa: "Apa saja bencana gang menimpamu, maka itu berasal dari kesalahan dirimu sendiri." Lakukan introspeksi ke dalam diri, apa kiranya kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya, baik kepada Allah, ataupun kepada makhluknya. Temukan kesalahan-kesalahan diri dan istighfari satu persatu-satu. Fokuskan ke dalam diri. 


Kita bisa lakukan 3 hal untuk melewati masa-masa sulit dalam hidup kita:

1. Jaga Pikiran

Dengan keimanan dan keyakinan bahwa masalah ini pasti bisa kita lewati karena kita yakin Allah tidak membebani hamba-Nya melebih kesanggupannya.


2. Jaga Perasaan

Tenangkan hati dengan mengingat Allah, sebab hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Pastinya saat ada masalah, perasaan kita gelisah, maka cari ketenangan dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.


3. Jaga Perilaku

Tingkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita. Allah kasih kita teguran karena Allah sayang, rindu, dan ingin bertemu kita. Maka, dekatkan diri kita dengan Allah lewat amal sholeh yang bisa mendatangkan ridho Allah kembali. Bersedekah, sholat taubat, meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti, berbuat baik, mendoakan orang lain yang sedang mengalami masalah yang sama dengan kita, berkonsultasi, dst. 


Dengan langkah-langkah tadi, semoga Allah meridhoi kita. Jika Allah sudah ridho, maka Masya Allah. Allah Maha Kuasa mengangkat kesulitan kita dengan cara yang tidak kita duga-duga. 


Semoga kita bisa memetik pelajaran dalam setiap episode kehidupan yang Allah hadirkan sehingga membuat cinta kita bertambah-tambah kepadaNya. Aamiin


View Post


 

5 JENIS RESPON SAAT MENGHADAPI MASALAH

By: @sukmadiarti_psikolog


Masalah muncul saat ada kesenjangan antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan yang dihadapi. Contoh, kita berharap memiliki tubuh yang sehat, tapi kenyataannya, saat ini sedang sakit. Kita berharap anak mengerjakan tugas sekolahnya, kenyataannya, ia belum juga menyelesaikan tugasnya. Kita berharap bisa mudik, kenyataannya pemerintah tidak mengijinkan mudik. Kita berharap omset dan penghasilan bertambah, kenyataannya justru menurun.


Saat terjadi masalah, ada 5 jenis respon yang umumnya akan kita pilih. Tiap-tiap pilihan respon tersebut, akan mempengaruhi kualitas dan kondisi emosi kita dalam menyikapi masalah yang datang.


Pertama, Menolak (Denial)

Awal ketika masalah itu hadir, umumnya kita akan menolaknya. Tidak terima. Ya Allah, lagi bulan Ramadhan, ingin bisa beribadah maksimal, tapi kok ya tubuh sakit. Ya Allah, anak udah disekolahin, tapi kok belum memgerjakan tugasnya. Ya Allah, udah dua tahun belum mudik, kok ya sekarang niat mudik dilarang. Reaksi pertama kita, umumnya menolak. Tapi reaksi ini ternyata membuat perasaan kita jadi tidak nyaman.


Kedua, Marah (Anger)

Penolakan yang kita pilih di awal, akhirnya membuat perasaan kita jadi tidak nyaman. Muncullah rasa marah. Marah kepada diri sendiri, kok gak bisa jaga kesehatan, kok kurang tegas mengarahkan anak mengerjakan tugas, kok gak mudik dari sebelum-sebelumnya saja, kok gak berusaha lebih keras, dst. Tidak hanya marah pada diri sendiri, kita pun akhirnya bisa marah ke orang lain yang kita anggap berkontribusi sebagai penyebab datangnya masalah. Marah ke orang lain yang tidak pakai masker, marah ke anak yang menunda-nunda mengerjakan tugas, marah ke pemerintah, ke pelanggan, dst. Reaksi kemarahan ini, ternyata beum juga membuat perasaan kita jadi nyaman.


