AKU MEMILIHMU KARENA-NYA & AKU MENCINTAIMU KARENA-NYA

Alhamdulillah, 10th sudah perjalanan biduk rumah tangga ini kita lalui.  Ummi bahagia bersama Ayah.

Rasulullah SAW sangat tepat membimbing kita untuk memilih pasangan karena agamanya dan mencintai pasangan juga karena-Nya. Maka sepanjang perjalanan pernikahan ini,  Ummi terus belajar mencintai Ayah karena-Nya.

Akhirnya, kini Ummi paham mengapa Rasulullah berpesan demikian. Bahwa ternyata pada diri pasangan, pasti akan kita temui kelemahan, ada saja kekhilafan, juga ia tak luput dari kesalahan. Pasangan kita juga adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Bila kita mencintai pasangan karena Allah, maka mudah bagi kita untuk menerima kekurangannya dan memaafkan kesalahannya. Karena kita sadar, bahwa pasangan kita adalah juga makhluk Allah yang punya salah dan khilaf serta lemah, sama halnya seperti diri kita.

Maka, bukan tempatnya kita bergantung pada pasangan kita. Karena kita dan pasangan sama-sama lemah. Maka kita harus selalu bergantung pada Allah, yang Maha Kuat, dalam segala persoalan yang kita hadapi, khususnya di rumah tangga.

Bila kita menikah atau mencintai pasangan kita karena hartanya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita kekurangan harta.

Bila kita mencintainya karena agamanya, maka kita pun akan mudah mengeluh saat ia lalai dan khilaf berbuat dosa.

Bila kita mencintainya karena fisiknya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita sakit-sakitan.

Bila kita mencintainya karena keluarganya yang terpandang, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat kita dapati sika dan perilaku dari keluarga pasangan yang kurang berkenan.

Maka benar kata Nabi SAW, *cintailah pasanganmu karena Allah saja.*

Dengan cinta itu, kita akan mudah menerima kekurangannya dengan ikhlas. Kita akan mudah memaafkannya karena Allah.

Mengapa? Karena cinta kita padanya karena Allah. Kita akan berusaha bersikap pada pasangan kita seperti apa yang Allah cintai.

Allah cinta pada istri yang taat pada suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga kehormatan suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga harta suaminya.

Allah cinta pada istri yang memaafkan suaminya, sebagaimana ia pun berharap Allah memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Maka bila kita temui kekurangan dan kesalahan pada pasangan, kita akan kembalikan lagi cinta kita kepada Allah dengan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Bersemilah selalu ikatan cinta yang dibina karena Allah.

Masya Allah
Alhamdulillahirabbilalamin

By: Bunda Sukma
#parentingschool
#sekolahpernikahan
#positiveconsulting
#Anniversary11th
View Post
KALAU ALLAH SUDAH RIDHA, APA SIH YANG NGGAK DIKASIH?

Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, adapun hasilnya adalah ketentuan Allah. Maka, beruntunglah kita bahwa dalam penilaian prestasi seorang hamba, Allah menilai prosesnya, bukan hasilnya.

Tugas kita adalah untuk terus menyempurnakan prosesnya (ikhtiar) dan ridha (ikhlas) akan hasilnya. Urusan hasil adalah wewenangnya Allah, sebagai pengatur alam semesta.

Perlu jadi motivasi bagi kita bahwa proses atau ikhtiar dan usaha yang kita berikan tidak akan mengkhianati hasil. Artinya, semakin sempurna usaha yang kita lakukan maka semakin baik pula hasil yang akan kita dapatkan.

Faktanya, namanya manusia, selalu merasa kurang. Adakalanya kita merasa kurang puas dengan hasil yang diperoleh. Ketidakpuasan ini menghasilkan kekecewaan, sehingga tidak lagi bersyukur atas ketetapan Allah.

