Angela Duckworth dalam bukunya yang berjudul GRIT memaparkan bahwa bakat bukanlah jaminan untuk sukses dan bahagia. Anak atau seseorang yang memiliki bakat dibidang tertentu, belum tentu bisa sukses di bidangnya tersebut. Sebaliknya, seseorang yang walau tidak memiliki bakat di suatu bidang tetap berpeluang untuk meraih sukses.

Apa yang membuat hal itu bisa terjadi?
Ternyata jawabannya adalah KETABAHAN. Ketabahan adalah gabungan dari Hasrat dan Kegigihan.

Pepatah lama mengatakan "Dimana ada kemauan, di situ ada jalan." Pepatah  ini mendukung temuan Angela bahwa memiliki bakat saja tidak cukup untuk jaminan sukses.  Untuk meraih sukses dibidangnya, seseorang harus memiliki kemauan dari dalam dirinya juga kegigihan untuk memperjuangkan kemauannya tersebut menjadi nyata.

Artinya, setiap orangi bisa meraih sukses pada bidang yang ia tidak berbakat sekalipun, asalkan ia punya kemauan/hasrat untuk sukses di bidang tersebut dan gigih dalam memperjuangkannya.

Pantang menyerah. Terus berusaha. Lalukan yang terbaik. Pepatah lain mengatakan "Ala bisa karena biasa." Ya, semakin sering suatu pekerjaan kita lakukan dan tekuni, maka akan semakin paham dan terlatihlah kita dalam melakukannya. Sehingga semakin lama akan menjadi semakin ahli. Inilah yang sering disebut dengan JAM TERBANG menentukan kesuksesan. Semakin tinggi jam terbang seseorang pada bidangnya, maka semakin terlatih dan baiklah ia menguasai bidang tersebut.

Untuk bisa memiliki jam terbang yang tinggi maka seseorang HARUS FOKUS. Fokus memilih bidang/usaha/pekerjaan apa yang ingin ia tekuni. Belajar dan berusaha terus menjalankannya. Dari tidak tahu sampai kemudian menjadi ahli dan sukses di bidang tersebut. Baru setelah itu, ia bisa mengembangkan diri lagi pada bidang lainnya yang tentunya masih sejalan dengan bidang keahlian yang pertama. Jadi bisa saling mendukung kesuksesan satu dengan kesuksesan lainnya lagi.

🌹🌹🌹

Ayah Bunda, begitulah kiranya semoga bisa meluruskan pemahaman kita sebagai orangtua. Bahwa yang dibutuhkan untuk sukses bukanlah sekedar bakat. Tapi lebih dari itu yang diperlukan utama adalah Hasrat dan Kegigihan. Tanpa itu, maka walau memiliki bakat sekali pun, hasilnya tidak akan maksimal.

Tugas kita selanjutnya sebagai orangtua adalah mendukung anak-anak kita pada bidang yang ia sukai, meluruskan dan menguatkan niat dan kemauan anak, dan memotivasinya untuk terus berjuang, gigih dan pantang menyerah dalam mengembangkan dirinya pada bidang tersebut.

Apapun bidang yang dipilih ananda, semuanya akan bisa membawa kesuksesan pada dirinya, asalkan ia memiliki kemauan kuat dan kegigihan dalam menjalankannya.  Berikan kesempatan anak untuk mencintai dan memaksimalkan potensinya ada bidang yang ia sukai. Selama pilihannya baik, halal, dan sejalan dengan agama, biarkan mereka berkembang.

Karena melakukan sesuatu yang kita sukai adalah kunci awal kesuksesan. Memaksa anak melakukan hal yang tidak ia sukai akan menghambat atau memperlambat kesuksesan dan bisa merenggut kebahagiaannya.

🌹🌹🌹

Raih sukses dengan kemauan yang kuat dan kegigihan menjalankannya.

