SELALU ADA SOLUSI, SETELAH INTROSPEKSI

By: @sukmadiarti_psikolog


Allah berfirman dalam QS. Ar-rad:11 yang artinya:

"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. *Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.* Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."


✨✨✨


Allah mengingatkan kita bahwa keburukan apapun yang kita dapatkan dalam hidup ini, semuanya sudah atas kehendak Allah. Tidak ada yang bisa menghalanginya.


Saat kita sudah mempersiapkan diri, membuat perencanaan yang matang, namun di tengah jalan ada kesulitan, maka sesungguhnya kesulitan itu adalah kehendak Allah. Sesuatu yang kita yakini datang atas ijin Allah, pastilah ada kebaikan dan pelajaran yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut yang nantinya akan bermanfaat bagi kita.


Lantas, saat kita sudah menerima apa yang menjadi kehendak Allah, apa yang perlu kita lakukan untuk mengubah keadaan/masalah yang sulit tadi?


Allah sampaikan di QS. Ar-rad: 11 tadi bahwa jika kita ingin mengubah keadaan kita yang sedang buruk/bermasalah, maka harus dimulai dengan mengubah diri kita sendiri terlebih dahulu. Jadi masalah yang datang dari luar, bukan diselesaikan dengan mengubah masalah atau pelakunya dulu, tapi jutsru yang lebih dulu di ubah adalah yang ada di dalam diri kita.


Nah, bagaimana cara untuk mengubah apa yang ada dalam diri?

Lakukan introspeksi diri. 


Ustad Luqmanulhakim menyampaikan dalam pemaparannya bahwa "selalu ada solusi, setelah introspeksi diri." Maka, saat ada masalah, yang pertama kita perlu lakukan adalah introspeksi diri. 


Allah tegaskan dalam QS. An-nisaa: 79 bahwa: "Apa saja bencana gang menimpamu, maka itu berasal dari kesalahan dirimu sendiri." Lakukan introspeksi ke dalam diri, apa kiranya kesalahan yang pernah kita perbuat sebelumnya, baik kepada Allah, ataupun kepada makhluknya. Temukan kesalahan-kesalahan diri dan istighfari satu persatu-satu. Fokuskan ke dalam diri. 


Kita bisa lakukan 3 hal untuk melewati masa-masa sulit dalam hidup kita:

1. Jaga Pikiran

Dengan keimanan dan keyakinan bahwa masalah ini pasti bisa kita lewati karena kita yakin Allah tidak membebani hamba-Nya melebih kesanggupannya.


2. Jaga Perasaan

Tenangkan hati dengan mengingat Allah, sebab hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Pastinya saat ada masalah, perasaan kita gelisah, maka cari ketenangan dengan mengingat Allah sebanyak-banyaknya.


3. Jaga Perilaku

Tingkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita. Allah kasih kita teguran karena Allah sayang, rindu, dan ingin bertemu kita. Maka, dekatkan diri kita dengan Allah lewat amal sholeh yang bisa mendatangkan ridho Allah kembali. Bersedekah, sholat taubat, meminta maaf pada orang yang pernah kita sakiti, berbuat baik, mendoakan orang lain yang sedang mengalami masalah yang sama dengan kita, berkonsultasi, dst. 


Dengan langkah-langkah tadi, semoga Allah meridhoi kita. Jika Allah sudah ridho, maka Masya Allah. Allah Maha Kuasa mengangkat kesulitan kita dengan cara yang tidak kita duga-duga. 


Semoga kita bisa memetik pelajaran dalam setiap episode kehidupan yang Allah hadirkan sehingga membuat cinta kita bertambah-tambah kepadaNya. Aamiin


View Post


 

5 JENIS RESPON SAAT MENGHADAPI MASALAH

By: @sukmadiarti_psikolog


Masalah muncul saat ada kesenjangan antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan yang dihadapi. Contoh, kita berharap memiliki tubuh yang sehat, tapi kenyataannya, saat ini sedang sakit. Kita berharap anak mengerjakan tugas sekolahnya, kenyataannya, ia belum juga menyelesaikan tugasnya. Kita berharap bisa mudik, kenyataannya pemerintah tidak mengijinkan mudik. Kita berharap omset dan penghasilan bertambah, kenyataannya justru menurun.