Dalam riwayat kitab Musnad yang disarikan di buku Thibul Qulub, Klinik Penyakit Hati, karangan Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah, Nabi SAW bersabda

"Diantara sebab kebahagiaan manusia adalah istikharah kepada Allah dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan kepadanya. Dan diantara sebab kesengsaraan manusia adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka terhadap apa yang telah Allah tetapkan padanya."

Maka Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan bahwa ridha yang bermanfaat adalah ridha setelah ketetapan Allah diturunkan, bukan sebelumnya. Karena menginginkan sesuatu namun belum terlaksana dinamakan al-azm (rencana/keinginan) dan tatkala ketetapan Allah sudah berjalan maka rusaklah keinginan tersebut.

Untuk itulah, Nabi SAW pun berdoa pada Allah agar diberi ridha setelah turunnya ketetapan Allah.

Nabi saja berdoa agar bisa diberi keikhlasan hati. Apalagi kita, manusia biasa ini. Tentu kita lebih butuh, Allah hadirkan keridhaan pada hati kita dalam menerima segala ketetapannya.

Penelitian terbaru saat ini membuktikan bahwa dengan menghadirkan hati dan ikhlas menerima setiap ketetapan yang Allah berikan dalam hidup kita akan melahirkan kebahagiaan di hati.

Beberapa klien yang telah mengikuti terapi emosi dengan metode ikhlas ini, memberikan testomoni bahwa mereka merasakan banyak perubahan dalam dirinya, emosinya semakin stabil, dan kehidupannya jauh lebih tentram.  Pada akhirnya, mereka semakin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Masya Allah.

Semoga dengan semakin ridhanya kita ada ketetapan Allah, maka Allah pun semakin ridha pada kita. Tau kan, bila Allah sudah ridha, apa sih yang nggak Allah kasih? Jadi tugas kita adalah berusaha untuk selalu membuat Allah ridha pada diri kita.

Alhamdulillah 😍

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
Wa 081362359651

#positiveconsulting
#konseling
#terapiemosi
View Post


Usia ideal untuk anak masuk sekolah dasar adalah 7 tahun. Di usia 7 tahun, anak-anak sudah lebih siap dan matang baik secara fisik, kognitif, dan psikologis.

Jika kemudian orang tua ingin membekali anak-anaknya untuk sekolah lebih dini, maka sebaiknya mengurangi dari usia standar 7+ tahun. Misal, jika ingin memasukkan anak ke TK,  maka idealnya di usia 5+ tahun. Sehingga lulus pendidikan TK selama dua tahun, ananda sudah masuk di usia 7 tahun.

Jika ingin membekali ananda dengan sekolah yang lebih dini lagi, misal paud atau play group, maka dapat dimulai pada usia 4 tahun.

Sebaik-baik pendidikan bagi anak adalah dari Ibunya, dari orang tuanya. Figur yang paling dekat dengannya. Secara psikologis anak-anak akan merasa lebih nyaman belajar dam bersama orang tua, khususnya Ibu, di usia dininya. Kebersamaan ini akan memberikan manfaat lebih besar bagi perkembangan ananda.

Jika ibu bisa full bersama anak di rumah maka maksimalkanlah dengan beragam kegiatan yang positif. Namun jika pun tidak bisa karena bekerja atau hal lain, maka sebisa mungkin tetap memiliki waktu yang berkualitas bersama anak.

Ada banyak pertimbangan orang tua menyekolahkan anaknya di usia dini. Salah satunya adalah ingin anak mendapat stimulasi dan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang ananda.

Ada pula yang karena alasan bekerja. Orang tua lebih memilih menitipkan anak di sekolah dibanding di rumah dengan pengasuh. Sehingga bisa mendapat lingkungan dan stimulus lebih baik.

Persoalan yang sering muncul jika menyekolahkan anak terlalu dini biasanya berkaitan dengan kesiapan mentalnya. Anak-anak belum siap secara mental dengan lingkungan dan orang-orang baru di sekolah. Seringnya anak merasa tidak nyaman atau tantrum saat di sekolah.