Salam Sukses
Bunda Sukmadiarti, M.Psi

#parentingschool #orangtuabelajar

View Post


DO'A CS3
Oleh : dr. Ramadhanus

Dokter Rama, mengapa seseorang mengalami penumbuhan sel yang tak wajar alias bengkak, tumor, atau yang lebih parah kita sebut dengan istilah cancer?

Jawab :
Boleh jadi karena hati kita kurang dipenuhi dengan CINTA dan KEBAIKAN HATI.

CINTA adalah hal yang paling ditakuti oleh sel cancer.

Ilmuwan USA, Professor David Hawkins, merilis hasil risetnya yg paling mutakhir yg menggemparkan, tentang Manusia. Penelitiannya juga temukan bahwa banyak orang sakit karena kekurangan cinta kasih.

Professor David Hawkins adalah dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia.
Begitu memeriksa seorang pasien, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit.
Karena di dalam tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun cinta kasih dalam dirinya, yg ada hanya penderitaan, keluhan & deraian air mata yg menyelimuti seluruh tubuhnya.

Professor Hawkins mengatakan : "Kebanyakan orang sakit karena di dalam dirinya tidak ada hati yg penuh dgn CINTA KASIH YG TULUS & IKHLAS.
Yang ada hanya kesedihan & deraian air mata.

Getaran magnet kasih di bawah 200 hertz menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit.

David Hawkins mendapati bahwa kebanyakan orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif.
Jika frekuensi cinta kasih seseorang di atas 200 hz maka dia tidak akan sakit.

Pikiran atau emosi negatif mana yg ada di bawah getaran 200 hz?
Yaitu:
• suka mengeluh
• suka menyalahkan orang lain
• dendam pada orang
Jika pikiran itu yg menguasai pikiran seseorang berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 hz saja.

Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar energi kehidupannya (Life force energy), sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200 hz.

Orang seperti itu SANGAT MUDAH mengidap berbagai jenis penyakit.
Frekuensi paling tinggi ada di angka 1000 dan yg paling rendah berada di angka 1

Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat orang yg punya frekuensi positif di atas 700 hz maka kekebalan tubuh & vitalitasnya sangat tinggi.

Jika orang  seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu.

Seorang yg berkebajikan tinggi, jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif & sangat tinggi.

Semua orang yg hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran cinta kasihnya yg sangat tinggi, semua orang meraasa nyaman & sangat tergugah di dekatnya.

Pada saat orang yg memiliki getaran aura positif tampil di suatu tempat, maka dia akan menggerakkan semua orang, & seluruh makhluk hidup yg ada di tempat itu menjadi tenteram, nyaman, &  damai.

Namun saat orang  memiliki pikiran negatif muncul di suatu tempat, bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan AURA POSITIF ditempat tersebut memburuk & berubah menjadi negatif pula.

Professor Hawkins telah melakukan berpuluh kali riset kasus & penelitian pada orang yg berbeda namun jawabannya serupa,  yaitu :
Asal getaran frekuensinya berada di bawah  200 hz maka orang itu pasti sakit.
Tapi jika berada di atas 200 hz maka orang itu sehat.

Mereka yg di dalam dirinya dipenuhi dengan hati yg welas asih, cinta kasih, suka beramal, gemar sedekah, mudah memaafkan, lemah lembut, santun, terbukti frekuensi magnetiknya berada pada kisaran 400-500 hz.

Sebaliknya, mereka yg suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, dendam, iri hati, menuntut orang lain, egois dalam semua hal, hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain; orang seperti itu punya frekuensi magnetik yg paling rendah.
Hal inilah yg jadi penyebab awal timbulnya penyakit kanker, sakit jantung & penyakit kronis lainnya.

Professor Hawkins memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan & penyakit  seseorang.
Marilah kita perpikiran positif dan Jauhkan.. Sejauh jauhnya fikiran negatif.
-------------------------------

SELF HEALING WITH PPA FOR HEALING TRAINING
View Post

Inner child adalah luka psikologis yang disebabkan oleh perasaan sedih/benci/marah/tidak suka yang begitu mendalampada diri seseorang yang terjadi di masa lalu, terpendam sampai ke dalam alam bawah sadar, dan efeknya dapat mempengaruhi perilaku orang tersebut di masa depan.

