MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA

Orangtua, perlu berlatih mengendalikan emosinya. Mengapa berlatih?

Ya, karena menjadi orangtua adalah peran yang baru bagi setiap orangtua.

Bisa di bilang masih gamang menjalaninya pada awalnya.

Emosi senang, bingung ,takut, campur aduk seiring peran itu hadir dalam kehidupan orangtua.

Seiring waktu pula, orangtua belajar dan berlatih mengenali dan mengelola emosinya agar bisa seirama dan nyaman bersama dengan anaknya.

Untuk itulah, penting bagi orangtua memiliki kecerdasan emosional yang baik agar ia mampu menjadi orangtua yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya dan juga emosi orang lain.

*Orangtua yang memiliki kecerdasan emosional yang baik artinya ia mampu mengenali emosinya sendiri juga mengenali emosi anaknya.*

Manfaat dari mengenali emosi diri dan orang lain sangat banyak.

Bila orangtua mengenali emosinya sendiri, ia akan tahu dan sadar kapan ia harus diam, dan kapan harus bertindak.

Begitu pula saat orangtua bisa mengenali emosi anaknya, maka orangtua akan mudah menentukan sikap apa yang akan diambilnya untuk merespon anaknya. Orangtua tahu apa kebutuhan anaknya dan bisa cepat merespon dengan tepat kebutuhan anaknya karena ia bisa mengenali emosi anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Sejak anak lahir, kita telah belajar mengenali emosi anak lewat tangisannya.

Ibu, khususnya, akan belajar mengenali tangisan bayinya. Apakah ini tangisan lapar, haus, sakit, ngantuk, kepanasan, kedinginan, takut, atau lainnya.

Ibu yang menyusui bayinya, tentu akan lebih mengenali & memahami kebutuhan anaknya lebih cepat.

Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk menyapih anak diusia 2th. Tujuannya agar ibu dapat lebih mengenali dan memahami buah hatinya, serta bisa membangun kedekatan emosional yang baik (kelekatan) dengan anaknya.

Tujuannya tentu agar semakin baik hubungan dan komunikasi antara orangtua dan anak sejak dini dan seterusnya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 *Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan berpikir dahulu sebelum bertindak.*

Contoh, ketika melihat anak sedang "bertengkar"  dan ada yant menangis.

Coba kenali dulu emosi orangtua. Apakah orangtua "terpancing emosi" saat melihat kejadian yang tidak nyaman pada anaknya.

Dengarkan detak jantung orangtua. Bila jantung itu berdetak kencang tak beraturan, artinya kita sedang terpancing emosi, karena perilaku anak.

Maka saat menyadari emosi kita tidak stabil, sedang dikuasai amarah, atau sedang tidak terkendali, kita tahu harusnya kita DIAM dulu sebelum bertindak apapun.

Karena, setiap perkataan atau perbuatan yang dilakukan saat diri sedang dikuasai emosi negatif, hasilnya selalu salah.

Untuk itu orangtua perlu menenangkan dirinya lebih dahulu.

Lakukan langkah untuk membuat emosi kembali stabil TERLEBIH DULU sebelum bertindak apapun.

Diantaranya:
❤️ Tarik nafas panjang, lalu buang perlahan, lakukan berulang.
❤️ Diam dan mencari lokasi aman dulu untuk meredakan emosi
❤️ Ubah posisi tubuh senyaman mungkin
❤️ Berwudhu, ademin hati dengan air.

Setelah orangtua tenang, silahkan damaikan situasi yang sedang menegang diantara anak-anak.

Biasanya sih, saat orangtua menyikapi mereka dengan tenang, mereka pun akan segera tenang πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
*Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan bertindak bijak dan tidak gegabah. Hasilnya, sikap, lisan, perbuatannya akan terjaga dan bisa memberi solusi dan kenyamanan bagi anaknya.*

*Orangtua yang bisa  mengenali emosi anaknya akan mampu bersikap dan memberi respon yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan anaknya, hasilnya anak pun bahagia.*

Ketika melihat anak bertengkar dan menangis, orangtua yang mampu mengenali emosi anaknya akan cepat paham kebutuhan anaknya.