Barangkali memang dari sisi intelektual anak terlihat siap dan sudah mulai mengerti pelajarannya, misal sudah bisa berhitung, baca, atau lainnya. Tapi kita juga perlu memperhatikan kesiapan pada sisi lainnya, bukan.

Hal inilah yang penting untuk dipersiapkan para orang tua sebelum menyekolahkan anak di usia dini. Menyiapkan mental anak agar merasa senang dan nyaman saat akan  bersekolah nantinya.

Orang tua bisa sejak dini bercerita tentang senangnya bersekolah, banyak teman, mainan, dan guru-guru yang baik dan penyayang. Orang tua juga bisa mengajak anak survei ke lokasi sekolah sehingga ia tidak merasa asing dengan lingkungannya.

Usahakan di hari-hari pertama masa sekolahnya nanti, anak merasa senyaman mungkin untuk penyesuaian awalnya di sekolah, dengan teman dan gurunya. Orang tua sebisa mungkin menyediakan waktu untuk mendampingi putra/putrinya di masa-masa awal sekolah.

Kenyamanan anak di awal masa sekolah akan membuatnya lebih cepat beradaptasi dan menikmati waktunya di sekolah. Sehingga bisa mengikuti kegiatan di sekolah dengan baik dan senang.

Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi, Psikolog
CEO Positive Consulting
Pendiri Parenting School Indonesia
View Post



Sadar nggak sih, bahwa dalam rangkaian kehidupan ini semuanya tercipta berpasangan. Selalu diberi dua alternatif pilihan. Misalnya, hidup-mati, baik-buruk, positif-negatif, gelap-terang, hitam-putih, dan banyak lainnya termasuk surga-neraka.

Seperti apakah kita harus menyikapi fenomena pilihan tersebut. Bila hanya diberikan dua pilihan yang mana keduanya saling bertolang belakang. Pilihan apa yang akan kita ambil?

Sayangnya kita tidak dapat memilih. Apa yang akan kita dapat itulah yang telah Allah tetapkan untuk kita. Jadi kita tidak dapat memilih, saat Allah tetapkan kita untuk hidup saat ini, maka mau tidak mau kita harus hidup. Kita tidak bisa serta merta mengubah untuk mati seketika.

Semua ketentuan yang Allah hadirkan dalam hidup kita adalah sesuatu yang harus kita imani sebagi qadha dan qadharnya Allah SWT. Harus diimani dan yakini serta percaya bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari Allah untuk hidup kita.

Maka bila ketentuan Allah tidak dapat kita pilih dan seleksi, apa yang harus kita lakukan?

Untuk menyikapi ketentuan Allah juga ternyata ada dua pilihan. Menerimanya atau menolaknya. Mengimaninya atau mengingkarinya. Manusia diberi kebebasan mutlak untuk menentukan sikapnya.

Bila kita sudah berhasil meyakini dan meng-imani ketentuan Allah sebagai qadha dan qadharnya, maka insya Allah akan mudah bagi kita untuk MENERIMA apa pun kejadian yang ditakdirkan hadir dalam hidup kita. Karena sekuat apapun kita menolaknya, ketentuan itu tidak bisa ditunda, dibatalkan, atau diulangi. Apa yang sudah terjadi tetap akan terjadi.

Satu-satunya pilihan tepat yang harusnya di ambil adalah MENERIMANYA DENGAN IKHLAS.

"Saya terima Ya Allah, apapun ketentuan yang Engkau hadirkan dalam kehidupan saya ini. Baik itu ketentuan yang baik ataupun yang tidak baik dalam pandangan saya, saya ikhlas menerimanya sebagai ketetapan dari Mu. Saya pasrahkan padamu kebaikan dan jalan keluarnya."