Tidak dipungkiri bahwa setiap manusia bisa saja memiliki inner child dalam dirinya. Hanya saja kadarnya pastilah bberbeda-beda. Karena setiap manusia pasti tidak luput dari masa lalu. Baik itu masa lalu yang meninggalkan bekas bahagia atau luka.

Jika masa lalu itu banyak memberikan bahagia tentu tidak menjadi masalah. Berbeda halnya, jika masa lalu itu banyak meninggalkan bekas luka, tentu akan berbahaya bagi perkembangan diri seseorang.

Jika luka itu berupa luka fisik, akan mudah menemukan obatnya. Bisa dibeli di apotek, toko herbal, atau ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan penanganan.

Menjadi sulit jika luka itu adalah "luka psikologis", karena akan membekas ke dalam jiwa seseorang dan bisa terbawa sepanjang masa jika tidak segera ditangani.

Tidak mudah menyembuhkan luka psikologis. Karena terkadang orang yang mengalami tidak menyadari atau mengabaikan saja luka psikologis yang dialaminya.

Menjadi lebih parah ketika luka itu hadir sejak masa kecil. Bila orang tua tidak membantu anak untuk menangani dan mengobati luka psikologis ini tentu akan masuk jauh ke alam bawah sadar dan berefek panjang pada perkembangan anak.

Luka psikologis di masa kecil, seringkali disebabkan oleh orang-orang terdekat anak. Baik itu orang tua, kakek- nenek, teman sekolah, sepupu, dan sosok lainnya yang sering berinteraksi dengan anak sehari-hari.

Anak yang di bully di rumah atau sekolah, korban broken home, mengalami penolakan, diabaikan, penuh tekanan, dicubit, dipukul, dibentak, adalah beberapa contoh kejadian yang dapat meninggalkan luka psikologis pada anak.

Luka psikologis yang diperoleh pada masa kecil inilah yang sering disebut dengan INNER CHILD.

Luka masa lalu yang tanpa sadar sudah masuk ke alam bawah sadar seseorang dan akan kembali muncul saat ia menemukan suatu kondisi yang kurang lebih sama dengan kondisi masa lalu.

Kebanyakan muncul saat seseorang telah berumah tangga dan memiliki anak. Inner child tentang kondisi rumah tangga, hubungan dengan pasangan, hubungan dengan anak, akan terpanggil dan terbayang akan gambaran kondisi masa lalu yang dialami dan dirasakan sebelumnya.

Sehingga tidak jarang, anak yang dahulu melihat orang tua mengasuh dengan keras, kasar, mudah marah, ketika kini memiliki anak akan mengadopsi perilaku tersebut pada anaknya.

Tidak jarang pula anak yang dahulu melihat orang tuanya tidak harmonis, ketika menikah akan menjadi seorang yang paranoid pada pasangannya, mudah curiga, mudah tersulut emosi, dan menjadi kurang harmonis pula pada pasangannya kini.

Luka psikologis memiliki efek yang sangat besar dalam kejiwaan seseorang kini dan nanti.

Sama halnya dengan luka fisik, luka psikologis juga butuh untuk segera ditangani, diobati, dan dipulihkan kembali. Agar luka itu tidak menjadi semakin parah dan bisa kambuh sewaktu-waktu bila terus diabaikan.

Untuk itu, penting bagi setiap diri untuk mengenali dan segera menyadari luka psikologis yang ia rasakan.

Ketika menyadari bahwa ada suatu kejadian yang membuat diri terluka hati, perasaan tersakiti, merasa kecewa, benci, marah, tersinggung, segera kenali penyebabnya dan lakukan pengobatan sedini mungkin.

Jangan biarkan rasa itu "hilang sendiri oleh waktu" tanpa penanganan. Karena bila belum secara sadar diobati maka luka itu sesungguhnya masih tersimpan.

Banyak kita lihat pasangan yang kemudian bercerai karena mengalami puncak pertengkaran hebat.