Ketiga, Tawar Menawar (Bargaining)

Kita pun mulai berandai-andai. Andai saja saya kemarin tidak pergi ke tempat kerumunan, andai saja guru anak tidak banyak memberi tugas, andai saja saya tinggalnya gak jauh dari orangtua, andai saja saya punya penghasilan tetap, dst. Kita mulai tawar menawar, jika, jika. Tapi ternyata, masalahnya sudah terjadi, dan kita tidak bisa kembali memutar waktu. Sehingga, pilihan berandai-andai tadi, tetap belum bisa membuat perasaan menjadi tenang. Justru terkadang malah membuat jadi semakin bersalah dan menyesal.


Keempat, Depresi

Terus memikirkan mengapa masalahnya datang, menyalahan dan marah pada penyebabnya, dan berandai-andai bisa memutar waktu, akhirnya membuat pikiran semakin kusut, hingga depresi. Putus asa. Tidak lagi bersemangat. Merasa seakan semua keadaan afau masalah ini adalah akhir dari segalanya, tidak bisa berubah lagi. Jadi perasaan pun semakin terpuruk.


Kelima, menerima (Acceptance)

Barulah, titik saat kita bisa menerima masalah yang datang dengan sukarela, hati pun terasa lapang. Saat kita bisa menerima, kita tidak lagi menyalahkan siapapun. Menerima artinya kita mengambil tanggung jawab penuh atas masalah yang sedang dihadapi. Dengan menerima ini pula, maka pikiran pun akan semakin terbuka untik solusi dan jalan keluarnya. Tidak lagi membesar-besarkan masalahnya seperti di fase-fase sebelumnya. Menerima juga akan membuat perasaan kita jadi tenang, sehingga solusi pun menjadi semakin terang.


Bila kita sudah pahami, step by step dari penerimaan masalah tadi, maka kini, ketika masalah datang, kita bisa mempercepat prosesnya dengan menerima masalah yang datang dengan rasa syukur. Alhamdulillah. 


Masalah yang datang pasti sudah sesuai kapasitas kita untuk menerimanya. Saat kita meragukan diri kita dan menolaknya, masalah justru terasa leboh berat. Maka, terima dulu masalahnya, lalu pasrahkan (libatkan Allah) untuk membantu kita dalam penyelesaiannya. Menyelesaikan masalah seorang diri tentu saja kita tidak kuat. Kita boleh meminta bantuan profesioanal, dan tidak putus meminta pertolongan Allah, agar jalan yang dilalui dalam proses melewati masalahnya bisa semakin terang. 


Semoga Bermanfaat

#saattenang

#solusidatang


Bagaimana menurut teman-teman?


View Post

 

*TEKNIK CRAFT DALAM PARENTING*
By: Sukmadiarti_Psikolog

CRAFT Adalah singkatan dari Cancel, Replace, Affirmation, Focus, dan Train. Teknik ini dikembangkan oleh Dr. Maxwell dengan tujuan untuk memperbaiki citra diri seseorang. Teknik ini bisa pula kita gunakan dalam mencapai tujuan maupun memperbaiki hubungan sosial.

Kita bisa terapkan teknik ini dalam parenting. Untuk memperbaiki citra diri kita sebagai orangtua dalam pengasuhan buah hati.

CANCEL
Hapus self talk negatif dan penilaian buruk kita terhadap anak maupun diri kita sebagai orangtua.

"Anak saya susah bergaul. Kalau jumpa orang baru, dia menghindar."

"Saya mudah marah saat mendampingi anak belajar."

Bila selama ini, kita tanpa sadar sering melabel negatif diri sendiri maupun anak, maka sadri, lalu cancel dan hapuslah label itu sekarang.

REPLACE
Ganti self talk negatif yang terlanjur kita sematkan tadi pada diri maupun anak kita selama ini. Ubah menjadi self talk yang lebih positif dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

"Anak saya butuh waktu untuk bersosialisasi dengan orang baru."