Saat terjadi masalah, ada 5 jenis respon yang umumnya akan kita pilih. Tiap-tiap pilihan respon tersebut, akan mempengaruhi kualitas dan kondisi emosi kita dalam menyikapi masalah yang datang.


Pertama, Menolak (Denial)

Awal ketika masalah itu hadir, umumnya kita akan menolaknya. Tidak terima. Ya Allah, lagi bulan Ramadhan, ingin bisa beribadah maksimal, tapi kok ya tubuh sakit. Ya Allah, anak udah disekolahin, tapi kok belum memgerjakan tugasnya. Ya Allah, udah dua tahun belum mudik, kok ya sekarang niat mudik dilarang. Reaksi pertama kita, umumnya menolak. Tapi reaksi ini ternyata membuat perasaan kita jadi tidak nyaman.


Kedua, Marah (Anger)

Penolakan yang kita pilih di awal, akhirnya membuat perasaan kita jadi tidak nyaman. Muncullah rasa marah. Marah kepada diri sendiri, kok gak bisa jaga kesehatan, kok kurang tegas mengarahkan anak mengerjakan tugas, kok gak mudik dari sebelum-sebelumnya saja, kok gak berusaha lebih keras, dst. Tidak hanya marah pada diri sendiri, kita pun akhirnya bisa marah ke orang lain yang kita anggap berkontribusi sebagai penyebab datangnya masalah. Marah ke orang lain yang tidak pakai masker, marah ke anak yang menunda-nunda mengerjakan tugas, marah ke pemerintah, ke pelanggan, dst. Reaksi kemarahan ini, ternyata beum juga membuat perasaan kita jadi nyaman.


Ketiga, Tawar Menawar (Bargaining)

Kita pun mulai berandai-andai. Andai saja saya kemarin tidak pergi ke tempat kerumunan, andai saja guru anak tidak banyak memberi tugas, andai saja saya tinggalnya gak jauh dari orangtua, andai saja saya punya penghasilan tetap, dst. Kita mulai tawar menawar, jika, jika. Tapi ternyata, masalahnya sudah terjadi, dan kita tidak bisa kembali memutar waktu. Sehingga, pilihan berandai-andai tadi, tetap belum bisa membuat perasaan menjadi tenang. Justru terkadang malah membuat jadi semakin bersalah dan menyesal.


Keempat, Depresi

Terus memikirkan mengapa masalahnya datang, menyalahan dan marah pada penyebabnya, dan berandai-andai bisa memutar waktu, akhirnya membuat pikiran semakin kusut, hingga depresi. Putus asa. Tidak lagi bersemangat. Merasa seakan semua keadaan afau masalah ini adalah akhir dari segalanya, tidak bisa berubah lagi. Jadi perasaan pun semakin terpuruk.


Kelima, menerima (Acceptance)

Barulah, titik saat kita bisa menerima masalah yang datang dengan sukarela, hati pun terasa lapang. Saat kita bisa menerima, kita tidak lagi menyalahkan siapapun. Menerima artinya kita mengambil tanggung jawab penuh atas masalah yang sedang dihadapi. Dengan menerima ini pula, maka pikiran pun akan semakin terbuka untik solusi dan jalan keluarnya. Tidak lagi membesar-besarkan masalahnya seperti di fase-fase sebelumnya. Menerima juga akan membuat perasaan kita jadi tenang, sehingga solusi pun menjadi semakin terang.


Bila kita sudah pahami, step by step dari penerimaan masalah tadi, maka kini, ketika masalah datang, kita bisa mempercepat prosesnya dengan menerima masalah yang datang dengan rasa syukur. Alhamdulillah. 


Masalah yang datang pasti sudah sesuai kapasitas kita untuk menerimanya. Saat kita meragukan diri kita dan menolaknya, masalah justru terasa leboh berat. Maka, terima dulu masalahnya, lalu pasrahkan (libatkan Allah) untuk membantu kita dalam penyelesaiannya. Menyelesaikan masalah seorang diri tentu saja kita tidak kuat. Kita boleh meminta bantuan profesioanal, dan tidak putus meminta pertolongan Allah, agar jalan yang dilalui dalam proses melewati masalahnya bisa semakin terang. 


Semoga Bermanfaat

#saattenang

#solusidatang


Bagaimana menurut teman-teman?