 Biasanya pemicunya adalah masalah sepele.  Namun masalah-masalah yang terjadi sebelumnya, ikut memperbesar masalah kecil yang ada.

 Sehingga masalah yang tadinya sepele menjadi besar ketika emosi negatif yang "terpendam" selama bertahun-tahun akhirnya ke luar semua pada puncaknya dan semakin sulit untuk ditangani.

Lantas apa yang harus dilakukan segera ketika mengalami luka psikologis?

Dalam ajaran Islam dikenal dengan istilah Tadzkiyatun nafs yaitu MENSUCIKAN JIWA. Dalam istilah psikologi disebut dengan SELF HEALING.

Caranya adalah dengan MENYADARI terlebih dulu luka atau kesalahan diri.

Adanya kesadaran ini akan membantu diri untuk melakukan PENERIMAAN atas segala yang telah terjadi.

Setelah menerima, berusaha untuk MEMAAFKAN, baik terhadap kesalahan yang dilakukan oleh orang lain mau pun kesalahan oleh diri sendiri.

MEMPERBAIKI DIRI dan berusaha tidak mengulangi atau mengingat kembali kesalahan yang lalu.

Tidak ada seorang pun yang dapat kembali dan mengubah masa lalu. Tapi, setiap orang punya kebebasan untuk memilih berdamai dengan masa lalu dan memiliki masa depan yang bahagia dan penuh cinta.

Allah tidak melihat masa lalu seseorang tapi Allah melihat proses dan hasil akhir kehidupan manusia.

Semoga masa lalu yang pernah ada tidak membuat diri menjadi lemah, tapi sebaliknya semakin menguatkan diri untuk lebih hebat di masa depan dengan memetik hikmah dari setiap kejadian yang ada.


By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi
#parentingschool
View Post

Maha Suci Allah

Allah sesuai dengan persangkaan hamba kepada-Nya. Bila seorang hamba berpikir bahwa setiap yang hadir dalam hidupnya adalah kebaikan maka ia skan mampu fengan bijak menyikapinya.

Peristiwa yang baik ataupun buruk baginya sama baiknya. Karena ia sadar bahwa Allah yang ijinkan hal itu terjadi. Pemikiran yang baik pada Tuhan-Nya membuat seseorang jauh dari berkeluh kesah dan bisa menerima dengan IKHLAS apapun yang terjadi.

Persangkaan baiknya pada Allah membuatnya mampu bersyukur dan sabar saat diberi nikmat maupun ujian. Sehingga ia bisa selalu merasa BAHAGIA dalam semua kondisi hidup yang dijalani.

🌹🌹🌹

"Allah tidak akan mengubah nasib kita, sebelum kita mengubah diri kita sendiri." Firman Allah dalam Qs : Ar-rad : 11 ini menjadi ayat penuh motivasi bagi setiap orang yang ingin hidupnya lebih baik.

Jika ingin hidup erubah lebih baik maka harus mulai perubahan itu dari diri sendiri terlebih dahulu.

Apa yang harus diubah?
Yang diubah salah satunya adalah CARA PIKIR DAN SIKAP seseorang dalam memandang segala peristiwa.

Berbaik sangka, berpikiran postif, bersikap tenang, dan tetap dalam kebaikan. Baik itu ketika diberi nikmat maupun saat diberi ujian yang membuat dirinya tidak nyaman. Ia tahu dan menyadari bahwa semua yang datang adalah KEBAIKAN yang Allah hadirkan untuknya.

Diberi nikmat bila tidak disyukuri justru bisa jadi keburukan bagi dirinya. Bisa jadi sombong, istidraj, dan semakin ingkar pada TuhanNya.

Sebaliknya sata diberi ujian bila disyukuri bisa menjadi kebaikan untuk seseorang. Bertambah dekat pada Allah, banyak beramal sholeh, evaluasi diri dan taubat, sehingga semakin mendatangkan banyak kebaikan untuk dirinya lewat ujian yang ada.