"Saya, ibu yang sabar dan tenang dalam mendampingi anak belajar."

Ulang-ulangi self talk positif itu agar bisa mereplace self talk negatif yang sebelumnya dan agar bisa lebih tertanam ke dalam pikiran bawah sadar kita.

AFFIRM

Perkuat self talk positif yang baru kita tanam dan setting tadi dengan menambahkan gabar afirmasi yang sesuai.

Kita bisa tempelkan dan ingat momen-momen dimana anak kita bisa bergaul dan mudah akrab dengan teman maupun keluarga dan ponakan. 

Kita bisa tempel juga foto di momen kita begitu sabar, hangat, dan tenang membersamai anak-anak. 

Afirmasi ini akan membuat perasaan positif kita hidup dan bangkit sehingga memudahkan kita brrpikir bahawa sebenarnya anak maupun diri kita tidak seburuk penilaian kita sebelumnya.

FOCUS
Fokuskan perhatian kita pada harapan dan impian baik tadi. Bahwa kita ingin anak bisa bergaul dengan hangat kepada teman maupun orang baru yang ditemuinya dengan percaya diri. 

Fokuskan pula diri kita untuk berlatih dan belajar cara yang perlu kita lakukan untuk bisa lebih sabar dan tenang membersamai anak-anak. 

Fokuskan energi kita pada upaya perbaikan.  Bisa dengan belajar, baca buku, dan ikut seminar yang terkait dengan tujuan kita.

TRAIN
Latih terus diri kita mempraktekkan ilmu yang sudah di dapat.

 Ulangi secara rutin penginstalan self talk positif tadi ke dalam diri setiap bangun tidur maupun saat mau tidur agar semakin tertanam.

Latih terus diri kita tetap tenang, sabar, bahagia saat membersamai anak-anak.

Bila ada kesalahan, evaluasi diri lagi, dan perbaiki lagi, lakukan terus.

Insya Allah, perubahan baik akan terjadi. Kita akan menjadi pribadi yang berbeda begitu pula dengan anak kita.

Selamat Praktek πŸ˜‡πŸ™πŸ»
WA 081362359651

Informasi

Untuk memaksimalkan kesuksesan orangtua dalam pengasuhan dan manajemen emosi, kami memfasilitasi kegiatan webinar parenting:

MANAJEMEN EMOSI ORANG TUA

Bersama
✨Bunda Sukma
Psikolog, Konsultan Keluarga, dan Praktisi SEFT

dan

✨ dr. Vebry
Dosen dan Praktisi Kesehatan

Kita akan berdiskusi tentang:

✅ Cara Berdamai dengan Inner Child
✅ Powerfull Love dengan mengoptimalkan Lima Bahasa Cinta
✅ Komunikasi Emoatik Orangtua dan Anak
✅Loving Kindness Therapy
✅ Menjaga Kesehatan Anak Selama PJJ

Acara webinar ini akan diadakan secara online via zoom meeting, selama 3 hari pada:

Day 1 : senin, 27 maret,
Day 2 : rabu, 31 maret,
Day 3 : 2 April

Pukul: 19.30 sd selesai

Full Praktek n Bonus Terapi Emosi

HTM
πŸ’ŽEarly bird (s/d 22 Maret) : Rp. 120.000
πŸ’ŽNormal : 150.000

Pendaftarannya ke:
Http://wa.me/6287871947906

Sampai Jumpa

Informasi ini boleh di share ke teman dan keluarga ya πŸ˜‡

View Post



TEKNIK 5 WHY UNTUK MENGGALI AKAR MASALAH


Masalah adalah suatu kondisi dimana terjadi kesenjangan antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan yang diterima.


Contoh, orangtua merasa ada masalah dalam hubungannya dengan anaknya. Ia berharap anaknya mengikuti dan mengerjakan tugas sekolah dengan tertib dan tepat waktu. Kenyataannya, anaknya sering telat masuk kelas zoom dan terlambat dalam mengumpulkan tugas. 