*Orangtua tahu bahwa apapun perilaku anak tidak lain tidak bukan mereka lakukan untuk meraih perhatian orangtua dan ingin mendapat kenyamanan dan perlindungan dari orangtuanya.*

Contoh saat anak menangis, orangtua akan paham dan coba mengenali tangisan anaknya. Apakah perilaku anak yang menangis ini adalah gejala:
πŸ‘ Mengantuk
πŸ‘ Lapar
πŸ‘  Ingin cari perlindungan
πŸ‘Butuh rasa aman
πŸ‘Butuh kenyamanan
πŸ‘Butuh perhatian

Biasanya, anak-anak yang lapar dan ngantuk, akan menjadi lebih mudah terpancing emosinya, maka penting sekali bagi orangtua untuk kebali emosi anaknya.

Kenali makna dibalik perilaku anak.

Bila orangtua cepat mengenali tentu tau apa sikap yang harus di ambil saat ketemu momen yang menggemaskan di rumah.

Tentunya, orangtua akan memberi perlindungan dulu bila ada kondisi yang belum nyaman.

Ingat! Memberi perlindungan. Bukan mengancam apalagi menghakimi salah satu anak atau keduanya.

Jadi orangtua yang bisa mengenali orang lain, dalam hal ini anak, maka ia tahu bahwa anak yang sedang berantem sedang butuh perlindungan dan rasa aman dari orang dewasa yang dianggap bisa mendamaikan mereka yang tengah bertikai.

Bukan justru malah membuat tambah nggak aman πŸ˜‡πŸŒΉ

Jadi kenali emosi orangtua sendiri dan kenali emosi anak.

Anak yang menangis atau berteriak adalah anak yang butuh perlindungan dan rasa aman. Segera berikan kedua hal itu. Hadir di dekat mereka, tenangkan yang menangis, redakan tangisnya tanpa perlu menghakimi anak lain yang dikira membuatnya menangis.

Tidak perlu ada keributan akibat omelan orangtua atau adegan tambahan berupa kekerasan akibat memihak salah satu pihak.

Insya Allah suasana akan segera aman terkendali dan nyaman bagi semuanya.

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Bila orangtua mampu mengenali dan mengelola emosinya  dengan baik serta juga mampu mengenali emosi anaknya, maka itu artinya orangtua telah memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Semakin baik kecerdasan emosi orangtua maka hubungannya dengan anak-anak pun otomatis semakin baik dan dekat.

Orangtua nyaman dan happy bersama anaknya dan anak pun juga ikut merasa aman dan nyaman bersama orangtuanya.

Ini tentu sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional anak.

Karena emosi bersifat menular. Ibu yang memiliki emosi yang positif akan mampu menularkan emosi positif itu pula pada anaknya.

Jadi, bila orangtua ingin anaknya cerdas emosinya, mampu mengelola amarahnya, baik dan santun sikapnya, maka orangtua harus bisa mencontohkannya lebih dulu pada dirinya dan pada sikapnya ke anak-anak.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Berbahagialah Bunda, karena diri kita sendirilah yang paling bisa membahagiakan anak-anak kita.

Anak-anak kita tidak menginginkan orangtua yang lain. Mereka menginginkan kita, orangtuanya sendiri.

Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang begitu luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali.

Begitu pula hendaknya sebaliknya. Seberapa pun banyak kekurangan dan kesalahan anak-anak kita,  kita harus menerima dan memaafkan mereka sepenuh dan setulus hati kita.

Lapanglah hati kita
Mudahlah memaafkan
Terima anak kita seperti apa adanya mereka
Hadirkan selalu bahagia saat membersamai mereka
Insya Allah mereka akan menjadi anak yang Bahagia dan mampu membahagiakan orangtuanya pula.

🌸 Semakin baik emosi orangtua, semakin baik hubungannya dengan anak, semakin bahagia pula orangtua dalam mengasuh buah hatinya. 🌸

Happy mom, happy life, happy family πŸ˜πŸ˜‡πŸ™πŸ»

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog

#kecerdasanemosional #parentingschool
View Post


Menurut penelitian, emosi dapat mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku seseorang.

Seorang yang sedang marah, akan dihantui oleh perasaan yang tidak nyaman, berpikir negatif terhadap orang membuatnya marah, serta cenderung mudah menyakiti fisik dan perasaan orang lain dengan perkataan maupun perilakunya.

Bila seseorang mudah terbawa emosi (baper) maka ini dapat membuat ia menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri serta sulit untuk menjalin hubungan sosial yang baik dengan orang lain.