Maka cara seseorang memandang setiap peristiwalah yang membuat peristiwa baik/buruk itu menjadi ANUGERAH ataukah Malapetaka baginya.

Seseorang yang baik akan mampu untuk selalu berbaik sangka pada Allah, berbaik sangka pada sesama, dan berbaik sangka pada dirinya sendiri.

Seseorang yang diliputi dengan Pikiran yang baik dan positif akan  memudahkannya untuk mengundang banyak kebaikan dan bahagia datang dalam dirinya.

Sebaliknya pun begitu, bila hati dan pikiran seseorang dipenuhi buruk sangka, penyakit hati, maka sama halnya mengundang keburukan-keburukan satu dan lainnya hadir dalam kehidupannya.

Albert Einsten mengatakan bahwa "Dunia yang kita ciptakan adalah hasil proses pikiran kita. Hal itu tak dapat diubah tanpa mengubah PIKIRAN kita sendiri."

Jadi, apa yang kita terima dan rasakan saat ini adalah Buah dari Pikiran kita yang telah lalu. Sehingga bila kita ingin mengubah hidup kita, maka kita harus mengubah cara berpikir kita. Berpikir yang lebih baik, positif, dan membahagiakan untuk kebahagiaan diri sendiri.

Bila seseorang bisa bahagia maka kebahagiaan itu pun akan mengalir pada orang-orang di sekelilingnya. Dan kebahagiaan itu akan mampu mengundang kebaikan dan kebahagiaan lainnya dalam kehidupan.

Think Positive and Be HAPPY

By: Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi


View Post

Saya ingin berbagi cerita tentang asisten rumah tangga saya terdahulu. Sebut saya namanya Bude Inah.

Bude Inah punya putri semata wayang yang kini sudah duduk di akhir Sekolah Menengah Atas. Putrinya ini mendapat beasiswa dari sekolah karena prestasinya yang selalu mendapat peringkat 1 di kelas. Dengan itu, biaya sekolah dan buku sudah terakomodasi lewat beasiswa. Bude Inah yang berasal dari keluarga kurang mampu tentu sangat terbantu dengan hal itu.

Senang dong, ya. Siapa sih orangtua yang nggak senang anaknya berprestasi dan mendapat beasiswa dari sekolah. Saya saja yang mendengarnya ikut merasa senang dan bangga. Apalagi orangtuanya. Tentu lebih bangga lagi. Selain bangga karena prestasi ananda juga senang karena sangat terbantu dengan adanya beasiswa yang diperoleh anaknya.

Saya pun mengamati dan belajar darinya. Apa kiranya amalan yang membuat putri Bude bisa unggul dan berprestasi. Saya ingin belajar agar anak-anak saya pun bisa demikian nantinya. Sholeh, cerdas, dan berprestasi.

Sehari-hari tinggal bersama tentu saya mengamati akhlaknya yang baik, jujur, ramah, penyayang pada anak-anak, ringan membantu, dan tentu ibadahnya baik. Bude Inah juga rajin mengerjakan sholat lima waktu, dan berhijab rapi walau di dalam rumah saat ada yang bukan mahram (suami saya).

Bude Inah juga sangat menghormati tamu. Pernah beberapa kali kami mengantarnya pulang ke rumah dan sambutan dan hidangan yang disiapkan suami beliau "sangat wah" di luar ekspektasi saya. Masya Allah.

Saya semakin penasaran, pastilah ada amalan khusus lainnya yang biasa ia lakukan. Karena bila amalan kita orangtua hanya biasa saja dan sama seperti pada umumnya yang orang lakukan tentu akan kurang kekuatan dan daya dorongnya.

Ternyata beberapa waktu kemudian saya mengetahui bahwa Bude Inah rutin melaksanakan Puasa Senin-Kamis. Ya, Bude Inah rutin mengamalkan puasa sunnah sebagai ibadah tambahan untuknya. Itulah kiranya yang menambah keridhoan Allah padanya dan melimpahkan rahmat dan kemuliaan baginya lewat putrinya. Allah angkat derajatnya lewat prestasi putrinya. Masya Allah... Wajarlah bila kemudian Bude Inah memiliki anak yang sholeh dan berprestasi.


