MARAH SEBAGAI BENTUK KASIH SAYANG
By: Sukmadiarti Psikolog

Bolehkah orangtua marah pada anaknya?

Kasih sayang orangtua pada anak tidak kemudian menyebabkannya untuk diam saja ketika melihat ada kesalahan pada anak. Ketika anak berbuat suatu kesalahan, baik itu disengaja ataupun tidak disengaja, tugas orangtualah untuk menegur, menasehati, dan meluruskannya.

Sikap diam, acuh, membiarkan apalagi membela ketika anak melakukan kesalahan, bukanlah bentuk kasih sayang. Bila kesalahan anak dibiarkan, didiamkan, apalagi dibela, tentu ini membuat anak menjadi bingung dan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Bahkan anak bisa jadi keliru memahami yang salah itu benar, dan yang benar itu salah, ketika orangtua tidak pernah atau kurang dalam mendidiknya.

Untuk itulah mengapa sikap marah atau menunjukkan ketidaksukaan orangtua pada kesalahan anak perlu tetap dilakukan sebagai bentuk kasih sayang orangtua, untuk menyelamatkan anaknya dari keburukan.

Dalam sebuah wawancara dengan seorang narapidana kasus pembunuhan berantai di luar negeri. Ia diwawancarai tentang mengapa ia bisa berperilaku kejam seperti itu. Ternyata, semasa kecil, ia kurang mendapat pengarahan dari orangtuanya. Bahkan pernah suatu waktu, saya  berbuat salah, mencuri, namun orangtua bukannya menegur atau menghukum saya atas kesalahan itu, namun justru membela saya dan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang saya perbuat. Kurang lebih begitu jawaban yang ia berikan.

Kesalahan anak haruslah kita luruskan, ditegur, dan diperbaiki. Untuk itu, marahnya orangtua harus pada tempatnya dan bertujuan untuk meluruskan kesalahan anak sehingga ia tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Pertanyaan selanjutnya adalah, marah seperti apa yang dibolehkan?

Marah tentu bukan sekedar marah. Marah yang dimaksud dalam hal ini bukanlah marah dalam meluapkan emosi dan kekesalan kita pada anak.  Marah di sini bukanlah dengan melukai fisik maupun psikologis anak dengan kata ataupun perbuatan orangtua. Sebab marah seperti ini justru dilarang oleh agama.

Rasulullah SAW telah mengingatkan:
"Jangan marah, bagimu surga."

Marah yang dimaksudkan di sini adalah marah karena kasih sayang. Marah karena perilaku anak, bukan pada anaknya tapi pada perilakunya. Marah yang ingin kita tunjukkan adalah ketidaksukaan kita pada perilakunya, sehingga langkah yang kita lakukan adalah membuat anak sadar bahwa ada perilakunya yang perlu diperbaiki dan diluruskan. Maka cara orangtua dalam menunjukkan ketidaksukaannya haruslah tepat dan masuk di hati anak secara baik.
Marah atau ketidaksukaan orangtua pada kesalahan anak dapat ditunjukkan salah satunya melalui sikap DIAM.

Rasulullah Saw pernah menunjukkan ketidaksukaannya pada perilaku sahabat yang enggan berperang, dengan mendiamkan sahabat tersebut selama beberapa waktu. Tidak hanya Rasulullah saja yang mendiamkan sahabat tersebut, tapi sahabat lain dan penduduk di lingkungannya pun turut mendiamkannya, sebagai bentuk hukuman atas kesalahan yang ia perbuat. Tujuannya untuk memberikan efek jera, dan agar sahabat tersebut menyadari kesalahannya sehingga ke depan ia dapat memperbaiki diri.

Metode mendiamkan kepada anak bisa pula diterapkan oleh orangtua. Metode mendiamkan akan efektif bekerja bila sebelumnya orangtua penuh kasih sayang, perhatian, dan dekat dengan anak. Bila sebelumnya orangtua jarang berinteraksi, cenderung cuek, maka metode diam menjadi kurang efektif. Karena anak tidak merasakan perbedaan signifikan atas perubahan yang terjadi.

Metode diam ini sederhana sekali, tapi akan sangat penuh makna. Bila memang selama ini anak telah terbiasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang utuh dari orangtua.