Emosi mempengaruhi pikiran. Bila lebih sering memelihara emosi negatif maka ia mudah menilai orang lain dengan pikiran yang negatif pula sehingga kecenderungannya ia lebih memilih menghindar atau mengurangi interaksi sosial dengan orang lain.

Tentu saja memelihara emosi negatif membuat diri kita menjadi tidak produktif dan terkesan anti sosial. Orang bisa mengira diri kita sombong. Padahal sebenarnya kita "sedang bermasalah" dengan emosi diri kita sendiri.

Untuk itu, ada langkah yang bisa dilakukan untuk memelihara emosi kita agar tetap positif, yakni dengan MEMODIFIKASI EMOSI itu sendiri.

Modifikasi emosi bisa dilakukan dengan MENGUBAH TUBUH KITA.

Jadi posisinya dibalik. Bila di awal emosi mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku sehingga dapat mewujud dalam verbal dan nonverbal kita.

Maka dengan modofikasi, kondisinya kita balik.
Saat emosi kita sedang tidak baik, kita posisikan tubuh kita melakukan yang sebaliknya.

Saat kita sedang marah atau dimarahi, biasanya ekspresi wajah dan tubuh kita akan TEGANG. Siap-siap untuk posisi menyerang.

Lakukan SEBALIKNYA.
Longgarkan syaraf marah itu dengan membentuk SENYUMAN di wajah. Tujuannya, agar otot-otot kemarahan yang menegang bisa segera mengendur. Jadi lebih rileks.

Jadi dengan memodifikasi tubuh kita, kita bisa memodifikasi emosi kita. Untuk kebaikan dan tujuan yang positif.

Hasilnya, emosi itu menular. Maka saat ada anak, pasangan atau orang yang sedang marah, sekarang sudah tau ya cara menyikapinya? DISENYUMIN AJA 😊

Syaraf kita yang dimarahi menjadi rileks dan mengendur dan yang marah pun bisa ikut menjadi rileks karena melihat ekspresi wajah kita yang senyum.

Itu akan mempercepat situasi tegang berubah menjadi lebih nyaman.

Dalam lingkup PENDIDIKAN, hal ini pun dapat dipraktekkan. Anak yang belajar dalam.kondisi hati yang bahagai, akan lebih mudah menyerap informasi dan pengetahuan yang disampaikannoleh pendidiknya.

Maka, kita sebagai pendidik dapat memodifikasi proses pembelajaran di sekolah, dengan menciptakan terlebih dulu suasana yang menyenangkan sebelum proses pembelajaran di mulai.

Misal dengan olahraga atau gerakan ringan agar otot dan syaraf anak bersemangat dan ceria. Juga dengan membuat hal-hal positif seperti sentuhan nyaman bagi setiap anak bahwa mereka disambut bahagia oleh guru-gurunya. Sehingga kedekatan anak dan pendidik terbangun positif. Ini akan sangat membantu menyiapkan psikologis anak untuk menerima dan mengikuti proses pembelajaran di rumah atau pun sekolah.

Tokoh psikologi positif, Martin Seligman mengungkapkan bahwa kebahagiaan adalah kunci kesuksesan. Setiap orang yang bahagia akan mampu menikmati dan menjalankan perannya dengan lebih baik dan totalitas.

Maka, saat ini dan seterusnya, kita harus memilih untuk selalu bahagia. Bila sedang tak bahagia, modifikasilah tubuh Anda agar segera kembali berbahagia.

SENYUM 😊😊😊

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
#positiveconsulting #psikolog #semarang
View Post
AKU MEMILIHMU KARENA-NYA & AKU MENCINTAIMU KARENA-NYA

Alhamdulillah, 10th sudah perjalanan biduk rumah tangga ini kita lalui.  Ummi bahagia bersama Ayah.

Rasulullah SAW sangat tepat membimbing kita untuk memilih pasangan karena agamanya dan mencintai pasangan juga karena-Nya. Maka sepanjang perjalanan pernikahan ini,  Ummi terus belajar mencintai Ayah karena-Nya.

Akhirnya, kini Ummi paham mengapa Rasulullah berpesan demikian. Bahwa ternyata pada diri pasangan, pasti akan kita temui kelemahan, ada saja kekhilafan, juga ia tak luput dari kesalahan. Pasangan kita juga adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan.

Bila kita mencintai pasangan karena Allah, maka mudah bagi kita untuk menerima kekurangannya dan memaafkan kesalahannya. Karena kita sadar, bahwa pasangan kita adalah juga makhluk Allah yang punya salah dan khilaf serta lemah, sama halnya seperti diri kita.