View Post

 

*TEKNIK CRAFT DALAM PARENTING*
By: Sukmadiarti_Psikolog

CRAFT Adalah singkatan dari Cancel, Replace, Affirmation, Focus, dan Train. Teknik ini dikembangkan oleh Dr. Maxwell dengan tujuan untuk memperbaiki citra diri seseorang. Teknik ini bisa pula kita gunakan dalam mencapai tujuan maupun memperbaiki hubungan sosial.

Kita bisa terapkan teknik ini dalam parenting. Untuk memperbaiki citra diri kita sebagai orangtua dalam pengasuhan buah hati.

CANCEL
Hapus self talk negatif dan penilaian buruk kita terhadap anak maupun diri kita sebagai orangtua.

"Anak saya susah bergaul. Kalau jumpa orang baru, dia menghindar."

"Saya mudah marah saat mendampingi anak belajar."

Bila selama ini, kita tanpa sadar sering melabel negatif diri sendiri maupun anak, maka sadri, lalu cancel dan hapuslah label itu sekarang.

REPLACE
Ganti self talk negatif yang terlanjur kita sematkan tadi pada diri maupun anak kita selama ini. Ubah menjadi self talk yang lebih positif dan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

"Anak saya butuh waktu untuk bersosialisasi dengan orang baru."

"Saya, ibu yang sabar dan tenang dalam mendampingi anak belajar."

Ulang-ulangi self talk positif itu agar bisa mereplace self talk negatif yang sebelumnya dan agar bisa lebih tertanam ke dalam pikiran bawah sadar kita.

AFFIRM

Perkuat self talk positif yang baru kita tanam dan setting tadi dengan menambahkan gabar afirmasi yang sesuai.

Kita bisa tempelkan dan ingat momen-momen dimana anak kita bisa bergaul dan mudah akrab dengan teman maupun keluarga dan ponakan. 

Kita bisa tempel juga foto di momen kita begitu sabar, hangat, dan tenang membersamai anak-anak. 

Afirmasi ini akan membuat perasaan positif kita hidup dan bangkit sehingga memudahkan kita brrpikir bahawa sebenarnya anak maupun diri kita tidak seburuk penilaian kita sebelumnya.

FOCUS
Fokuskan perhatian kita pada harapan dan impian baik tadi. Bahwa kita ingin anak bisa bergaul dengan hangat kepada teman maupun orang baru yang ditemuinya dengan percaya diri. 

Fokuskan pula diri kita untuk berlatih dan belajar cara yang perlu kita lakukan untuk bisa lebih sabar dan tenang membersamai anak-anak. 

Fokuskan energi kita pada upaya perbaikan.  Bisa dengan belajar, baca buku, dan ikut seminar yang terkait dengan tujuan kita.

TRAIN
Latih terus diri kita mempraktekkan ilmu yang sudah di dapat.

 Ulangi secara rutin penginstalan self talk positif tadi ke dalam diri setiap bangun tidur maupun saat mau tidur agar semakin tertanam.

Latih terus diri kita tetap tenang, sabar, bahagia saat membersamai anak-anak.

Bila ada kesalahan, evaluasi diri lagi, dan perbaiki lagi, lakukan terus.

Insya Allah, perubahan baik akan terjadi. Kita akan menjadi pribadi yang berbeda begitu pula dengan anak kita.

Selamat Praktek ๐Ÿ˜‡๐Ÿ™๐Ÿป
WA 081362359651

Informasi

Untuk memaksimalkan kesuksesan orangtua dalam pengasuhan dan manajemen emosi, kami memfasilitasi kegiatan webinar parenting:

MANAJEMEN EMOSI ORANG TUA

Bersama
✨Bunda Sukma
Psikolog, Konsultan Keluarga, dan Praktisi SEFT

dan

✨ dr. Vebry
Dosen dan Praktisi Kesehatan

Kita akan berdiskusi tentang:

✅ Cara Berdamai dengan Inner Child
✅ Powerfull Love dengan mengoptimalkan Lima Bahasa Cinta
✅ Komunikasi Emoatik Orangtua dan Anak
✅Loving Kindness Therapy
✅ Menjaga Kesehatan Anak Selama PJJ

Acara webinar ini akan diadakan secara online via zoom meeting, selama 3 hari pada:

Day 1 : senin, 27 maret,
Day 2 : rabu, 31 maret,
Day 3 : 2 April

Pukul: 19.30 sd selesai

Full Praktek n Bonus Terapi Emosi

HTM
๐Ÿ’ŽEarly bird (s/d 22 Maret) : Rp. 120.000
๐Ÿ’ŽNormal : 150.000

Pendaftarannya ke:
Http://wa.me/6287871947906

Sampai Jumpa

Informasi ini boleh di share ke teman dan keluarga ya ๐Ÿ˜‡

View Post



TEKNIK 5 WHY UNTUK MENGGALI AKAR MASALAH


Masalah adalah suatu kondisi dimana terjadi kesenjangan antara apa yang kita harapkan dengan kenyataan yang diterima.


Contoh, orangtua merasa ada masalah dalam hubungannya dengan anaknya. Ia berharap anaknya mengikuti dan mengerjakan tugas sekolah dengan tertib dan tepat waktu. Kenyataannya, anaknya sering telat masuk kelas zoom dan terlambat dalam mengumpulkan tugas. 


Dalam kondisi bermasalah, tak jarang kita mencari kambing hitam. Mencari objek yang bisa kita salahkan.  Padahal, yang awalnya merasa bermasalah adalah diri kita sendiri. 


Jack Canfield mengatakan bahwa untuk bisa sukses dalam kehidupan ini, kita harus mengambil tanggung jawab 100% atas kehidupan yang kita jalani, termasuk kesehatan, keuangan, pikiran, perasaan, dan tindakan kita, semuanya! Tidak lagi mengeluh dan menyalahkan orang lain atas masalah yang sedang kita hadapi, termasuk ke diri kita sendiri.


Untuk itu, kita bisa menggunakan "Teknik 5 Why" yang dikembangkan oleh Sakichi Toyoda (pendiri Toyota) untuk menemukan akar masalah yang sebenarnya kita alami. Caranya adalah dengan kita bertanya pada diri kita sendiri tentang masalah kita. Lalu, jawaban pertanyaan why pertama, dijadikan pertanyaan untuk why kedua, begitu seterusny sampai 5 kali why.


Kita ambil contoh sesuai kasus di awal cerita tadi. 


1.

Mengapa kamu merasa sedang ada masalah? 

Anak saya tidak mengerjakan tugas tepat waktu.


2. 

Mengapa anak kamu tidak mengerjakan tugas tepat waktu?

Karena ia asyik menonton, bermain game, dan menunda-nunda mengerjakan tugasnya.


3. Mengapa anak kamu menunda-nunda tugasnya dan asyik bermain?

Karena saya belum membuat dan mengatur waktu belajar dan bermain mereka.


4. Mengapa kamu belum membuat dan mengatur waktu belajar dan bermain anak-anak?

Karena saya masih sibuk mengurusi pekerjaan dan aktivitas saya sendiri.


5. Mengapa kamu masih sibuk dengan pekerjaanmu sehingga belum mengatur kegiatan anak-anak?

Karena saya belum menjadikan mereka sebagai prioritas.


Lihat, ya. Betapa akhirnya kita jadi bisa menemukan akar masalah yang sebenarnya. Yang awalnya kita merasa sumber masalahnya berasal dari luar diri, ternyata justru ada di dalam diri kita sendiri.


Inilah pentingnya kita mengenali terlebih dahulu, apa sebenarnya permasalahan kita. Bila kita sudah bisa menemukan akar masalahnya, maka akan lebih mudah kita untuk mencari jalan keluar penyelesaiannya.


Dalam konteks masalah di contoh tadi, maka jalan keluar dari masalahnya adalah menjadikan anak sebagai prioritas orangtua. Ini artinya, orangtua perlu  melakukan perencanaan untuk mengatur waktunya mendampingi anak belajar dan membuat aturan pembagan waktu untuk anak belajar dan bermain.


Maka dengan begitu, harapan orangtua agar anaknya bisa mengerjakan tugas tepat waktu akan lebih mudah untuk terpenuhi. Masalah pun terselesaikan dengan baik.


Teknik ini bisa teman-teman praktekkan pula untuk konteks masalah lainnya, baik di pekerjaan, pernikahan, bisnis, atau lainnya.