Orangtua tentu ingin bisa memaksimalkan metode ini, bukan. Maka mari pastikan, orangtua selalu memberikan banyak kasih dan sayang pada anak setiap harinya. Kurangi keluhan, omelan, dan teguran berlebihan, sehingga diamnya orangtua bisa menjadi senjata efektif untuk menegur ketika anak melakukan kesalahan.
Bersedia πŸ˜‡

www.positiveconsulting.id
Instagram: @parentingschool_indonesia
#kasihsayang #konsultasionline
#rumahkeluargaindonesia

View Post
MENGAPA ORANGTUA HARUS MEMILIH METODE KASIH SAYANG?

by: Sukmadiarti Psikolog


Amru Khalid, dalam bukunya yang berjudul Membangun surga di rumah kita menuliskan bahwa wujud cinta adalah lewat tingkah laku dan perbuatan. Dalam bahasa lain kita bisa mengistilahkannya dengan akhlak.

Siapakah teladan kita dalam hal akhlak?
Ya, betul sekali. Rasulullah SAW diutus untuk memberikan teladan dan menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak yang mencerminkan sifat-sifat Allah, salah satunya adalah Rahman dan Rahim, penuh kasih dan sayang.

Kasih sayang inilah kemudian yang menjadi metode Rasulullah SAW dalam mengajak, menyeru, dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan pada umatnya. Kasih sayang inilah yang kemudian mampu meluluhkan hati kaumnya yang keras menjadi lembut dan tergerak untuk mengikuti ajaran kebaikan yang beliau sebarkan.

Mengapa orangtua juga perlu meledani metode  kasih sayang dari Rasulullah ini? Jawabnya tentu karena metode ini telah TERBUKTI membawa hasil dan perubahan yang sangat banyak pada kebaikan umat dari zaman dulu hingga masa kini. Tiada keraguan atasnya, bukan. Sejarah telah membuktikannya.

"Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..." (Qs. Al-Imran: 159).

Anak-anak adalah bagian dari orang-orang yang menjadi amanah orangtua untuk diseru, diajak, dan dibawa pada kebaikan. Allah mengingatkan kita dalam Qs Al-imran:159 di atas bahwa bila kita bersikap keras dan berhati keras pada anak, maka anak-anak akan menjauh dan menghindar dari kita, orangtuanya. Untuk itulah, orangtua harus terus berupaya melembutkan hati pada anaknya dan bersikap penuh kasih sayang dalam mengajak, menegur, dan membawa anak-anak pada kebaikan.

Sebagaimana di awal Amru Khalid telah mengingatkan kita pula bahwa cinta berwujud tingkah laku dan perbuatan. Maka bila benar kita cinta pada anak-anak kita, tentu tingkah laku dan perbuatan kita harus pula mencerminkan akhlak yang terpuji dalam bersikap dan berperilaku kepada mereka. Dengan itu maka anak-anak pun akan merasakan bahwa ia benar dicintai oleh orangtuanya, apapun adanya dirinya.


 www.positiveconsulting.id
#kasihsayang
#konselingkeluarga
#positiveconsulting
#parentingschoolindonesia
View Post
KASIH SAYANG KARUNIA DARI ILAHI

Sebagai orangtua, tentu kita ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak. Kasih sayang, perhatian, fasilitas, dan kebersamaan yang menyenangkan bagi mereka.

Bersyukurlah kita pada Allah, karena dikaruniai hati yang lembut dan penuh kasih sayang. Sebab tidak semua orang memilikinya. Allah mengatakan bahwa sifat kasih sayang hanya Allah berikan bagi siapa yang Ia kehendaki saja.

Maka mari bermohon dan berusaha untuk menjadi pribadi-pribadi yang dikehendaki dan diridhoi Allah. Sehingga Allah hadirkan kelembutan dan kasih sayang di hati kita.

Dengan memiliki hati yang lembut dan penuh kasih sayang, maka kita akan lebih mudah untuk menjalankan peran yang ada, khususnya sebagai orangtua. Kasih sayang membuat kita mampu dengan sukarela, ikhlas, tulus mengasuh putra putri dengan penuh cinta. Walau tak jarang, kita harus banyak berkorban waktu, tenaga, pikiran, perasaan,dan harta karenanya.

Dengan sifat kasih sayang dapat pula membuat kita mampu bersikap lembut saat menegur, mengingatkan, dan mengajak putra putri pada kebaikan.

Dengan kasih sayang itu, putra putri kita pun, insya Allah akan tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya, berkasih sayang pula pada orangtua dan sesamanya.