Secara psikologis, kondisi di mana seseorang bisa ikhlas menerima takdir yang ia hadapi akan lebih cepat membuat hati dan dirinya menjadi tenang dan bahagia, lebih cepat "move on."

Kita belajar dari kisah Bunda Hajar saat akan ditinggal oleh suaminya, Nabi Ibrahim, di gurun pasir yang tandus.
Takdir sudah menetapkan bahwa Bunda Hajar haruslah berpisah sementara waktu dari suaminya. Ia harus berada di gurun pasir itu berdua saja dengan bayinya dengan perbekalan seadanya. Hanya beratap langit.

Bagaimana kemudian respon atau sikap yang diambil Bunda Hajar dalam menyikapi takdirnya tersebut? Apakah ia marah pada suaminya atau curigakah ia pada mad'u-nya (Bunda Sarah) sehingga ia dijauhkan ke tempat yang sunyi seperti itu?
 
TIDAK !!!
Bunda Hajar benar-benar menjaga hati dan pikirannya dari segala hal yang bisa membuatnya menjadi "lemah" dan tak ridho.

Bunda Hajar justru mencari cara dan alasan apa yang bisa membuatnya ridho, ikhlas, dan berlapang hati menerima takdir Allah itu.

Apa yang dilakukan Bunda Hajar?
Ia bertanya pada suaminya, "Ya, Ibrahim, apakah Engkau melakukan ini semua karena Allah?"

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Ya, Aku melakukannya atas perintah Allah."

Masya Allah
Bunda Hajar, begitu mulia akhlak dan kecintaanya pada Allah dan ketaatannya pada suaminya.

Ia tidak mencari-cari alasan kenapa aku diperlakukan begini dan begitu. Mengapa suamiku tidak adil dan berbuat seperti ini. Ia tidak mencari-cari alasan, kenapa oh kenapa ini terjadi pada ku, saat ia ditakdirkan berada di gurun pasir itu. Tapi ia justru mencari penguatan yang bisa membuatnya bertahan dan ikhlas menerima takdirnya, yakni itu adalah ketentuan Allah Swt.

Maka saat ia mendapati jawaban dari suaminya bahwa itu terjadi atas perintah Allah, maka dengan penuh iman dan keyakinan Bunda Hajar pun menjawab, bahwa bila itu adalah ketentuan dari Allah, maka aku ikhlas menerimanya. Aku yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Bunda Hajar yakin bahwa ada Allah yang akan membersamainya. Maka hanya kepada a Allah sajalah kini Ia bergantung.

Tentu kita semua sudah tahu kelanjutan dari kisah tersebut. Betapa keajaiban dan kemuliaan terus hadir dalam kehidupan mereka karena kuatnya keimanan dan ketergantungan mereka pada Allah Swt.

Tentu kita bisa belajar dari Kisah  tersebut, bahwa kita pun harus bisa dan pasti bisa memilih cara dan sikap apa yang akan kita ambil saat takdir Allah datang pada kita. Baik itu takdir baik atau buruk menurut  pandangan kita. Kita harus menerimanya dengan ikhlas karena yakin bahwa itu sudah menjadi ketetapan Allah.

"Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk menurut Allah. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tiada mengetahui."

By: Sukmadiarti Perangin-angin

#parentingschool #sekolahpernikahan #positiveconsulting

View Post
"Tidaklah berpisah dua orang yang saling mencintai (suami-istri) kecuali karena dosa dari salah satu diantaranya."

Penyebab pertengkaran, keributan, ketidaknyaman, dan perpisahan pasangan suami istri adalah karena adanya dosa yang dilakukan oleh salah satu diantaranya.

Apa itu dosanya?
Wallahualam

Kutipan quote di atas sepertinya bisa menjadi gambarannya, bahwa "Ketika seseorang mencari kenikmatan pada sesuatu yang haram untuknya, maka semakin ia tidak lagi mampu mendapatkan kenikmatan pada sesuatu yang HALAL untuknya."