Selamat Praktek

Semoga Bermanfaat


By: @sukmadiarti_psikolog


Nb. KONSULTASI N KERJASAMA Pelatihan dan Seminar

WA 081362359651

View Post

 

SELF LOVE FOR PARENTS


"Menerima diri kita apa adanya berarti menghargai ketidaksempurnaan kita sama seperti menghargai kesempurnaan kita.” 

– Sandra Bierig


Adakalanya, sebagai orangtua kita merasa bersalah dan sedih karena belum maksimal mengasuh dan mendampingi anak belajar. Perasaan bersalah itu lantas membuat kita menjadi semakin lemah dan  tidak berdaya. Tanpa disadari, ketidakberdayaan itu membuat kita jadi mudah menyalahkan pasangan, lingkungan, bahkan anak.


It's oke to not be ok. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pasti memiliki kekurangan dan keterbatasan, termasuk dalam pengasuhan dan pendampingan anak-anak belajar. Tapi sadarilah, pastinya dalam keterbatasan yang ada, kita sudah memberikan dan mengupayakan yang terbaik yang kita bisa untuk anak-anak.


Meskipun anak-anak saat ini kondisinya belum benar-benar sesuai harapan kita, belajarnya belum mandiri, masih butuh pendampingan, mengerjakan tugas masih butuh ditemani dan dimotivasi, padahal kita ingin mereka bisa mandiri dan disiplin, terimalah. Terima kondisi yang ada dengan lapang hati.


Meskipun diri kita sebagai orangtua masih sangat terbatas waktu dan tenaganya mendampingi anak-anak belajar, padahal kita ingin bisa lebih banyak waktu dan kesungguhan menemani mereka, terimalah. Terima kondisi itu dengan lapang hati. 


Penerimaan kita atas ketidaksempurnaan diri kita, pasangan maupun anak akan melepas ganjalan emosi rasa bersalah, sedih, kecewa yang menghantui hati selama ini. Ya, jalan satu-satunya untuk berdamai dengan diri sendiri dan lingkungan adalah dengan ikhlas menerima kondisi yang ada.


Saat kita sudah ikhlas menerima kekurangan dan ketidaksempurnaan kita, maka tanpa terasa hati yang sesak menjadi longgar kembali. Di titik inilah, dimana kita sudah merasa tenang menghadapi kondisi yang ada maka solusi dan kemudahan pun akan terbuka. Anak menjadi semakin mudah diarahkan, kita pun jadi lebih senang hati menemani dan mengarahkan anak-anak belajar. Energi yang terpancar pun didominasi cinta, ketulusan dan kasih sayang. 


Anak kita merasakan pancaran emosi yang kita rasakan. Bila emosi kita didominasi marah, kesal, kecewa, rasa bersalah, mereka pun tidak nyaman dan enggan menyambut ajakan kita. Sebaliknya, saat emosi dan energi yang kita pancarkan sudah berubah menjadi energi cinta dan keridhoan, buktikanlah bahwa anak-anak akan lebih menyejukkan hati dan mudah mengikuti apa yang orangtua arahkan. 


Mulai saat ini, mari berdamai dengan diri kita sendiri agar lebih mudah bagi kita berdamai dengan anak maupun lingkungan.  Terima kekurangan dan keterbatasan diri kita selama ini. Dan tak lupa, apresiasilah semua upaya yang telah kita lakukan selama ini. 


Sambil memejamkan mata dan memeluk diri kita sendiri (dengan menyilangkan kedua tangan ke punggung),  ucapkan kalimat self love ke dalam diri:


"Wahai diriku, maafkan aku, ya. Bila selama ini membuat kamu merasa bersalah. Terima kasih, ya. Kamu sudah berusaha dan memberikan yang terbaik yang kamu bisa untuk mendampingi dan mengarahkan anak-anak belajar. Meski dalam keterbatasan dan kondisi yang ada belum benar-benar sesuai harapan, aku bangga padamu, kamu sudah berusaha. Makasi, ya. Kamu orangtua, ibu, ayah, yang hebat, sabar, lembut, penuh cinta dan kasih sayang pada anak-anak. I love you."


Selain pada diri sendiri, berikan pula ungkapan kalimat cinta dan apresiasi itu kepada pasangan maupun anak-anak kita. Pastinya, dalam keterbatasan mereka, mereka pun telah berupaya semampunya. 