Alhamdulillahirabbilalamin
Semoga Allah meridhoi kita semua dan menghadirkan sifat kasih sayang pada hati kita semua.

Aamiin

By: Sukmadiarti Psikolog
www.positiveconsulting.id
@parentingschool_indonesia
View Post
BAHAGIAKAN ORANG LAIN MAKA KITA AKAN LEBIH BAHAGIA LAGI

Bahagia akan hadir saat bisa membahagiakan orang lain.

Saat dimana kita tidak lagi hanya berfokus pada kebahagiaan diri, tapi sudah beralih ke bagaimana cara membahagiakan orang lain.

Saat dimana kita tidak lagi hanya berfokus pada masalah kita sendiri, namun sudah bisa beralih pada mendoakan jalan keluar atas masalah orang lain, khususnya yang mengalami masalah sama dengan kita.

Saat dimana kita memberi, sementara kita juga sedang membutuhkannya.

Saat dimana kita memberi apa yang kita suka, pada orang lain yang juga menyukainya.

Sesungguhnya, itulah bahagia sejati.
Bahagia yang hanya bisa dipahami dengan hati.
Bahagia yang hanya bisa dirasakan saat kita sudah mengamalkannya.
Bahagia yang bisa semakin besar saat kita telah merasakan dahsyatnya ketenangan dan balasan atas bahagia yang kita beri pada orang lain.

Raihlah bahagia itu.

Seorang guru saya berbagi kisahnya, bahwa selama ini ia hanya fokus menyelesaikan masalahnya. Kebetulan ia punya anak autis.

Ia berdoa untuk kesembuhan dan kebaikan anaknya. Fokus terus pada masalah dan anaknya.

Sampai suatu ketika ia mendapat ilmu, bahwa masalah itu datangnya dari Allah. Ada pesan yang ingin Allah sampaikan pada diri kita. Pahami dan cari itu.

Masalah bukan untuk dilawan tapi untuk diterima. Maka terima dulu masalahnya dengan ikhlas. Raih ketenangan dan cobalah bersyukur atas masalah yang dihadapi.

Beliau pun kemudian menerima masalah tersebut dengan ikhlas. Karena Allah yang beri masalah pasti pula Allah yang mempunyai jalan keluarnya.

Maka ia terus ikhtiar mendekat pada Allah agar Allah ridho padaNya.

Lalu beliau mendapat ilmu baru lagi, bahwa kita punya masalah. Orang lain pun punya masalah. Jangan hanya fokus pada masalah kita. Tapi cobalah mendoakan orang lain yang juga punya masalah, yang juga sama dengan kita. Doakan mereka

Maka sejak itu ia fokus mendoakan teman-temannya yang juga punya anak autis. Ia doakan kesehatan kesembuhan kebaikan bagi anak-anak autis yang ia kenal, dan ia pun juga mendoakan orangtua anak-anak tersebut agar diberikan ketenangan dan jalan keluar dalam menerima kondisi anaknya.

Masya Allah
Pagi ia berdoa seperti itu
Dan sorenya Allah langsung menjawab doanya. Sore itu, anaknya yang selama ini belum bisa bicara, sudah bisa bicara. Sepatah dua kata. Dan kini, anak tersebut bahkan sudah hafal 4 juz alquran. Semua atas ijin Allah.

Masya Allah
Semua atas kuasanya Allah
Tiada yang mustahil bagi Allah

Maka jangan sandarkan hati kita pada metode, pada manusia, pada harta, ataua pada apapun. Sandarkan saja semua harapan, doa, dan masalah kita pada Allah yang maha kuasa. Maka keajaiban akan datang.

Insya Allah

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog

#bahagia #happiness #psikologi #autisme #seft
View Post
KESUKSESAN ADALAH BUAH DARI KEBAIKAN YANG DIBIASAKAN

Salah satu amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan dengan rutin. Bukan semata terkait besar kecil atau banyak sedikitnya amalan yang dilakukan, tapi lebih kepada seberapa rutin kita melakukannnya. Dalam ilmu psikologi ini disebut dengan conditioning ( pengkondisian).

Kita sebenarnya bisa mengkondisikan diri kita untuk mencapai impian yang diinginkan. Dengan cara mulai membangun sebuah kebiasaan positif yang terkait dengan  impian tersebut.