Maka, bukan tempatnya kita bergantung pada pasangan kita. Karena kita dan pasangan sama-sama lemah. Maka kita harus selalu bergantung pada Allah, yang Maha Kuat, dalam segala persoalan yang kita hadapi, khususnya di rumah tangga.

Bila kita menikah atau mencintai pasangan kita karena hartanya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita kekurangan harta.

Bila kita mencintainya karena agamanya, maka kita pun akan mudah mengeluh saat ia lalai dan khilaf berbuat dosa.

Bila kita mencintainya karena fisiknya, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat pasangan kita sakit-sakitan.

Bila kita mencintainya karena keluarganya yang terpandang, maka kita akan mudah sekali mengeluh saat kita dapati sika dan perilaku dari keluarga pasangan yang kurang berkenan.

Maka benar kata Nabi SAW, *cintailah pasanganmu karena Allah saja.*

Dengan cinta itu, kita akan mudah menerima kekurangannya dengan ikhlas. Kita akan mudah memaafkannya karena Allah.

Mengapa? Karena cinta kita padanya karena Allah. Kita akan berusaha bersikap pada pasangan kita seperti apa yang Allah cintai.

Allah cinta pada istri yang taat pada suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga kehormatan suaminya.

Allah cinta pada istri yang menjaga harta suaminya.

Allah cinta pada istri yang memaafkan suaminya, sebagaimana ia pun berharap Allah memaafkan kesalahan-kesalahannya.

Maka bila kita temui kekurangan dan kesalahan pada pasangan, kita akan kembalikan lagi cinta kita kepada Allah dengan memperkuat hubungan kita dengan-Nya.

Bersemilah selalu ikatan cinta yang dibina karena Allah.

Masya Allah
Alhamdulillahirabbilalamin

By: Bunda Sukma
#parentingschool
#sekolahpernikahan
#positiveconsulting
#Anniversary11th
View Post
KALAU ALLAH SUDAH RIDHA, APA SIH YANG NGGAK DIKASIH?

Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, adapun hasilnya adalah ketentuan Allah. Maka, beruntunglah kita bahwa dalam penilaian prestasi seorang hamba, Allah menilai prosesnya, bukan hasilnya.

Tugas kita adalah untuk terus menyempurnakan prosesnya (ikhtiar) dan ridha (ikhlas) akan hasilnya. Urusan hasil adalah wewenangnya Allah, sebagai pengatur alam semesta.

Perlu jadi motivasi bagi kita bahwa proses atau ikhtiar dan usaha yang kita berikan tidak akan mengkhianati hasil. Artinya, semakin sempurna usaha yang kita lakukan maka semakin baik pula hasil yang akan kita dapatkan.

Faktanya, namanya manusia, selalu merasa kurang. Adakalanya kita merasa kurang puas dengan hasil yang diperoleh. Ketidakpuasan ini menghasilkan kekecewaan, sehingga tidak lagi bersyukur atas ketetapan Allah.

Dalam riwayat kitab Musnad yang disarikan di buku Thibul Qulub, Klinik Penyakit Hati, karangan Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah, Nabi SAW bersabda

"Diantara sebab kebahagiaan manusia adalah istikharah kepada Allah dan ridha terhadap apa yang Allah tetapkan kepadanya. Dan diantara sebab kesengsaraan manusia adalah meninggalkan istikharah kepada Allah dan murka terhadap apa yang telah Allah tetapkan padanya."

Maka Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan bahwa ridha yang bermanfaat adalah ridha setelah ketetapan Allah diturunkan, bukan sebelumnya. Karena menginginkan sesuatu namun belum terlaksana dinamakan al-azm (rencana/keinginan) dan tatkala ketetapan Allah sudah berjalan maka rusaklah keinginan tersebut.

Untuk itulah, Nabi SAW pun berdoa pada Allah agar diberi ridha setelah turunnya ketetapan Allah.

Nabi saja berdoa agar bisa diberi keikhlasan hati. Apalagi kita, manusia biasa ini. Tentu kita lebih butuh, Allah hadirkan keridhaan pada hati kita dalam menerima segala ketetapannya.

Penelitian terbaru saat ini membuktikan bahwa dengan menghadirkan hati dan ikhlas menerima setiap ketetapan yang Allah berikan dalam hidup kita akan melahirkan kebahagiaan di hati.