Maksudnya bagaimana?
Misal: Ketika suami/istri mencari sensasi seksual pada sesuatu yang haram, misal lewat video, atau berhubungan dengan yang bukan pasangannya baik lewat chat, telpon, medsos, atau sekedar selingkuh hati, maka bisa di pastikan ia TIDAK LAGI atau berkurang kepuasannya pada pasangannya. Ia menjadi sangat mudah melihat kekurangan pada pasangannya.

Mengapa itu bisa terjadi?
Karena telah dicabut keberkahan dari dirinya akibat dosa yang secara sadar/tidak sadar telah dilakukannya.

Barangkali awalnya hanya iseng, hanya bercanda, atau coba-coba. Tapi syetan sangat pintar dan akan terus membuat candu pada para pelaku maksiat. Akibatnya ia akan terus mengulang-ulang dan bahkan menambah dosis kesalahannya dari waktu ke waktu sehingga semakinlah ia tersesat, bila tidak segera sadar dan bertaubat. 

Ini peringatan buat diri kita, dan mari saling mengingatkan dengan pasangan kita. Jaga pandangan, pendengaran, pikiran, hati dan kemaluan dari segala hal yang Haram.

Seorang Ustad pernah ditanya oleh muridnya mengapa hubungannya dengan pasangannya menjadi semakin berjarak, sering bertengkar dan bahkan cinta pun seakan hilang. Padahal di awal nikah semua terasa indah dan cinta begitu bersemi.

Ustad pun menjawab, tundukan pandangan dan diri mu dari yang haram, maka kau akan dapat menikmati apa yang halal untuk mu.

Masya Allah...
Pelajaran pernikahan yang sungguh mahal dan begitu berharga.

Termasuk halnya dengan rezeki yang di bawa pulang ke rumah. Cari dan berilah rezeki dari yang halal untuk anak, istri, dan keluarga. Bila seseorang terlena dan tergoda dengan rezeki yang haram maka berkah itu pun dapat tercabut dari dalam keluarganya. Anak bermasalah, hubungan suami istri menjadi tidak harmonis, dan harta seakan kurang dan kurang terus.

Syukuri apa yang halal dan jauhi apa yang haram untuk diri dan keluarga kita. Insya Allah berkah dan bahagia  akan kita dapatkan πŸ€—

By: Sukmadiarti Perangin-angin

Untuk konsultasi pernikahan, silahkan hubungi kami di WA 0813-6235-9651


  • *Syarat dan ketentuan berlaku


#parentingschool #sekolahpernikahan
#positiveconsulting
View Post

Menarik sekali pembahasan yang diberikan Ustad dalam ceramah tarawih malam tadi. Kebetulan, kami berkesempatan tarawih di masjid Raya, Klaten. Perumpamaan yang Ustad berikan memudahkan kita memahami makna dari apa yang kemudian beliau sampaikan.

Di sepuluh malam terakhir Ramadhan ini, setiap muslim beriman sedang berlomba-lomba meraih lailatul qadr. Berkahnya melebihi seribu bulan. Setiap kita tentu ingin sekali bisa meraih keberkahan itu lewat amal sholeh yang kita kerjakan.

Di masa Rasulullah, Bunda Aisyah bertanya, apa kiranya doa yang hendaknya kita bacakan bila kita bertemu dengan malam lailatul qadr. Rasulullah menjawab, perbanyaklah beristighfar, bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah swt.

Itulah sebabnya dalam beberapa riwayat disampaikan untuk banyak membaca doa ini saat sepuluh malam terakhir ramadhan. "Allahumma innaka afwun tuhibbul afwa fa'fuanni." Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan suka memberi maaf, maka maafkanlah dosa-dosaku.

🌺🌺🌺

Ramadhan adalah bulan ampunan. Maknanya adalah agar kita perbanyak memohon agar diampuni segala dosa yang sengaja  maupun tidak sengaja, sadar dan  tidak sadar kita perbuat selama ini.