Dalam kondisi bermasalah, tak jarang kita mencari kambing hitam. Mencari objek yang bisa kita salahkan.  Padahal, yang awalnya merasa bermasalah adalah diri kita sendiri. 


Jack Canfield mengatakan bahwa untuk bisa sukses dalam kehidupan ini, kita harus mengambil tanggung jawab 100% atas kehidupan yang kita jalani, termasuk kesehatan, keuangan, pikiran, perasaan, dan tindakan kita, semuanya! Tidak lagi mengeluh dan menyalahkan orang lain atas masalah yang sedang kita hadapi, termasuk ke diri kita sendiri.


Untuk itu, kita bisa menggunakan "Teknik 5 Why" yang dikembangkan oleh Sakichi Toyoda (pendiri Toyota) untuk menemukan akar masalah yang sebenarnya kita alami. Caranya adalah dengan kita bertanya pada diri kita sendiri tentang masalah kita. Lalu, jawaban pertanyaan why pertama, dijadikan pertanyaan untuk why kedua, begitu seterusny sampai 5 kali why.


Kita ambil contoh sesuai kasus di awal cerita tadi. 


1.

Mengapa kamu merasa sedang ada masalah? 

Anak saya tidak mengerjakan tugas tepat waktu.


2. 

Mengapa anak kamu tidak mengerjakan tugas tepat waktu?

Karena ia asyik menonton, bermain game, dan menunda-nunda mengerjakan tugasnya.


3. Mengapa anak kamu menunda-nunda tugasnya dan asyik bermain?

Karena saya belum membuat dan mengatur waktu belajar dan bermain mereka.


4. Mengapa kamu belum membuat dan mengatur waktu belajar dan bermain anak-anak?

Karena saya masih sibuk mengurusi pekerjaan dan aktivitas saya sendiri.


5. Mengapa kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu sehingga belum mengatur kegiatan anak-anak?

Karena saya belum menjadikan mereka sebagai prioritas.


Lihat, ya. Betapa akhirnya kita jadi bisa menemukan akar masalah yang sebenarnya. Yang awalnya kita merasa sumber masalahnya berasal dari luar diri, ternyata justru ada di dalam diri kita sendiri.


Inilah pentingnya kita mengenali terlebih dahulu, apa sebenarnya permasalahan kita. Bila kita sudah bisa menemukan akar masalahnya, maka akan lebih mudah kita untuk mencari jalan keluar penyelesaiannya.


Dalam konteks masalah di contoh tadi, maka jalan keluar dari masalahnya adalah menjadikan anak sebagai prioritas orangtua. Ini artinya, orangtua perlu  melakukan perencanaan untuk mengatur waktunya mendampingi anak belajar dan membuat aturan pembagan waktu untuk anak belajar dan bermain.


Maka dengan begitu, harapan orangtua agar anaknya bisa mengerjakan tugas tepat waktu akan lebih mudah untuk terpenuhi. Masalah pun terselesaikan dengan baik.


Teknik ini bisa teman-teman praktekkan pula untuk konteks masalah lainnya, baik di pekerjaan, pernikahan, bisnis, atau lainnya.


Selamat Praktek

Semoga Bermanfaat


By: @sukmadiarti_psikolog


Nb. KONSULTASI N KERJASAMA Pelatihan dan Seminar

WA 081362359651

View Post

 

SELF LOVE FOR PARENTS


"Menerima diri kita apa adanya berarti menghargai ketidaksempurnaan kita sama seperti menghargai kesempurnaan kita.” 

– Sandra Bierig


Adakalanya, sebagai orangtua kita merasa bersalah dan sedih karena belum maksimal mengasuh dan mendampingi anak belajar. Perasaan bersalah itu lantas membuat kita menjadi semakin lemah dan  tidak berdaya. Tanpa disadari, ketidakberdayaan itu membuat kita jadi mudah menyalahkan pasangan, lingkungan, bahkan anak.