Beberapa klien yang telah mengikuti terapi emosi dengan metode ikhlas ini, memberikan testomoni bahwa mereka merasakan banyak perubahan dalam dirinya, emosinya semakin stabil, dan kehidupannya jauh lebih tentram.  Pada akhirnya, mereka semakin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Masya Allah.

Semoga dengan semakin ridhanya kita ada ketetapan Allah, maka Allah pun semakin ridha pada kita. Tau kan, bila Allah sudah ridha, apa sih yang nggak Allah kasih? Jadi tugas kita adalah berusaha untuk selalu membuat Allah ridha pada diri kita.

Alhamdulillah 😍

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
Wa 081362359651

#positiveconsulting
#konseling
#terapiemosi
View Post


Usia ideal untuk anak masuk sekolah dasar adalah 7 tahun. Di usia 7 tahun, anak-anak sudah lebih siap dan matang baik secara fisik, kognitif, dan psikologis.

Jika kemudian orang tua ingin membekali anak-anaknya untuk sekolah lebih dini, maka sebaiknya mengurangi dari usia standar 7+ tahun. Misal, jika ingin memasukkan anak ke TK,  maka idealnya di usia 5+ tahun. Sehingga lulus pendidikan TK selama dua tahun, ananda sudah masuk di usia 7 tahun.

Jika ingin membekali ananda dengan sekolah yang lebih dini lagi, misal paud atau play group, maka dapat dimulai pada usia 4 tahun.

Sebaik-baik pendidikan bagi anak adalah dari Ibunya, dari orang tuanya. Figur yang paling dekat dengannya. Secara psikologis anak-anak akan merasa lebih nyaman belajar dam bersama orang tua, khususnya Ibu, di usia dininya. Kebersamaan ini akan memberikan manfaat lebih besar bagi perkembangan ananda.

Jika ibu bisa full bersama anak di rumah maka maksimalkanlah dengan beragam kegiatan yang positif. Namun jika pun tidak bisa karena bekerja atau hal lain, maka sebisa mungkin tetap memiliki waktu yang berkualitas bersama anak.

Ada banyak pertimbangan orang tua menyekolahkan anaknya di usia dini. Salah satunya adalah ingin anak mendapat stimulasi dan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang ananda.

Ada pula yang karena alasan bekerja. Orang tua lebih memilih menitipkan anak di sekolah dibanding di rumah dengan pengasuh. Sehingga bisa mendapat lingkungan dan stimulus lebih baik.

Persoalan yang sering muncul jika menyekolahkan anak terlalu dini biasanya berkaitan dengan kesiapan mentalnya. Anak-anak belum siap secara mental dengan lingkungan dan orang-orang baru di sekolah. Seringnya anak merasa tidak nyaman atau tantrum saat di sekolah.

Barangkali memang dari sisi intelektual anak terlihat siap dan sudah mulai mengerti pelajarannya, misal sudah bisa berhitung, baca, atau lainnya. Tapi kita juga perlu memperhatikan kesiapan pada sisi lainnya, bukan.

Hal inilah yang penting untuk dipersiapkan para orang tua sebelum menyekolahkan anak di usia dini. Menyiapkan mental anak agar merasa senang dan nyaman saat akan  bersekolah nantinya.

Orang tua bisa sejak dini bercerita tentang senangnya bersekolah, banyak teman, mainan, dan guru-guru yang baik dan penyayang. Orang tua juga bisa mengajak anak survei ke lokasi sekolah sehingga ia tidak merasa asing dengan lingkungannya.

Usahakan di hari-hari pertama masa sekolahnya nanti, anak merasa senyaman mungkin untuk penyesuaian awalnya di sekolah, dengan teman dan gurunya. Orang tua sebisa mungkin menyediakan waktu untuk mendampingi putra/putrinya di masa-masa awal sekolah.

Kenyamanan anak di awal masa sekolah akan membuatnya lebih cepat beradaptasi dan menikmati waktunya di sekolah. Sehingga bisa mengikuti kegiatan di sekolah dengan baik dan senang.

Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi, Psikolog
CEO Positive Consulting
Pendiri Parenting School Indonesia
View Post



Sadar nggak sih, bahwa dalam rangkaian kehidupan ini semuanya tercipta berpasangan. Selalu diberi dua alternatif pilihan. Misalnya, hidup-mati, baik-buruk, positif-negatif, gelap-terang, hitam-putih, dan banyak lainnya termasuk surga-neraka.