Banyak beristighfar, mohon ampun, dan bertaubat, agar amalan kebaikan kita selama ramadhan ini bisa menjadi jalan turunnya Rahmat dan ampunan dari Allah SWT pada diri kita.

Ustad tersebut menyampaikan ada tiga keutamaan bagi orang-orang yang bertaubat dan diterima taubatnya:

1. Allah akan MENCINTAINYA

Masya Allah
Ustad mengibaratkan seperti cinta orangtua pada anaknya. Kalau orangtua udah cinta dan pastilah cinta pada anaknya, apa yang diminta anaknya pasti akan berusaha diberi, bahkan yang hebatnya, TIDAK DIMINTA PUN AKAN DIBERI.

Saya pun menangkap dengan mudahnya perumpamaan ini. Iya, ya. Betapa saya juga sangat sering memberi yang kadang tidak diminta anak, karena rasa sayang itu.

Masya Allah, alangkah indahnya bila kita mendapat ampunan Allah dan diterima taubatnya, bisa menjadi orang yang dicintai Allah. Bisa mendapat cinta Allah. Maka segala ingin kita mudah bagi Allah untuk mewujudkannya.

Wajarlah Rasulullah bersabda, perbanyak taubat dan memohon ampun pada Allah, karena ternyata dengan dapat ampunan Allah maka itu sudah sangat sangat cukup untuk kita.

Allah akan penuhi semua yang kita mau bahkan tanpa kita minta. Allah Maha Tahu Apa Yang Terbaik Bagi Hamba-Nya.

2. Allah akan memberi jalan keluar dan SOLUSI atas masalah kita.

Keutamaan taubat yang kedua ini Ustad gambarkan dengan kisah Nabi Adam dan Hawa yang kala itu di turunkan ke bumi karena melanggar larangan Allah untuk memakan buah kuldi.

Mereka dipisahkan antara timur dan barat, sangat jauh satu sama lain. Letih keduanya saling mencari satu sama lain. Hingga sampai di titik terendahnya, mereka pun tersadar akan kekhilafannya dan bertaubat menyesali dosanya.

Nabi adam pun berdoa
"Rabbana dzalamna amfusana waillam tagfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin." Ya Allah, hamba telah menzalimi diri hamba sendiri, maka ampunilah hamba.

Kesadaran akan dosa membuat kita benar-benar menyesali kesalahan  dan memohon ampunan tulus pada Allah SWT. Betapa Nabi Adam yang baru melakukan satu kesalahan sudah ditegur sedemikian rupa, kita bagaimana?

Banyak dosa dan banyak teguran yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita lewat kesulitan yang kita hadapi, Sudahkah  menyadarkan kita untuk bertaubat ?

Setelah taubatnya Nabi Adam tadi, Allah beri rahmatNya dan pertemukan kembali keduanya di Jabal Rahmah.

Mudah bagi Allah mengubah yang mustahil menjadi nyata. Seperti halnya kesulitan hidup yang kita alami, mudah bagi Allah untuk memberikan jalan keluarnya. Maka mari kita mencari jalan ke luar masalah dengan meraih Ampunan Allah dengan cara bertaubat.

3. Allah akan beri kemuliaan di dunia dan akhirat

Masya Allah
Siapa yang bertaubat, akan Allah berikan kedudukan yang mulia.

Ustad umpamakan kisah Umar Bin Khattab, sahabat Nabi yang gagah dan pemberani. Betapa dulu Umar adalah orang yang paling kerasd danmembenci islam. Namun saat hidayah itu datang, ketika ia mendengar lantunan surat Thaha oleh adiknya, hatinya bergetar dan segera memeluk Islam.

Alquran sungguh mampu melembutkan hati yang keras. Alquran
 mampu menghidupkan hati yang mati. Maka mari kita perbanyak membaca dan memperdengarkan Alquran di rumah-rumah kita. Agar Allah lembutkan hati semua anggota keluarga kita.