"Wahai anakku, terima kasih, ya. Ayah, Ibu, bangga padamu. Kamu sudah mau berusaha. Meskipun kondisi belajar saat ini berbeda, namun kamu mau berusaha dan menyesuaikan diri. Kamu anak yang hebat. Ayah Ibu sayang padamu."


Selamat Praktek

Semoga Bermanfaat ๐Ÿ˜‡


By: Sukmadiarti Perangin-angin, M.Psi,.,Psikolog 

Nb. Konsultasi Keluarga 

Wa 081362359651

#parentingschool #selflove #pengasuhananak

View Post

 



Bermasalah yang sebenarnya itu adalah ketika kita mengira bahwa penyebab dari masalah kita adalah orang atau kejadian di luar kita. Saat kita merasa menjadi korban, disitulah letak masalah kita sehingga kita jadi bermasalah.


Bermasalah seperti apa? Karena akhirnya kita jadi keliru dalam menyikapi masalah yang ada. Sebab kita masih berpikir bahwa orang lainlah penyebab kita jadi bermasalah. 



Mari kita sejenak merenung dan menyadari. Sejatinya, masalah yang kita hadapi bukanlah semata karena kesalahan yang orang lain lakukan pada kita. Tapi karena memang Allah kehendaki itu terjadi untuk kita. Pelaku atau kejadian-kejadian yang menyertainya hanyalah perantara Allah saja yang berperan sebagai pengirim pesan untuk kita baca dan sadari.


Misal, saat kita menghadapi masalah dengan anak, pasangan, pekerjaan atau kesehatan. Sepintas kita akan menyalahkan  dan menjadi kecewa karena masalah yang timbul. Perasaan kita jadi tak nyaman.


Beda halnya saat kita berusaha menerima semua masalah itu dan menjalaninya dengan ridho, karena meyakini bahwa semua ini Allah yang ijinkan terjadi. Semua permasalahan tadi akhirnya menjadi lebih ringan dihadapi. 


Mengubah sudut pandang kita atas masalah akan mampu membuat perasaan kita saat menghadapi masalah itu pun akan berubah seketika. Yang awalnya kecewa, sedih, putus asa, bisa berganti menjadi rasa tenang dan  syukur yang mendalam. 


Sebagaimana saat tubuh kita sedang sakit, dokter memberikan kita obat yang pahit agar kondisi kita bisa pulih kembali. Begitu pula halnya Allah, ketika jiwa, hati kita sakit, Allah berikan kita obat yang pahit, yakni masalah-masalah, untuk mendetoks kembali hati kita, menggugurkan dosa kita yang lalu, dan memurnikan lagi cinta kita padaNya. 


Maka bersyukurlah kita atas masalah yang tengah kita hadapi, karena semua itu adalah bentuk kasih sayang Allah. Sebagaimana kita berterima kasih pada dokter yang memberi kita obat pahit sekalipun karena tahu dan sadar betul bahwa  obat yang pahit itu baik untuk tubuh kita.


Nikmati sajian obat yang Allah berikan pada kita dengan hati yang tenang, lapang dan penuh keridhoan. Masalah pun tak lagi jadi masalah saat hati kita ridho menjalani dan senantiasa berserah diri sepenuhnya kepadaNya.


Ucapkan, alhamdulillah ๐Ÿ˜‡


Nb. Layanan Konseling Online

Wa 081362359651

#berdamaidenganmasalah

#happycounseling

View Post

 



DARING GAK BIKIN PUSING

By: @Sukmadiarti_Psikolog

Pusing terjadi saat kita merasa berat menjalani suatu peran dan tugas yang menyertainya. Di masa pandemi ini, orangtua mendapat tugas lebih untuk mendampingi dan memastikan anak-anak ikut belajar daring.


Tentu saja tidak kita pungkiri bahwa situasi ini tidaklah mudah. Tugas-tugas dalam negeri (rumah tangga) saja terkadang sudah menyita energi. Belum lagi kalau orangtua juga punya tugas luar negeri (bekerja di luar rumah), pulang kerja masih harus mendampingi. Nikmaaat.


Namun bagaimana pun, situasi pandemi saat ini tentu bukanlah pilihan kita. Tidak ada yang menginginkan dan menyangkan pandemi ini akan datang. Tidak ada pula yang tahu kapan pandemi ini akan berpulang.