Seperti apakah kita harus menyikapi fenomena pilihan tersebut. Bila hanya diberikan dua pilihan yang mana keduanya saling bertolang belakang. Pilihan apa yang akan kita ambil?

Sayangnya kita tidak dapat memilih. Apa yang akan kita dapat itulah yang telah Allah tetapkan untuk kita. Jadi kita tidak dapat memilih, saat Allah tetapkan kita untuk hidup saat ini, maka mau tidak mau kita harus hidup. Kita tidak bisa serta merta mengubah untuk mati seketika.

Semua ketentuan yang Allah hadirkan dalam hidup kita adalah sesuatu yang harus kita imani sebagi qadha dan qadharnya Allah SWT. Harus diimani dan yakini serta percaya bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari Allah untuk hidup kita.

Maka bila ketentuan Allah tidak dapat kita pilih dan seleksi, apa yang harus kita lakukan?

Untuk menyikapi ketentuan Allah juga ternyata ada dua pilihan. Menerimanya atau menolaknya. Mengimaninya atau mengingkarinya. Manusia diberi kebebasan mutlak untuk menentukan sikapnya.

Bila kita sudah berhasil meyakini dan meng-imani ketentuan Allah sebagai qadha dan qadharnya, maka insya Allah akan mudah bagi kita untuk MENERIMA apa pun kejadian yang ditakdirkan hadir dalam hidup kita. Karena sekuat apapun kita menolaknya, ketentuan itu tidak bisa ditunda, dibatalkan, atau diulangi. Apa yang sudah terjadi tetap akan terjadi.

Satu-satunya pilihan tepat yang harusnya di ambil adalah MENERIMANYA DENGAN IKHLAS.

"Saya terima Ya Allah, apapun ketentuan yang Engkau hadirkan dalam kehidupan saya ini. Baik itu ketentuan yang baik ataupun yang tidak baik dalam pandangan saya, saya ikhlas menerimanya sebagai ketetapan dari Mu. Saya pasrahkan padamu kebaikan dan jalan keluarnya."

Secara psikologis, kondisi di mana seseorang bisa ikhlas menerima takdir yang ia hadapi akan lebih cepat membuat hati dan dirinya menjadi tenang dan bahagia, lebih cepat "move on."

Kita belajar dari kisah Bunda Hajar saat akan ditinggal oleh suaminya, Nabi Ibrahim, di gurun pasir yang tandus.
Takdir sudah menetapkan bahwa Bunda Hajar haruslah berpisah sementara waktu dari suaminya. Ia harus berada di gurun pasir itu berdua saja dengan bayinya dengan perbekalan seadanya. Hanya beratap langit.

Bagaimana kemudian respon atau sikap yang diambil Bunda Hajar dalam menyikapi takdirnya tersebut? Apakah ia marah pada suaminya atau curigakah ia pada mad'u-nya (Bunda Sarah) sehingga ia dijauhkan ke tempat yang sunyi seperti itu?
 
TIDAK !!!
Bunda Hajar benar-benar menjaga hati dan pikirannya dari segala hal yang bisa membuatnya menjadi "lemah" dan tak ridho.

Bunda Hajar justru mencari cara dan alasan apa yang bisa membuatnya ridho, ikhlas, dan berlapang hati menerima takdir Allah itu.

Apa yang dilakukan Bunda Hajar?
Ia bertanya pada suaminya, "Ya, Ibrahim, apakah Engkau melakukan ini semua karena Allah?"

Nabi Ibrahim pun menjawab, "Ya, Aku melakukannya atas perintah Allah."

Masya Allah
Bunda Hajar, begitu mulia akhlak dan kecintaanya pada Allah dan ketaatannya pada suaminya.

Ia tidak mencari-cari alasan kenapa aku diperlakukan begini dan begitu. Mengapa suamiku tidak adil dan berbuat seperti ini. Ia tidak mencari-cari alasan, kenapa oh kenapa ini terjadi pada ku, saat ia ditakdirkan berada di gurun pasir itu. Tapi ia justru mencari penguatan yang bisa membuatnya bertahan dan ikhlas menerima takdirnya, yakni itu adalah ketentuan Allah Swt.