Setelah masuk Islam, Umar mendapat kedudukan yang begitu mulia. Ia yang dahulunya orang yang paling membenci islam, kini menjadi orang terdepan yang membela islam. Umar menjadi kepercayaan Rasulullah dan menjadi khalifaur rasyidin. Bahkan kuburnya, berada di sisi Rasulullah. Betapa mulianya.

Mudah bagi Allah membolak balik hati manusia. Ketika seseorang bertaubat, Allah angkat derajatnya dan beri ia kemuliaan di dunia dan akhirat.

Indahnya Bertaubat
Indahnya beristighfar
Indahnya mendapat cinta Allah Swt

Ya Allah, semoga ramadhan ini engkau turunkan rahmat dan menerima taubat kami semuanya. Semoga kami menjadi bagian dari orang-orang yang mendapat cintaMu, orang yang Engkau berikan jalan keluar, dan orang yang Engkau berikan kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat. Amiin

#ramadhanproduktif #parentingschool
View Post



Daniel Goleman dalam buku fenomenalnya yang berjudul Emotional Intelligence mengatakan bahwa salah satu cara menurunkan tingkat depresi seseorang adalah dengan membandingkan keadaan diri sendiri dengan keadaan orang lain yang lebih buruk. Sebaliknya, orang yang membandingkan keadaan dirinya dengan keadaan orang lain yang lebih sehat dan baik darinya akan membuat dirinya berada pada tingkat depresi yang paling berat.

Masya Allah…
Pernyataan Daniel Goleman tadi kiranya sejalan dan membuktikan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw berabad-abad lalu:

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penyakit datang mendekati diri saat seseorang dipenuhi dengan keluhan dan ketidakpuasaan akan hidupnya. Ada perasaan tidak terima, tidak ikhlas dan berusaha menghindar apa yang terjadi dalam hidupnya yang tidak sejalan dengan harapannya. Padahal, semua kejadian terjadi atas ketetapan dari Allah swt.

Tak jarang, orang membandingkan kondisi dirinya dengan orang lain. Fatalnya, kebanyakan orang membandingkan kondisi hidupnya dengan kehidupan orang lain yang keadaannya lebih baik. Akibatnya, mereka tambah mengeluh dan sulit untuk bersyukur atas nikmat-nikmat lain yang telah Allah berikan padanya.

Ada pasangan yang telah menikah lalu membandingkan dirinya dengan orang lain yang sudah punya anak, sementara dirinya belum juga dikarunia anak. Cara seperti ini membuat dirinya menjadi lemah, pikirannya kacau, gelisah, tidak puas, dan jadi tidak percaya diri. Maka yang seharusnya dilakukan adalah untuk urusan dunia, bandingkan dengan kondisi di bawah. Misal, alhamdulillah, saya sudah menikah, walau saat ini belum dikaruniai anak, tapi Allah sudah memberikan teman dalam hidup saya yakni pasangan saya. Sementara di luar sana masih banyak teman saya yang sebaya dan belum memiliki pasangan. 

Dengan mengubah cara pikir, maka hati dan pikiran akan merasa damai, tenang, tentram dan syukur. Sehingga Allah pun akan hadirkan kenikmatan-kenikmatan lainnya, saat seorang hamba mampu mensyukuri apa yang telah ada pada dirinya.

Saat seseorang mampu mensyukuri apa yang telah ia miliki, maka hatinya akan menjadi tenang dan bahagia. Jadi, bukan masalah dan penyakitnya yang terlalu besar, tapi cara kebanyakan dari kitalah yang masih belum tepat dalam menyikapi kondisi yang ada. Saat seseorang mampu berpikir dan melihat suatu masalah dengan cara yang tepat, maka ia akan mampu membuat masalah yang awalnya terasa berat menjadi lebih ringan. Lihatlah ke bawah untuk bisa semakin bersyukur.

View Post