It's oke to not be ok. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan, termasuk dalam pengasuhan dan pendampingan anak-anak belajar. Tapi sadarilah, pastinya dalam keterbatasan yang ada, kita sudah memberikan dan mengupayakan yang terbaik yang kita bisa untuk anak-anak.


Meskipun anak-anak saat ini kondisinya belum benar-benar sesuai harapan kita, belajarnya belum mandiri, masih butuh pendampingan, mengerjakan tugas masih butuh ditemani dan dimotivasi, padahal kita ingin mereka bisa mandiri dan disiplin, terimalah. Terima kondisi yang ada dengan lapang hati.


Meskipun diri kita sebagai orangtua masih sangat terbatas waktu dan tenaganya mendampingi anak-anak belajar, padahal kita ingin bisa lebih banyak waktu dan kesungguhan menemani mereka, terimalah. Terima kondisi itu dengan lapang hati. 


Penerimaan kita atas ketidaksempurnaan diri kita, pasangan maupun anak akan melepas ganjalan emosi rasa bersalah, sedih, kecewa yang menghantui hati selama ini. Ya, jalan satu-satunya untuk berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan adalah dengan ikhlas menerima kondisi yang ada.


Saat kita sudah ikhlas menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan kita, maka tanpa terasa hati yang sesak menjadi longgar kembali. Di titik inilah, dimana kita sudah merasa tenang menghadapi kondisi yang ada maka solusi dan kemudahan pun akan terbuka. Anak menjadi semakin mudah diarahkan, kita pun jadi lebih senang hati menemani dan mengarahkan anak-anak belajar. Energi yang terpancar pun didominasi cinta, ketulusan dan kasih sayang. 


Anak kita merasakan pancaran emosi yang kita rasakan. Bila emosi kita didominasi marah, kesal, kecewa, rasa bersalah, mereka pun tidak nyaman dan enggan menyambut ajakan kita. Sebaliknya, saat emosi dan energi yang kita pancarkan sudah berubah menjadi energi cinta dan keridhoan, buktikanlah bahwa anak-anak akan lebih menyejukkan hati dan mudah mengikuti apa yang orangtua arahkan. 


Mulai saat ini, mari berdamai dengan diri kita sendiri agar lebih mudah bagi kita berdamai dengan anak maupun lingkungan.  Terima kekurangan dan keterbatasan diri kita selama ini. Dan tak lupa, apresiasilah semua upaya yang telah kita lakukan selama ini. 


Sambil memejamkan mata dan memeluk diri kita sendiri (dengan menyilangkan kedua tangan ke punggung),  ucapkan kalimat self love ke dalam diri:


"Wahai diriku, maafkan aku, ya. Bila selama ini membuat kamu merasa bersalah. Terima kasih, ya. Kamu sudah berusaha dan memberikan yang terbaik yang kamu bisa untuk mendampingi dan mengarahkan anak-anak belajar. Meski dalam keterbatasan dan kondisi yang ada belum benar-benar sesuai harapan, aku bangga padamu, kamu sudah berusaha. Makasi, ya. Kamu orangtua, ibu, ayah, yang hebat, sabar, lembut, penuh cinta dan kasih sayang pada anak-anak. I love you."


Selain pada diri sendiri, berikan pula ungkapan kalimat cinta dan apresiasi itu kepada pasangan maupun anak-anak kita. Pastinya, dalam keterbatasan mereka, mereka pun telah berupaya semampunya. 


"Wahai anakku, terima kasih, ya. Ayah, Ibu, bangga padamu. Kamu sudah mau berusaha. Meskipun kondisi belajar saat ini berbeda, namun kamu mau berusaha dan menyesuaikan diri. Kamu anak yang hebat. Ayah Ibu sayang padamu."


Selamat Praktek

Semoga Bermanfaat πŸ˜‡


By: Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi,.,Psikolog 

Nb. Konsultasi Keluarga 

Wa 081362359651

#parentingschool #selflove #pengasuhananak

View Post