Bila impian kita adalah menjadi pembicara publik, maka kita bisa membiasakan diri kita dengan membaca satu dua bab buku setiap hari. Hal ini ketika dilakukan rutin maka akan menambah kapasitas dan kompetensi kita sebagai pembicara.

Bila kita ingin menjadi penghafal alquran, maka kita bisa mulai dengan membiasakan diri kita menambah hafalan one day one ayat, misalnya. Dengan rutinitas ini maka hafalan kita akan bertambah hari ke hari.

Bila kita ingin menjadi ahlul quran, kita bisa membiasakan diri kita membaca one day one juz, sehingga hari-hari kita banyak diisi dengan interaksi bersama alquran.

Bila kita ingin menjadi guru dan orang tua yang disayang, maka kita bisa membiasakan tersenyum dan berwajah ceria setiap bertegur sapa dengan anak kita, sehingga membuat mereka nyaman bersama kita dan merasa dirinya diterima dan berharga.

Tentu untuk membentuk kebiasaan tersebut harus ada usaha dan pengorbanan yang kita berikan. Tak heran para ulama mengatakan bahwa untuk berbuat baik itu HARUS DIPAKSAKAN pada awalnya. Kalau tidak, sampai kiamat pun hanya akan ada di angan-angan saja, hehe. Paksakan, kata para ustad.

Awalnya mungkin kita akan merasa berat, tertatih-tatih, namun seiring waktu tubuh, pikiran, dan perasaan kita akan terkondisi. Bahkan menjadi merasa ada yang kurang bila tidak melakukan rutinitas tersebut. Inilah buah dari kebiasaan positif.

Sehingga Allah pun mengganjarnya bahwa bila seseorang terbiasa berbuat suatu amalan, dan suatu ketika karena suatu hal ia terhalang melakukannya, maka ia sudah mendapat pahala atasnya. Masya Allah

Mudah-mudahan bisa menjadi motivasi buat kita semua untuk terus memaksa diri dalam kebaikan.

Semangat ..

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog
www.positiveconsulting.id
View Post



Tahukah sahabat, siapa wanita yang paling cantik?

Dia adalah wanita yang sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri. Tidak lagi melekat pada sesuatu di luar dirinya, semisal perhiasan, pakaian, kendaraan, jabatan, atau lainnya.

Ia menjadi cantik bukan karena fisik semata, tapi lebih dari itu, yakni karena kebaikan hatinya. Hatinya yang bersih memancarkan energi positif bagi setiap jiwa yang melihat, mendengar, dekat, dan berinteraksi dengannya.

Saat bertemu dengannya, kita merasa nyaman dan betah berlama-lama. Ada pancaran ketulusan dari hatinya yang membuat hati senang berlama-lama di dekatnya.

Saat bertemu dengannya, hati yang sedih, gundah, gelisah, menjadi tenang dan damai. Ia mampu menyalurkan energi positif pada jiwa yang sedang dikelabui energi negatif. Seakan kita mendapat energi baru yang menguatkan saat bersamanya.

Dia yang cantik adalah dia yang mampu membuat orang lain merasa nyaman dengannya. Bukan karena apa yang ia miliki. Tapi karena apa yang ia beri.

Itulah CANTIK yang sesungguhnya.
Kecantikan yang terpancar dari dalam hati. Keluar pancarannya dalam bentuk lisan yang terjaga,  wajah yang ramah penuh senyum, akhlak dan perilakunya yang santun.

Ia tidak berkata-kata, tapi perilakunya, ekspresi wajahnya, gesture tubuhnya membuatnya menjadi begitu mempesona. Ia menjadi cantik karena kebaikan yang ia berikan pada sekelilingnya.

Jadi, sahabat cantik semua. Kita semua adalah wanita yang paling cantik, saat kita bisa menjadikan diri kita bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.

Orang lain tidak melihat kita dari apa yang kita miliki. Tapi mereka melihat kita dari apa yang kita beri. Selama hal yang kita miliki belum memberi arti dan manfaat bagi mereka, maka kita belum berarti baginya. Tapi, saat kita telah memberi maka di situlah kita menjadi seseorang yang ISTIMEWA di hatinya.