Maka saat kita menghadapi sesuatu yang berada di luar kontrol kita, apa yang bisa kita lakukan? Respon apa yang perlu kita pilih? Agar meskipun pandemi, kita bisa tetap happy menjalani.



Ada rumus 3T yang bisa kita jadikan sebagai pilihan dalam merespon situasi ini:


1. TERIMA


Pertama, terima pandemi ini beserta semua yang terkait dengannya. Termasuk didalamnya, tugas pendampingan belajar daring anak-anak.


Bisa jadi ada diantara kita yang awalnya merasa terbebani dengan tugas ini, sehingga jadi pusing bahkan darting, sampai-sampai sulit positive thinking. 


Supaya kondisi psikologis kita jadi berubah, maka kita pun harus mengubah pilihan respon kita, dari merasa terbebani diubah menjadi menerima dengan  sepenuh hati. 


"Ya Allah, saya terima kondisi ini dengan ikhlas."


Sebab mรจmang bukan kita yang mau, tapi Allah kehendaki ini terjadi, maka suka tidak suka, mau tidak mau, kita harus menerima dengan ikhlas apapun yang menjadi ketetapanNya agar hati kita menjadi lapang dan bahagia. Pusing dan darting pun hilang.



2. TENANG


Ada masanya dimana kita merasa jenuh, perasaan lagi gak kondusif, tapi perlu tetap mendampingi anak belajar. Saat di kondisi ini, anak kemudian "menggoda" dengan sikap yang juga tidak kondusif untuk belajar, misal malas-malasan, menolak, menunda-nunda, atau mungkin tantrum, tetaplah tenang. 


Walau memang, emosi itu menular ya. Tapi kita yang dewasa perlu untuk bisa memenangkan pertandingan dengan cara tetap tenang hadapi lawan hingga sampai ke tujuan, yakni belajar daring sampai ending.


Kalau kita terpancing marah, maka kita bisa kalah dan akhirnya menyerah. Belajar pun jadi tidak lagi mengasyikkan. 


Maka tetaplah tenang menghadapi apapun polah anak. Gimana caranya? Bisa melakukan dua pilihan sikap berikut:


*Smile*. 

Tersenyum. Senyum hadapi sikap anak. Senyum mampu mengendorkan otot-otot wajah kita yang sempat terpengaruh atas sikap anak yang memancing emosi. Senyuuuum.



*Atur Nafas*

Tarik nafas panjang, tahan sejenak, lalu hembuskan lewat mulut secara perlahan. Lakukan cara ini minimal 3x sampai terasa gejolak emosi di hati menjadi lebih terkendali. 


Kondisi tenang membuat kita bisa mengkondisikan agar kegiatan daring berhenti setelah selesai.  Kita juga anak jadi terbiasa bekerja dan belajar sampai tuntas. 


Selain itu, kondisi emosi saat belajar yang tenang dan bahagia akan jauh lebih memudahkan anak menerima informasi pembelajaran yang disampaikan. Tenang.



3. TEKUNI


Konsistensi menjadi hal penting yang perlu kita biasakan dalam proses belajar daring ini. Seperti halnya anak belajar di sekolah, ada aturan, ada jawdal yang konsisten dilakukan. 


Begitu juga hendaknya kita di rumah. Ada jadwal tetap kapan jam anak belajar, sehingga ritme ini nantinya akan membentuk kebiasaan yang positif bagi anak juga orangtua.


Selain itu, dengan menekuni jadwal ini kita juga bisa merasa lebih happy. Karena pada akhirnya kita jadi belajar mengkondisikan hal-hal lain diluar belajsr daring sehingga  bisa fokus hadir penuh di jadwal tersebut. 


Fokus menjaga perhatian, pikiran, perasaan, dan fisik kita saat mendampingi anak daring akan membuat energi kita jauh lebih positif.


Tekuni dan semakin hari kita akan jadi semakin ahli dan menikmati. Semakin tahu  dan bisa mengenali diri juga anak kita. Perasaan pun jadi happy.


Dengan kunci 3T ini mudah-mudahan daring tak lagi biking pusing.


Terima, Tenang, dan Tekuni

Belajar Daring Gak Lagi Biking Pusing


❤️❤️❤️

View Post