Ayah Bunda...
Cerita seperti ini mungkin juga ada banyak terjadi di sekeliling kita. Anak-anak dari keluarga yang biasa saja bisa berprestasi dan mengharumkan keluarga, bangsa, dan agamanya. Bila kita telaah lebih jauh ke orangtuanya pastilah kita akan temui sosok orangtua yang penuh ketaatan pada Allah dan punya amalan khusus yang kemudian mengalirkan keberkahan bagi keluarga dan putra putrinya.

Bagaimana dengan kita?
Sudahkah kita memiliki amalan khusus, amalan tambahan yang membuat kita sebagai orangtua bisa mendapat rahmat Allah. Yang dengan rahmat itu, Allah alirkan keberkahan dan kebaikan pada keluarga dan anak-anak kita.

Belajar dari kisah tadi, hendaknya setiap orangtua terus menjaga amalan ibadahnya dan menambah ketaatannya pada Allah dengan amalan-amalan tambahan/sunnah yang Allah ridhoi. Entah itu dengan puasa, sholat malam, sedekah, atau lainnya.

Ingin anak bertambah sukses dan berprestasi? Maka orangtua pun harus lebih dulu menambah ketaatan dan prestasi hubungannya kepada Allah swt. Insya Allah, Allah akan datangkan banyak kebaikan dan rahmatNya bagi keluarga kita semua dan mengaruniai kita anak-anak yang sholeh dan menyenangkan hati orangtuanya hingga ke akhirat nanti. Amin Ya Rabbal Alamin...




View Post


Bila ditanya dari mana selama ini orangtua belajar cara pengasuhan anak, maka rata-rata akan menjawab belajar otodidak. Belajar dengan sendirinya. Ada pula yang menjawab belajar dan mengadopsi dari cara pengasuhan orangtuanya terdahulu.

Ayah Bunda...
Diri dan orangtua kita tentu tak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Ilmu kita sangatlah terbatas, walau mungkin pendidikan kita sudah tinggi. Maka bila kita belajar pada sesuatu yang salah, maka hasilnya pun bisa salah.

Untuk itu kita butuh suatu pedoman baku yang apabila kita berpedoman padanya maka hidup kita akan selamat dan bahagia. Dalam Islam, kita telah diberikan pedoman dan panduan hidup untuk segala hal, termasuk pengasuhan dan mendidik anak, yakni dari Rasulullah Saw. Maka hendaknya, kepadanyalah kita berpedoman.

Mengapa Rasulullah Saw?

1. Rasulullah adalah Suri Teladan yang Baik

Karena telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi umat-Nya. Rasulullah memiliki akhlak yang mulia. Lisan dan perbuatannya sejalan dengan nilai-nilai Al-quran. Ia adalah teladan dalam seuruh kebaikan, dalam beribadah, dalam bermuamalah, dalam berinteraksi sosial, termasuk dalam membina keluarga dan mengasuh anak-anak.

2. Al-quran dan hadist melekat dalam diri Rasulullah

Begitu mulianya akhlak Rasulullah sampai-sampai Bunda Aisyah menyatakan bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-quran. Nilai-nilai Al-quran melekat dalam diri Rasulullah.

Pedoman hidup umat manusia agar selamat dunia akhirat adalah Alquran dan hadist, dimana keduanya terdapat pada sosok Rasulullah Saw.

Sehingga menjadikan Rasulullah sebagai pedoman dalam mendidik anak adalah langkah terbaik yang harus dilakukan oleh setiap orangtua. Tujuannya agar bisa mengantarkan anak-anak titipin dari Allah ini menjadi sebaik-baik manusia.

Dengan berpedoman pada Rasulullah maka orangtua akan paham harus bagaimana mendidik anaknya dan hendak dibawa kemana arah pendidikannya.