Jadilah pribadi yang cantik. Cantik dari hatinya.
Barakallah ❤️

Setuju ?☺️

By: Sukmadiarti, Psikolog
#pengembangandiri
#motivasi
View Post
MENGASAH KECERDASAN EMOSIONAL ORANGTUA, AGAR BISA MENGASUH BUAH HATI DENGAN BAHAGIA

Orangtua, perlu berlatih mengendalikan emosinya. Mengapa berlatih?

Ya, karena menjadi orangtua adalah peran yang baru bagi setiap orangtua.

Bisa di bilang masih gamang menjalaninya pada awalnya.

Emosi senang, bingung ,takut, campur aduk seiring peran itu hadir dalam kehidupan orangtua.

Seiring waktu pula, orangtua belajar dan berlatih mengenali dan mengelola emosinya agar bisa seirama dan nyaman bersama dengan anaknya.

Untuk itulah, penting bagi orangtua memiliki kecerdasan emosional yang baik agar ia mampu menjadi orangtua yang penuh kasih sayang bagi anak-anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya dan juga emosi orang lain.

*Orangtua yang memiliki kecerdasan emosional yang baik artinya ia mampu mengenali emosinya sendiri juga mengenali emosi anaknya.*

Manfaat dari mengenali emosi diri dan orang lain sangat banyak.

Bila orangtua mengenali emosinya sendiri, ia akan tahu dan sadar kapan ia harus diam, dan kapan harus bertindak.

Begitu pula saat orangtua bisa mengenali emosi anaknya, maka orangtua akan mudah menentukan sikap apa yang akan diambilnya untuk merespon anaknya. Orangtua tahu apa kebutuhan anaknya dan bisa cepat merespon dengan tepat kebutuhan anaknya karena ia bisa mengenali emosi anaknya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Sejak anak lahir, kita telah belajar mengenali emosi anak lewat tangisannya.

Ibu, khususnya, akan belajar mengenali tangisan bayinya. Apakah ini tangisan lapar, haus, sakit, ngantuk, kepanasan, kedinginan, takut, atau lainnya.

Ibu yang menyusui bayinya, tentu akan lebih mengenali & memahami kebutuhan anaknya lebih cepat.

Itulah sebabnya, kita dianjurkan untuk menyapih anak diusia 2th. Tujuannya agar ibu dapat lebih mengenali dan memahami buah hatinya, serta bisa membangun kedekatan emosional yang baik (kelekatan) dengan anaknya.

Tujuannya tentu agar semakin baik hubungan dan komunikasi antara orangtua dan anak sejak dini dan seterusnya.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 *Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan berpikir dahulu sebelum bertindak.*

Contoh, ketika melihat anak sedang "bertengkar"  dan ada yant menangis.

Coba kenali dulu emosi orangtua. Apakah orangtua "terpancing emosi" saat melihat kejadian yang tidak nyaman pada anaknya.

Dengarkan detak jantung orangtua. Bila jantung itu berdetak kencang tak beraturan, artinya kita sedang terpancing emosi, karena perilaku anak.

Maka saat menyadari emosi kita tidak stabil, sedang dikuasai amarah, atau sedang tidak terkendali, kita tahu harusnya kita DIAM dulu sebelum bertindak apapun.

Karena, setiap perkataan atau perbuatan yang dilakukan saat diri sedang dikuasai emosi negatif, hasilnya selalu salah.

Untuk itu orangtua perlu menenangkan dirinya lebih dahulu.

Lakukan langkah untuk membuat emosi kembali stabil TERLEBIH DULU sebelum bertindak apapun.

Diantaranya:
❤️ Tarik nafas panjang, lalu buang perlahan, lakukan berulang.
❤️ Diam dan mencari lokasi aman dulu untuk meredakan emosi
❤️ Ubah posisi tubuh senyaman mungkin
❤️ Berwudhu, ademin hati dengan air.

Setelah orangtua tenang, silahkan damaikan situasi yang sedang menegang diantara anak-anak.

Biasanya sih, saat orangtua menyikapi mereka dengan tenang, mereka pun akan segera tenang πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
*Orangtua yang bisa mengenali emosinya akan bertindak bijak dan tidak gegabah. Hasilnya, sikap, lisan, perbuatannya akan terjaga dan bisa memberi solusi dan kenyamanan bagi anaknya.*

*Orangtua yang bisa  mengenali emosi anaknya akan mampu bersikap dan memberi respon yang tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan anaknya, hasilnya anak pun bahagia.*

Ketika melihat anak bertengkar dan menangis, orangtua yang mampu mengenali emosi anaknya akan cepat paham kebutuhan anaknya.