Maka saat ia mendapati jawaban dari suaminya bahwa itu terjadi atas perintah Allah, maka dengan penuh iman dan keyakinan Bunda Hajar pun menjawab, bahwa bila itu adalah ketentuan dari Allah, maka aku ikhlas menerimanya. Aku yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.

Bunda Hajar yakin bahwa ada Allah yang akan membersamainya. Maka hanya kepada a Allah sajalah kini Ia bergantung.

Tentu kita semua sudah tahu kelanjutan dari kisah tersebut. Betapa keajaiban dan kemuliaan terus hadir dalam kehidupan mereka karena kuatnya keimanan dan ketergantungan mereka pada Allah Swt.

Tentu kita bisa belajar dari Kisah  tersebut, bahwa kita pun harus bisa dan pasti bisa memilih cara dan sikap apa yang akan kita ambil saat takdir Allah datang pada kita. Baik itu takdir baik atau buruk menurut  pandangan kita. Kita harus menerimanya dengan ikhlas karena yakin bahwa itu sudah menjadi ketetapan Allah.

"Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang menurut kita buruk, belum tentu buruk menurut Allah. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tiada mengetahui."

By: Sukmadiarti Perangin-angin

#parentingschool #sekolahpernikahan #positiveconsulting

View Post
"Tidaklah berpisah dua orang yang saling mencintai (suami-istri) kecuali karena dosa dari salah satu diantaranya."

Penyebab pertengkaran, keributan, ketidaknyaman, dan perpisahan pasangan suami istri adalah karena adanya dosa yang dilakukan oleh salah satu diantaranya.

Apa itu dosanya?
Wallahualam

Kutipan quote di atas sepertinya bisa menjadi gambarannya, bahwa "Ketika seseorang mencari kenikmatan pada sesuatu yang haram untuknya, maka semakin ia tidak lagi mampu mendapatkan kenikmatan pada sesuatu yang HALAL untuknya."

Maksudnya bagaimana?
Misal: Ketika suami/istri mencari sensasi seksual pada sesuatu yang haram, misal lewat video, atau berhubungan dengan yang bukan pasangannya baik lewat chat, telpon, medsos, atau sekedar selingkuh hati, maka bisa di pastikan ia TIDAK LAGI atau berkurang kepuasannya pada pasangannya. Ia menjadi sangat mudah melihat kekurangan pada pasangannya.

Mengapa itu bisa terjadi?
Karena telah dicabut keberkahan dari dirinya akibat dosa yang secara sadar/tidak sadar telah dilakukannya.

Barangkali awalnya hanya iseng, hanya bercanda, atau coba-coba. Tapi syetan sangat pintar dan akan terus membuat candu pada para pelaku maksiat. Akibatnya ia akan terus mengulang-ulang dan bahkan menambah dosis kesalahannya dari waktu ke waktu sehingga semakinlah ia tersesat, bila tidak segera sadar dan bertaubat. 

Ini peringatan buat diri kita, dan mari saling mengingatkan dengan pasangan kita. Jaga pandangan, pendengaran, pikiran, hati dan kemaluan dari segala hal yang Haram.

Seorang Ustad pernah ditanya oleh muridnya mengapa hubungannya dengan pasangannya menjadi semakin berjarak, sering bertengkar dan bahkan cinta pun seakan hilang. Padahal di awal nikah semua terasa indah dan cinta begitu bersemi.

Ustad pun menjawab, tundukan pandangan dan diri mu dari yang haram, maka kau akan dapat menikmati apa yang halal untuk mu.

Masya Allah...
Pelajaran pernikahan yang sungguh mahal dan begitu berharga.

Termasuk halnya dengan rezeki yang di bawa pulang ke rumah. Cari dan berilah rezeki dari yang halal untuk anak, istri, dan keluarga. Bila seseorang terlena dan tergoda dengan rezeki yang haram maka berkah itu pun dapat tercabut dari dalam keluarganya. Anak bermasalah, hubungan suami istri menjadi tidak harmonis, dan harta seakan kurang dan kurang terus.

Syukuri apa yang halal dan jauhi apa yang haram untuk diri dan keluarga kita. Insya Allah berkah dan bahagia  akan kita dapatkan πŸ€—

By: Sukmadiarti Perangin-angin

Untuk konsultasi pernikahan, silahkan hubungi kami di WA 0813-6235-9651


  • *Syarat dan ketentuan berlaku


#parentingschool #sekolahpernikahan
#positiveconsulting
View Post