Anak-anak sejatinya adalah anugerah dan amanah yang dititipkan Allah pada setiap orangtua. Orangtua diberi tanggung jawab untuk bisa mendidik anaknya menjadi seperti MAUNYA ALLAH.

Apa itu maunya Allah?

Pertama, untuk BERIBADAH KEPADA ALLAH

"Tidak Ku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaku."
Orangtua hendaknya mendidik anak-anak agar menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan taat beribadah.

Kedua, untuk menjadi KHALIFAH/PEMIMPIN di muka bumi ini.

Orangtua bertugas mendidik anaknya menjadi sosok yang berkarakter mulia sehingga bisa jadi pemimpin yang bermanfaat bagi umat. Tentu sebelum bisa memimpin orang lain, maka seorang anak harus sudah bisa memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu. Orangtualah yang berperan mendidik anak-anak agar mandiri, berkarakter dan sholeh.

Tugas berat tersebut tentu butuh bekal yang kuat pula untuk bisa mengembannya dengan baik. Dan Rasulullah telah membuktikan bahwa lewat pengasuhan dan pendidikannya telah hadir banyak pemimpin-pemimpin umat dan khalifah yang terbaik di sepanjang zaman. Mari kita belajar bagaimana cara Rasulullah mendidik umatnya.


Mendidik Anak Ala Rasulullah :

1. Mendidik dengan KETAATAN pada Allah

Orangtua hendaknya selalu bergantung dan memohon petunjuk serta pertolongan pada Allah agar diberi kemudahan dalam mendidik anak-anak. Tanpa pertolongan dan rahmat dari Allah kita ini begitu lemahnya. "Tiada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan dari Allah."

Untuk itu, agar orangtua bisa mendidik anak dengan baik maka harus menjaga dan meningkatkan terus kedekatan dan hubungan baik dengan Allah lewat amal sholeh dan ketaatan kepada-Nya. Jauhi maksiat, tinggalkan dosa, dan perbanyak amal ibadah yang membuat Allah ridho.

Sebagaimana Rasulullah Saw adalah sosok yang sangat taat pada Allah saw. Tidak perlah lepas dari sholat malam dan selalu dalam kebaikan. Hendaknya orangtua pun memiliki amalan khusus tambahan yang bisa membuat Allah semakin ridho padanya dan mendatangkan rahmat bagi keluarga dan putra-putrinya.

2. Mendidik lewat KETELADANAN

Anak-anak meniru apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan dari orangtuanya. Anak-anak belajar dari sikap dan perilaku sehari-hari yang ditampilkan orangtua. Maka bila orangtua banyak menampilkan akhlak yang baik saat berhubungan dengan anak maupun dalam berinteraksi dengan pasangan, keluarga, dan sosial, anak anak mengamati dan belajar langsung dari apa yang ia lihat dan dengar dan akan ia tiru dan lakukan pula.

Anak adalah copy paste orangtuanya. Orangtualah yang menyebabkan anak menjadi sosok yang baik ataukah buruk. Dalam hadist dikatakan bahwa pada dasarnya setiap anak terlahir FITRAH.

"Orangtuanyalah kemudian yang menyebabkannya menjadi Nasrani, Majusi, dan Yahudi."

Bagaimana cara orangtua mendidik, merespon, dan berinteraksi dengan anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan mental dan kepribadian anak.  Untuk itu penting bagi orangtua untuk selalu menjaga diri agar selalu dalam kebaikan. Sehingga anak pun akan meniru kebaikan orangtuanya.

3. Mendidik dengan KASIH SAYANG

Kasih sayang adalah nilai penting yang harus bisa diamalkan oleh setiap manusia, termasuk orangtua dalam mendidik anak. Perhatian, kelembutan dan kasih sayang adalah kebutuhan setiap makhluk. Allah sendiri memiliki sifat kasih dan sayang pada setiap makhlukNYA.

Orangtua  harus memiliki sifat kasih sayang yang tulus dalam dirinya dan berusaha untuk mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Memeluk, mencium, menggendong, dan memangku anak-anak dengan tulus dan penih cinta.