*Orangtua tahu bahwa apapun perilaku anak tidak lain tidak bukan mereka lakukan untuk meraih perhatian orangtua dan ingin mendapat kenyamanan dan perlindungan dari orangtuanya.*

Contoh saat anak menangis, orangtua akan paham dan coba mengenali tangisan anaknya. Apakah perilaku anak yang menangis ini adalah gejala:
πŸ‘ Mengantuk
πŸ‘ Lapar
πŸ‘  Ingin cari perlindungan
πŸ‘Butuh rasa aman
πŸ‘Butuh kenyamanan
πŸ‘Butuh perhatian

Biasanya, anak-anak yang lapar dan ngantuk, akan menjadi lebih mudah terpancing emosinya, maka penting sekali bagi orangtua untuk kebali emosi anaknya.

Kenali makna dibalik perilaku anak.

Bila orangtua cepat mengenali tentu tau apa sikap yang harus di ambil saat ketemu momen yang menggemaskan di rumah.

Tentunya, orangtua akan memberi perlindungan dulu bila ada kondisi yang belum nyaman.

Ingat! Memberi perlindungan. Bukan mengancam apalagi menghakimi salah satu anak atau keduanya.

Jadi orangtua yang bisa mengenali orang lain, dalam hal ini anak, maka ia tahu bahwa anak yang sedang berantem sedang butuh perlindungan dan rasa aman dari orang dewasa yang dianggap bisa mendamaikan mereka yang tengah bertikai.

Bukan justru malah membuat tambah nggak aman πŸ˜‡πŸŒΉ

Jadi kenali emosi orangtua sendiri dan kenali emosi anak.

Anak yang menangis atau berteriak adalah anak yang butuh perlindungan dan rasa aman. Segera berikan kedua hal itu. Hadir di dekat mereka, tenangkan yang menangis, redakan tangisnya tanpa perlu menghakimi anak lain yang dikira membuatnya menangis.

Tidak perlu ada keributan akibat omelan orangtua atau adegan tambahan berupa kekerasan akibat memihak salah satu pihak.

Insya Allah suasana akan segera aman terkendali dan nyaman bagi semuanya.

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
 Bila orangtua mampu mengenali dan mengelola emosinya  dengan baik serta juga mampu mengenali emosi anaknya, maka itu artinya orangtua telah memiliki kecerdasan emosi yang baik.

Semakin baik kecerdasan emosi orangtua maka hubungannya dengan anak-anak pun otomatis semakin baik dan dekat.

Orangtua nyaman dan happy bersama anaknya dan anak pun juga ikut merasa aman dan nyaman bersama orangtuanya.

Ini tentu sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan emosional anak.

Karena emosi bersifat menular. Ibu yang memiliki emosi yang positif akan mampu menularkan emosi positif itu pula pada anaknya.

Jadi, bila orangtua ingin anaknya cerdas emosinya, mampu mengelola amarahnya, baik dan santun sikapnya, maka orangtua harus bisa mencontohkannya lebih dulu pada dirinya dan pada sikapnya ke anak-anak.

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Berbahagialah Bunda, karena diri kita sendirilah yang paling bisa membahagiakan anak-anak kita.

Anak-anak kita tidak menginginkan orangtua yang lain. Mereka menginginkan kita, orangtuanya sendiri.

Apapun kekurangan kita, kesalahan kita, mereka selalu punya ruang yang begitu luas untuk memaafkan dan menerima kita kembali.

Begitu pula hendaknya sebaliknya. Seberapa pun banyak kekurangan dan kesalahan anak-anak kita,  kita harus menerima dan memaafkan mereka sepenuh dan setulus hati kita.

Lapanglah hati kita
Mudahlah memaafkan
Terima anak kita seperti apa adanya mereka
Hadirkan selalu bahagia saat membersamai mereka
Insya Allah mereka akan menjadi anak yang Bahagia dan mampu membahagiakan orangtuanya pula.

🌸 Semakin baik emosi orangtua, semakin baik hubungannya dengan anak, semakin bahagia pula orangtua dalam mengasuh buah hatinya. 🌸

Happy mom, happy life, happy family πŸ˜πŸ˜‡πŸ™πŸ»

By: Sukmadiarti Perangin-angin,M.Psi.,Psikolog

#kecerdasanemosional #parentingschool
View Post