Anak-anak yang terpenuhi perhatian dan kasih sayangnya dari orangtua akan tumbuh menjadi anak yang juga pengasih dan penyayang. Anak-anak yang dilimpahi kasih sayang akan menjadi anak yang bahagia sehingga ia pun akan mampu membahagiakan orang-orang disekelilingnya.

Sebaliknya anak-anak yang kurang kasih sayang dan tidak bahagia bisa menjadi anak yang kurang baik dan keberadaannya bisa mengganggu kenyamanan orang lain di sekelilingnya. Mengapa? Karena ia tidak tahu bagaimana caranya berkasih sayang, ia jarang atau bahkan kurang mendapatkannya dari orangtuanya. Sehingga mendidik anak dengan penuh kasih sayang adalah sebuah keniscayaan bagi setiap orangtua. Jauhi kekerasan, kemarahan, intimiasi, memojokkan, dan menghakimi anak.

Lembutlah dan tuluslah dalam membersamai anak-anak agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkasih sayang dan dicintai.

Rasulullah adalah sosok yang taat, penuh keteladanan, serta penuh kasih sayang.  Untuk itu sebagai umatnya yang baik, hendaknya kita berusaha untuk meneladaninya dalam kehidupan ini, termasuk dalam mendidik anak, agar selamat dan bahagia hingga bisa berkumpul kembali ke akhirat kelak.

Salam Sayang
Bunda Sukma
#parentingschool

View Post


Sebel deh, pasanganku nggak mau berubah!

Sering ya, kita mendengar keluhan seperti itu hadir di tengah-tengah kita, bahkan kadang kata-kata itu keluar dari diri kita sendiri.

Hellooo....
Dunia di luar diri kita adalah sesuatu yang bukan jangkauan kita untuk mengubahnya.
Maunya kita ya orang lain bisa berubah, bisa diatur dan dikendalikan seperti maunya kita. Faktanya, itu sulit, tidak muda, dan cenderung mustahil.


Yang bisa diubah dengan segera adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan kita sendiri. Yaitu diri kita, hati, pikiran, dan perasaan kita sendiri. Itu yang bisa kita ubah, atur dan kendalikan.


Maka sebelum berharap orang lain berubah, pastikan kita sudah berubah terlebih dahulu. 

Apanya yang diubah? 
Semuanya 😊

Pola pikir, cara menilai diri sendiri, menilai orang lain, memaknai setiap peristiwa dan segala hal yang berada dalam kehidupan kita. 

Perubahan pola pikir itu akan membuat sikap dan pola perilaku kita terhadap orang lain pun akan berubah. Kita tidak lagi menjadi mudah berprasangka buruk, lebih menerima kekurangan orang lain, muda memaafkan, lebih banyak bersyukur atas setiap pemberian, sabar saat menjalani kesulitan, dan menjadi lebih bahagia. 

Orang lain di sekeliling kita akan merasakan perubahan yang terjadi pada diri kita. Mereka akan melihat, merasakan, dan menilai bahwa kita telah berubah menjadi sosok dan pribadi yang nyaman dan menyenangkan. Hasilnya, mereka pun akan senang dan semakin nyaman berinteraksi dan menjalin hubungan dengan kita.

Termasuk halnya dalam hubungan dengan pasangan dan anak dalam ruang lingkup keluarga. Ingin memiliki pasangan yang lebih baik, maka jadikan diri kita lebih baik terlebih dulu. Melayani pasangan dengan baik, membuatnya nyaman bersama kita, mendoakannya, dan membahagiakannya. Begitu pula dengan anak, ingin anak jadi berkarakter positif, maka orangtua harus lebih dulu menampilkan karakter positif saat berhubungan dengan anak. Sehingga anak pun merasa nyaman bersama orangtuanya.


Untuk mengubah dunia, mulailah dari diri sendiri terlebih dahulu dan kemudian perubahan besar akan terjadi dam kehidupan Anda.

View Post